oleh

Harga Minyak Sentuh Posisi Terendah Seperti 12 Tahun Lalu

 

Menteri Perminyak Arab Saudi, Ali al-Naimi (REUTERS/Heinz-Peter Bader)
Menteri Perminyak Arab Saudi, Ali al-Naimi (REUTERS/Heinz-Peter Bader)

JAKARTA I Harga minyak dunia kembali jatuh ke tingkat terendah dalam 12 tahun, Jumat pagi (8/1/2016) menyusul gejolak pasar China yang menyebabkan meningkatnya kekhawatiran  konsumen minyak mentah terbesar kedua di dunia itu.

Mengutip data perdagangan minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari, harga minyak mentah tercatat turun 70 sen atau 2,1 persen ke posisi US$33,27  per barel di New York Mercantile Exchange.

Dengan capaian ini, maka posisi harga WTI saat ini tercatat hampir menyamai posisinya pernah terjadi pada Desember 2003 pada level US$32,10 per barel di pasar minyak Eropa.

Sementara di pasar komoditas London yang menjadi patokan Eropa, minyak mentah Brent North Sea untuk penyerahan Februari turun 48 sen atau sekitar 1,4 persen ke posisi US$33,75  per barel.

Sebelumnya, harga minyak Brent pernah tercatat jatuh ke level US$32,16 per barel atau yang terendah sejak April 2004.

Analis Citi Futures Tim Evans mengatakan, pelemahan harga jual minyak ini terus terjadi akibat maraknya aksi jual pasca penurunan tajam ekuitas China yang kemarin turun sekitar 7 persen dan memicu penghindaran resiko yang jauh lebih luas karena para investor di seluruh dunia semakin khawatir.

“Pasar telah mampu pulih karena perburuan harga murah di tingkat lebih rendah, menunjukkan kelebihan jual yang cukup untuk bergeser ke mode konsolidasi, tapi kami melihat pasar masih memiliki fundamental yang rapuh, dengan kembalinya barel Iran yang saat ini ditahan oleh sanksi masih akan datang,” kata Evans.

Menyusul fenomena ini, Evas mengunkapkan harga minyak mentah tercatat semakin menunjukkan pelemah sejak awal Tahun Baru.

Selain karena bursa China, kata dia faktor yang turut menjadi katalis bagi fluktuasi harga minyak dilatarbelakangi oleh kekhawatiran mengenai konflik yang sedang berlangsung antara produsen penting Iran dan Arab Saudi yang akan meredupkan prospek penurunan produksi.

Evans mengatakan, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang mencakup kedua negara tersebut, secara efektif telah menjatuhkan batas produksi mereka pada awal Desember, meskipun sedang kelebihan pasokan global. (cnnindonesia.com)

Komentar

Berita Lainnya