Berita Daerah

Masyarakat Keluhkan Pamsimas Tiga Desa

269
×

Masyarakat Keluhkan Pamsimas Tiga Desa

Sebarkan artikel ini
IMG-20180207-WA0120
pemkab muba pemkab muba

Masyarakat Keluhkan Pamsimas Tiga Desa *Air Berbau dan Kadangkala tak Mengalir

EMPAT LAWANG I Pelaksanaan Program Nasional Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) tiga desa di Kecamatan Sikap Dalam, yakni Desa Karang Dapo Baru, Karang Gede dan Paduraksa menuai protes warga. Pasalnya, kualitas air yang dihasilkan kurang bagus, terkadang air sedikit berbau dan kuantitas air yang terkadang terhenti, tidak bisa sepenuhnya tersuplai ke masyarakat pengguna. Hal ini lantaran diduga akibat bendungan/bak sadapnya yang terkesan asal jadi.

Warga merasa kecewa dengan pelaksanaan salah satu program yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia dengan dukungan Bank Dunia tahun 2017 ini, karena hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Padahal dana pengerjaanya tidak sedikit, Rp 1 Milyar lebih ditambah dengan dana desa.

“Program yang dialokasikan untuk wilayah perdesaan dan pinggiran kota ini untuk masyarakat. Namun, nyatanya program ini tidak bisa sepenuhnya dinikmati masyarakat,”ungkap sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan, Rabu (7/2).

Program Pamsimas  bertujuan untuk meningkatkan jumlah fasilitas pada warga masyarakat kurang terlayani termasuk masyarakat berpendapatan rendah di wilayah perdesaan tidak berjalan sesuai dengan tujuannya, karena pembangunan bak sadap yang dibangun di aliran sumber air Ngeris diduga asal jadi. Akibatnya, debit air yang dialirkan tidak maksimal, serta airnya kotor bahkan berbau.

“Bagaimana tidak, pengerjaannya asal jadi, bendungan menggunakan terpal, sehingga bendungan tidak berfungsi normal, dimana bendungan yang tidak dilantai, menyebabkan air tidak masuk ke bendungan. Di sisi lain, bak tidak dipasang tutup, sehingga banyak sampah yang masuk, membuat air menjadi kotor,” paparnya.

Padahal, lanjutnya dengan  Pamsimas, diharapkan masyarakat dapat mengakses pelayanan air minum dan sanitasi yang berkelanjutan serta meningkatkan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Dampak dari tidak bersihnya aliran air yang dialirkan dari aliran air Ngeris yang jaraknya lebih kurang 7 Km dari desa, tentunya tidak baik bagi kesehatan.

“Bak penyaring seharusnyo cor beton bertulang, tapi yang ada di lapangan cuma pakai tulang pojok dan susunan batu kali bukan cor bertulang,” jelasnya.

Lebih lanjut dia berharap, agar kondisi ini ditindaklanjuti oleh instansi terkait, bila perlu turun ke lapangan untuk melihat kondisi sebenarnya. Dengan kondisi bangunan seperti ini, adanya dugaan pengerjaan tidak sesuai dengan RAB.

“Instansi terkait harus mengkaji kembali ataupun turun ke lapangan agar mengetahui kondisi sebenarnya. Jangan sampai pengerjaan ini dijadikan oleh pihak tertentu untuk meraih keuntungan semata,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas PUPR, Syarkowi Rasyid melalui Sekretaris, Mauludin yang membidangi Pamsimas, mengatakan pengerjaannya sudah sesuai dengan teknisnya, dimana air dialirkan ke rumah-rumah warga maksimal 10 rumah per-desa-nya. Begitu juga bak penampungan telah dibangun di desa, sehingga aliran air sesuai dengan peruntukannya.

“Memang sudah nyampai ke kita, bahkan kami sudah turun ke lokasi. Tidak ada kendala lagi, karena pengerjaannya sudah sesuai dengan tujuannya. Insya Allah, kami tidak bermain, karena memang dananya dikucurkan ke masing-masing kelompok kerja (Pokja),” katanya.(Ridi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *