Lahat

Buka-bukaan di Podcast PWI Lahat, Kades Lesung Batu Ungkap Cara Sulap 5,5 Hektare Lahan Adat Jadi Agrowisata

8
×

Buka-bukaan di Podcast PWI Lahat, Kades Lesung Batu Ungkap Cara Sulap 5,5 Hektare Lahan Adat Jadi Agrowisata

Sebarkan artikel ini
pemkab muba pemkab muba

Lahat – Bagaimana jika lahan adat seluas 5,5 hektare yang sebelumnya hanya dipenuhi belukar, justru disulap jadi kawasan produktif yang menghasilkan pangan dan membuka peluang ekonomi desa?

Itulah yang telah dilakukan Pemerintah Desa Lesung Batu, Kecamatan Mulak Ulu, Kabupaten Lahat.

Dibawah kepemimpinan Kepala Desa Radius Prawira SP, lahan adat tersebut dikembangkan jadi kawasan terintegrasi. Bukan sekadar kebun buah, tapi juga area kolam perikanan, peternakan, budidaya maggot hingga fasilitas pendukung desa. Seperti fasilitas olahraga, kantor desa dan koperasi merah putih.

Kisah tersebut dibahas dalam PWI Lahat Podcast, yang dipandu host dari Ketua PWI Lahat, Ehdi Amin, Jumat (2/10/2026).

Edi menyebut, Radius salah satu kepala desa yang cukup inovatif, dalam mengembangkan potensi desa. Menurutnya, geliat agrowisata yang mulai dibangun Desa Lesung Batu bisa jadi motivasi bagi desa-desa lain di Kabupaten Lahat.

“Ini bisa menjadi motivasi bagi desa-desa lain. Tapi tentu kita ingin tahu, apa saja tantangan terberatnya?” tanya Edi.

Radius mengakui, tantangan terbesar bukan sekadar membangun fasilitas, tapi mengubah mindset masyarakat agar melihat lahan adat sebagai aset produktif. Lahan tersebut kini sudah bersertifikat sebagai aset desa. Artinya, aset itu diharapkan tetap menjadi milik desa dan tidak bisa diklaim secara pribadi oleh siapa pun yang nantinya menjabat sebagai kepala desa.

“Awalnya lahan ini hanya belukar. Kita manfaatkan untuk kebun buah, kemudian berkembang ke kolam lele, maggot dan kandang ayam kampung,” jelas Radius.

Radius menerangkan, upaya kemandirian itu mulai terlihat dari sektor perikanan. Saat ini Desa Lesung Batu memiliki 20 kolam terpal dan tiga kolam beton untuk pembesaran lele, nila dan ikan mas. Radius menyebut hasil budidaya lele bahkan sudah masuk ke salah satu dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) sebanyak 200 kg sebanyak dua kali dalam sepekan.

“Hasil penjualan dikembalikan untuk operasional usaha dan sebagian masuk ke kas desa. Kendalanya masih pada kebutuhan bibit dan pakan yang cukup besar. Kita akui masih banyak kekurangan. Tapi setidaknya kita sudah berusaha sampai di titik bagaimana desa bisa mandiri,” terangnya.

Kedepan, Radius menargetkan Lesung Batu tidak hanya menjadi desa dengan kawasan agrowisata, tapi juga berkembang jadi desa edukasi. Ia berharap, sebelum masa jabatannya berakhir, berbagai program yang telah dirintis tersebut sudah berjalan dan berikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Harapan saya diakhir masa jabatan nanti, semua sudah berjalan lancar, sehingga masyarakat bisa terus menikmati hasil dari keberadaan lahan adat yang dijadikan lahan produktif tersebut,” sampainya.

Diakhir podcast, Ehdi menyebut, langkah yang dilakukan Desa Lesung Batu menunjukkan bahwa pembangunan desa, tidak harus berhenti pada pembangunan fisik. Potensi lahan, pangan dan sumber daya lokal, justru bisa jadi modal untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.

“Yang paling penting bukan seberapa besar yang dibangun, tetapi bagaimana desa mampu menciptakan sesuatu yang produktif, dikelola secara terbuka dan hasilnya kembali untuk masyarakat. Ini yang harus menjadi semangat masyarakat Desa Lesung Batu sendiri dan desa-desa lainnya,” ucap Ehdi. Sfr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *