oleh

FORSUMA Gaungkan Kembali Simposium Kerukunan Mahasiswa NKRI

PALEMBANG – Beralasan untuk mencegah teror yang belakangan kerap terjadi dan kemungkinan akan menjurus kepada isu SARA dan berdampak pada perpecahan bangsa, Forum Suara Mahasiswa (FORSUMA) berinisiatif untuk menggaungkan kembali SIMPOSIUM KERUKUNAN MAHASISWA NKRI dengan tema, Mencintai Perbedaan, Merawat Keberagaman dalam Bingkai BHINNEKA TUNGGAL IKA di Aula Demokrasi  KPU Kota Palembang, Sabtu (10/4/2021).

Dir Intelkam Polda SUMSEL, Kombes. Pol. Ratno Kuncoro, S.I.K, M.Si mengatakan,  pihaknya berterimakasih dapat berkesempatan hadir dalam kegiatan ini dan berbagai pada peserta yang hadir. “Kita mengapresiasi acara ini, untuk menumbuhkan kembali kesadaran bahwa Ke Bhinekaan, itu suatu hal yang harus kita jaga bersama.  Jangan sampai perbedaan menjadi permasalahan yang dipolitisir berbagai pihak yang tidak ingin Indonesia maju. Untuk bisa maju, kita harus bersama sama menjaga persatuan,” ujarnya.

Dikatakannya,  Indonesia punya banyak potensi yang luar biasa.  “Oleh sebab itu,  kita harus kembangkan sikap toleransi,  kita jauhi sikap radikal.  Mudah mudahan Indonesia terus maju, apalagi dalam situasi covid ini perlu sinergisitas berbagai elemen bangsa,” katanya.

Menurutnya, pemuda merupakan sosok idealis yang memiliki semangat yang luar biasa. Sehingga pemuda bisa melakukan sikap positif seperti menggunakan media sosial untuk hal hal yang positif dengan menyebarkan hal hal yang baik,  mengajak masyarakat menjauhi hal yang menghambat pembangunan.

“Kita minta pemuda memanfaatkan kolaborasi dengan Pemerintah daerah,  Kepolisian, dan TNI. Kami Polri membuka diri, hal hal yang bisa dikomunikasikan antara Polri dan pemuda,  karena setiap aktivitas perlu dukungan dari berbagai pihak,” tegasnya.

Sementara itu,  Wakil Ketua FKUB Sumsel  Dr H Saefudin Latief, S.Ag, M.Si menuturkan,  pihaknya menyambut baik kegiatan simposiun ini. Kegiatan seperti ini harus terus disinergikan suara kerukunan bukan hanya dikalangan senior saja,  tapi juga di kalangan pemuda dan mahasiswa harus memberikan kontribusi.

“Simposium ini positif,  wadah pemuda lintas agama.  Bicara kedepan setelah ini, kita dorong mereka melakukan aksi konkrit untuk memperluas kerukunan ini.  Mereka harus berperan aktif.  Bila perlu dikukuhkan organisasi kepemudaan lintas agama. Di senior ada FKUB, ditataran pemuda bagusnya ada juga wadahnya,” ulasnya.

Saefudin mengungkapkan, sejuh ini sinergisitas mahasiswa, pemuda dan FKUB sudah berjalan dengan baik.  “Tapi di kepemudaan belum ada kelembagaan formalnya.  Jadi berjalan masing masing. Kalau di FKUB itu kan sudah terstruktur sampai ke kabupaten dan kota.  Bagus sekali,  jika organisasi kepemudaan lintas agama dikukuhkan,” ucapnya.

Ditempat yang sama, Rektor UIBA Palembang,  Dr. Tarech Rasyid menuturkan,  simposium kerukunan mahasiswa ini muncul karena ada kegelisahan mahasiswa atas realitas politik dan budaya. “Banyak fenomena fenomena yang muncul,  sehingga bagaimana kita menjaga keberagaman ini untuk diikat dalam persatuan Bhineka Tunggal Ika,” bebernya.

Lebih lanjut dia menuturkan,  ada banyak cara untuk menjaga persatuan,  diantaranya membangun dialog dialog seperti ini.  “Elemen mahasiswa kan banyak.  Kita ingin mahasiswa juga ikut membangun Republik ini secara bersama sama ditengah perbedaan agama,  suku,  ras, kulit dan lainnya,” tutupnya (Mirna)

Komentar

Berita Lainnya