KAYUAGUNG I Sebagian besar pengendara, baik sepeda motor maupun roda empat sejak satu bulan terakhir mengeluhkan takaran pengisian bahan bakar minyak (BBM) pada SPBU 24.306.30 Kota Kayuagung. Para pengendara selaku konsumen menduga pengelola SPBU Kayuagung melakukan kecurangan dengan mengurangi takaran pengisian.
“Kami sebagai konsumen merasa sangat dirugikan dengan takaran pengisian BBM yang kami anggap tidak akurat. Saya sering membeli pertalite dan pertamax di SPBU ini. Tapi membeli sebesar Rp25.000 belum penuh. Ya, biasanya Rp25.000 sudah full tank,” kata Supardi, salah satu pengendara melintas, Selasa (7/3).
Warga Kelurahan Sukadana ini mengklaim perbedaan mencolok ketika dibandingkan dengan mengisi BBM di SPBU Jalan Lintas Timur Kayuagung. Ketika mengisi BBM di SPBU Jalintim justru Rp25.000 full tank. Sedangkan mengisi di SPBU Kota Kayuagung tidak full tank.
Dia berharap pihak terkait dapat melakukan tera ulang untuk mengetahui keakurasian takaran pengisian BBM SPBU Kota Kayuagung.
“Kami juga mendesak Pertamina memberikan sanksi tegas bagi pengelola SPBU yang sengaja memainkan takaran pengisian BBM. Dirugikan disini ialah kami selaku konsumen,” ucapnya.
Hal senada diungkapkan Syarif, warga Muara Baru dirinya mengaku lebih memilih mengisi BBM di SPBU Muara Baru ketimbang di SPBU Kota Kayuagung.
“Ya, pengisian BBM di SPBU Kayuagung banyak anginnya. Wajar jika banyak konsumen yang mengeluh,” terangnya.
Dia meminta pihak terkait mengecek pompa yang digunakan SPBU itu. Karena menurut dugaan konsumen bahwa takaran yang digunakan SPBU tersebut tidak akurat.
“Semua meteran pada dispenser di SPBU harus diperiksa. Kalaupun hasilnya menyalahi, tentu pihak Pertamina dapat memberikan sanskinya,” jelasnya.
Sementara itu, Pengelola SPBU 24.306.30 Kota Kayuagung, Heri saat dikonfirmasi selulernya beberapa kali tak kunjung diangkat.
Terpisah, Asisten II Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Setda OKI Herri Susanto menambahkan pihaknya meminta Dinas Perdagangan OKI menindaklanjuti keluhan pengendara ini.
“Kita tidak memiliki peralatan tera ulang. Tera ulang hanya ada di provinsi. Tapi, kami sudah koordinasikan dengan Dinas Perdagangan untuk mencris cek kebenarannya,” jelasnya. (Romi)
