Berita Daerah

Keluarga Pasien Keluhkan Kekosongan Benang Jahit Luka di RSUD Kayuagung

195
×

Keluarga Pasien Keluhkan Kekosongan Benang Jahit Luka di RSUD Kayuagung

Sebarkan artikel ini
pemkab muba pemkab muba

Keluarga Pasien Keluhkan Kekosongan Benang Jahit Luka di RSUD Kayuagung KAYUAGUNG I Sejumlah keluarga pasien RSUD Kayuagung, terutama pasien rawat jalan di Unit Gawat Darurat (UGD) sejak dua pekan terakhir ini mengeluhkan kekosongan persediaan benang jahit luka atau benang kosmetik.

Akibatnya, keluarga pasien harus memakan waktu lama berkeliling mencari benang jahit luka ke beberapa apotik yang ada di Kayuagung.

Informasi yang dihimpun dilapangan, keluhan pasien terkait tidak adanya persediaan benang kosmetik untuk luka sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Bahkan kejadian atas keluhan pasien itu berulang-ulang.

Bun, salah satu keluarga pasien yang belum lama ini masuk UGD lantaran kepala bagian kanan mengalami luka robek menuturkan bahwa dirinya disarankan petugas medis untuk membeli benang jahit luka di salah satu apotik Kayuagung.

Dia melanjutkan petugas medis RUD Kayuagung beralasan kalau persediaan benang kosmetik di RSUD tidak ada.

“Salah satu keluarga saya terjatuh sehingga kepala bagian kanan mengalami luka robet dan luka itu harus dijahit. Karena tidak ada, makanya disarankan untuk membeli benang kosmetik di luar RSUD,” kata Bun didampingi Da, Selasa (14/3).

Menurut dia, kekosongan benang jahit luka sebenarnya tidak perlu terjadi. Sebab, keberadaan benang jahit luka sangat urgent dan diperlukan ketika ada pasien mengalami luka robek cukup serius.

Dalam hal ini, masih kata dia, seharusnya manajemen RSUD Kayuagung dapat mengalokasikan stok cukup di UGD sehingga tidak memberatkan keluarga pasien mencari apa saja yang dibutuhkan ketika dalam masa pengobatan pertama.

“Aneh saja, masak benang jahit untuk luka saja tidak ada. Kami khawatir saja, ketika keluarga pasien keliling mencari benang jahit luka, disisi lain pasien justru akan alami pendarahan kalau ditinggal lama. Memang harganya cukup tinggi sekitar Rp250.000. Tapi, harusnya RSUD dapat menyediakannya,” jelasnya.

Dia berharap manajemen RSUD Kayuagung perlahan berbenah meningkatkan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat, termasuk dalam hal penunjang obat-obatan.

“Ya, pelayanan yang diberikan harus diutamakan. Jelas, semua keperluan di UGD harus disediakan. Harusnya apa yang diberikan itu harus berbanding lurus dengan insentif yang diberikan pemerintah kepada semua jajaran manajemen RSUD Kayuagung,” ucapnya.

Dia menuding manajemen RSUD Kayuagung bermain mata dengan sejumlah apotik dengan menunjuk apotik tertentu dalam penyediaan benang jahit luka.

Menyikapi keluhan tersebut, Kabid Pelayanan Medik RSUD Kayuagung, H Herman menambahkan sebenarnya benang kosmetik tidak termasuk dalam pelayanan kesehatan yang dijamin BPJS. Tapi kalau untuk benang biasa yang kemungkinan besar meninggalkan bekas tetap ada di RSUD.

“Ada 14 pelayanan yang tidak termasuk dalam jaminan BPJS, termasuk benang kosmetik. Bisa saja benang kosmetik dialokasikan dan itu tidak menjadi masalah,” tuturnya.

Dia mengklaim tidak mengalokasikan benang kosmetik karena menginggat harga benang kosmetik itu relatif tinggi berkisar Rp250.000-Rp300.000 dalam satu kali pakai.

“Pernah kejadian, keluarga pasien marah-marah karena besarnya tagihan pengobatan karena ada didalamnya pembelian benang jahit luka capai Rp250.000. Untuk menghindari persepsi itu, makanya sekarang keluarga pasien disarankan membeli saja bahannya di apotik. Ya, kalau sudah digunakan tidak bisa dimanfaatkan lagi,” jelasnya.

Terkait soal tudingan adanya permainan manajemen RSUD dengan apotik dalam penyediaan benang kosmetik, pihaknya tidak bisa bicara banyak dan perihal itu dapat ditanyakan langsung dengan Dirut RSUD Kayuagung. (Romi Maradona)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *