Berita Daerah

Daerah Pelosok OKI Butuh Guru PNS

172
×

Daerah Pelosok OKI Butuh Guru PNS

Sebarkan artikel ini
Masherdata
pemkab muba pemkab muba
Daerah Pelosok OKI Butuh Guru PNS
Kepala Dinas Pendidikan OKI, Masherdata Musa’i.

KAYUAGUNG I Sekolah-sekolah di daerah terpencil atau pelosok desa di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), sangat membutuhkan guru atau tenaga pendidik yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (OKI).

Pasalnya, walaupun di sejumlah sekolah SD ataupun SMP di wilayah pelosok banyak memiliki tenaga pendidik, namun kebanyakan mereka masih berstatus honorer. Kebutuhan akan guru PNS ini di pelosok desa ini lantaran masih banyak guru-guru di OKI yang berstatus PNS menumpuk di wilayah perkotaan, khususnya di Kayuagung.

Kepala Dinas Pendidikan OKI, H Masherdata Musa’I menjelaskan, berdasarkan hasil roadshow Bupati OKI H Iskandar SE pada pekan lalu, ditemukan banyak sekali sekolah di wilayah pelosok dan terpencil yang kekurangan guru berstatus PNS.

“Jadi saat roadshow ke wilayah perairan dan pelosok OKI. Warga banyak mengadukan permasalahan itu, warga meminta penempatan guru PNS di desa mereka, karena yang berstatus PNS di sekolah itu hanya Kepala Sekolah,” ungkap Masherdata, Kamis (7/12).

Terjadinya ketimpangan tenaga pendidik di wilayah perkotaan dan pelosok desa, khususnya yang berstatus PNS ini lantaran memang sejak beberapa tahun terakhir, tidak adanya penerimaan CPNS guru dari jalur umum.

“Jadi kebanyakan guru PNS itu tugasnya di wilayah perkotaan atau kecamatan yang dekat dengan ibukota kabupaten. Selama ini, tidak ada guru PNS yang mau ditempatkan di pelosok, namun kedepan kita tidak bisa membiarkan hal ini, mau tidak mau kita harus menempatkan guru-guru PNS ke pelosok sesuai dengan kebutuhan dan jumlah siswa,” bebernya.

Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan OKI, untuk guru TK/SD yang berstatus PNS sebanyak 3.911 orang, tingkat SMP sebanyak 915 orang dan SMA sebanyak 587 orang. Namun sayangnya, kebanyakan guru ini banyak bertugas di perkotaan, sehingga kemajuan dunia pendidikan di pelosok desa sulit diterapkan. (Romi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *