oleh

Hijrah “Cermin” Bagi Peradaban Indonesia

Oleh: Salim Saputra, M.Pd.I 

(Dosen Universitas Riau Kepulauan Batam)

Berjuang menegakkan kalimat tauhid bukan perkara mudah bagi Muhammad SAW. Ketika ia dinobatkan sebagai Rasul, sangat banyak halangan dan rintangan yang dilalui; caci maki, penindasan, pengusiran, hingga rencana pembunuhan dari Kafir Quraisy terhadap dirinya dan pengikutnya.

Demi menjaga stabilitas dakwah dan menjaga bagi Rasul dan pengikutnya, pada Bulan Rajab tahun ke-5 setelah kenabian, Rasulullah SAW mengarahkan Usman bin Affan sebagai pimpinan untuk berhijrah bersama 12 orang lelaki dan seorang perempuan ke Habasyah. Daerah ini kemudian dikenal sebagai Ethiopia; ujung Utara Afrika.  Sikap bijak, Raja Ashamah An-Najasyi yang memimpin daerah itu, menjadi salah satu alasan bagi  Rasul dan pengikutnya hijrah ke daerah itu.

Namun demikian, proses dakwah di Makkah tetap berlangsung. Secara perlahan, pengikut Rasul kian bertambah. Tetapi kian banyaknya pengikut Rasul tak menyurutkan kaum Kafir Quraisy melakukan tekanan dan menghalangi dakwah Rasul, yang ingin menegakkan kalimat tauhid dan menghapus budaya jahiliyah.

Di tengah perjuangan yang memerlukan support moral, Rasullullah SAW ditimpa musibah. Pada Bulan Rajab tahun ke-10 kenabian, Muhammad bin Abdullah harus menerima ujian berat. Rasul terpaksa merelakan kepergian Abu Tholib, paman kandungnya untuk selama-lamanya. Seorang paman telah mendukung dakwahnya, selalu melindungi dari segala ancaman dari tekanan Kafir Quraisy, harus berpulang ke pangkuan Alah SWT.

Belum lagi hilang kesedihannya, tiga bulan kemudian Rasulullah SAW kembali didera peristiwa yang teramat sangat memukul batinnya. Sayyidah Khadijah, istri tercintanya, orang yang pertama mengakui secara langsung kenabiannya dan selalu berkorban untuk segalanya demi dakwah yang mulia, kali itu harus dipanggil Allah SWT.

Lengkap sudah deretan kepedihan yang dialami Rasulullah SAW ketika itu. Akibat suasana yang pedih inilah, pada tahun itu dikenal sebagai amul huzni (tahun duka cita). 

Meski pada posisi kedukaan mendalam, Rasul dan pengikutnya tetap berdakwah. Namun, sejak meninggalnya kedua orang yang dicintainya, Abu Jahal, paman Rasul kian melakukan intimidasi terhadap Rasul dan pengikutnya.

Hingga pada tahun ke-13 kenabian, serangan dan tekanan terhadap Rasul dan pengikutnya tak pernah surut. Serangan musuh semakin membabi buta. Namun penduduk Makkah tak menyerah dengan berbagai serangan Kafir Quraisy.

Tidak ada kata putus asa bagi Rasul dan pengikutnya. Upaya memohon kepada Allah SWT terus dilakukan, agar bisa keluar dari tekanan Kafir Quraisy. Hingga akhirnya pada Bulan Syawal, Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk hijrah ke Thaif bersama Zaid bin Haritsah.

Proses hijrah kaum muslimin dari Makkah dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Hal ini dilakukan untuk mengindari kemungkinan serangan Kafir Quraysi. Hijrah pun dilakukan secara bertahap menuju Yatsrib yang kini dikenal dengan Madinah, sebuah kota yang berjarak sekitar 400 km dari Makkah. 

Tak ayal, hijrahnya kaum muslimin membuat geram Kafir Quraisy. Akibat kekesalannya inilah, Kafir Quraisy bersepakat mengepung rumah Rasul. Sejumlah pembesar Kafir Quraisy malam itu bersiap dengan pedang terhunus hendak menghabisi Rasulullah SAW.

Namun takdir berkata lain. Allah SWT menyelamatkan Nabi Muhammad SAW dari rencana pembunuhan malam itu. Rasul dapat keluar dari rumahnya di pagi dini hari menuju Madinah. 

Malam itu, Allah SWT seketika menidurkan pasukan Kafir Quraysi yang mengepung rumah Rasul. Pagi harinya, Kafir Quraysi hanya mendapati Ali bin Abi Thalib yang berada di atas tempat tidur Rasulullah SAW.  Sementara Rasul dan Abu Bakar sudah meninggalkan kota Makkah.

Tak mendapatkan Rasul di rumahnya, kaum kafir Quraisy kemudian melakukan pencarian. Jejak langkah Rasul terus ditelusuri hingga ke padang pasir. 

Pada sebuah gua, Kaum Kafir Quraysi mendapat jejak langkah Rasul. Mereka menduga, Rasul bersembunyi di sebuah gua, yang kini disebut sebagai Gua Tsur. Dalam sejarah tercatat, kali itu Rasul dan Abu Bakar memang berada di dalam gua.

Namun ketika Kaum Kafir Quraisy memastikan tanda-tanada jejak Rasul di gua itu, Allah SWT mengutus seekor laba-laba membuat sarang di mulut gua Tsur. Hingga menyakinkan Kaum Kafir Quraysi, Rasul tidak berada di dalam gua. 

Setelah berada di Madinah, Rasulullah SAW menghadapi kondisi berbeda dari sebelumnya dalam berdakwah. Diantara kondisi baru di Madina, disebut Syaikh Syafiyurrahman Al-Mubarakfuri dalam bukunya Sirah Nabawiyah, kali itu di Madinah terdapat tiga golongan: kaum muslimin, musyrikin, dan Yahudi. Keberadaan tiga golongan di Madinah ini menjadi tantangan bagi bagi Rasul dan pengikutnya pada tahun pertama dakwah periode Madinah. 

Jejak langkah hijrah ini kemudian yang mengantarkan pada muncul persaudaraan kaum muslim Makkah (muhajirin) dan Madinah (anshor). Keduanya menjadi kekuatan besar, tanpa harus menyingkirkan kaum minoritas (non muslim) di Madinah. Sebaliknya, ketiga golongan yang berbeda ini dapat hidup berdampingan dengan tetap menjaga satu sama lainnya.

Kebijakan Rasulullah SAW yang menjunjung tinggi toleransi terhadap perbedaan suku, ras, dan agama menjadi komitmen warga Madinah, sehingga mereka hidup berdampingan dengan segala perbedaan yang ada. Tidak ada kebencian apalagi balas dendam diantara mereka. 

Sebagai simbol tegaknya ketauhidan di Madinah, Rasulullah SAW kemudian mendirikan sebuah masjid yang kini dikenal menjadi Masjid Nabawi. Masjid ini dibangun bukan hanya berfungsi sebagai tempat shalat, namun masjid dijadikan sebagai universitas kehidupan untuk menggali ilmu serta bermusyawarah sekaligus untuk mengatur segala urusan. Bahkan, masjid dijadikan pula sebagai tempat tinggalnya orang miskin yang tidak memiliki harta benda dan sanak saudara.

Rekam jejak Rasulullah SAW dan pengikutnya dalam hijrah yang berhasil menata peradaban di tengah pluralitas, paling tidak dapat menjadi referensi dan inspirasi bagi semua pihak, untuk tetap menjadikan perjuangan Rasulullah SAW sebagai cermin dalam menata bangsa ini menjadi lebih beradap yang tetap menjunjung tinggi toleransi antar suku, ras, golongan dan agama,  dalam rajutan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)*  (Editor: Imron Supriyadi)

Komentar

Berita Lainnya