oleh

Beni Hernedi Sebut Kebakaran Diakibatkan Aktivitas Buruk di Kawasan Hutan

SEKAYU | Pada tahun 2020 ini Kabupaten Musi Banyuasin dibawah komando Bupati Muba Dr Dodi Reza Alex Noerdin Lic Econ MBA bersama Wakil Bupati Muba Beni Hernedi SIP yang mana keduanya juga menahkodai Lingkar Temu Kabupaten Lestari Indonesia (LTKL) berhasil meminimalisir kebakaran hutan kebun dan lahan (karhutbunlah). 

Dalam kesempatan Kegiatan TEDx Countdown yang mengusung tema “Join the Countdown: Action Starts Here”, Sabtu (10/10/2020) Wakil Bupati Muba Beni Hernedi SIP yang juga Ketua Program Informasi & Komunikasi Lingkar Temu Kabupaten Lestari hadir sebagai salah satu pengisi acara menyebutkan bahwa kebakaran hutan dan lahan ini tidak lain disebabkan ‘aktivitas buruk’ di kawasan hutan. 

“Akibatnya, peningkatan emisi yang muncul akibat aktivitas lahan yang tidak baik ini mengakibatkan total emisi Indonesia akibat kebakaran hutan dan lahan saja lebih tinggi dari total emisi Amerika Serikat pada tahun itu. Pemerintah pun harus menanggung biaya penanggulangan yang nominalnya lebih besar dari total pendapatan negara dari sektor migas dan sawit,” bebernya.

Melalui kesempatan ini juga, Beni kembali menegaskan target besar dari LTKL sebagai suatu forum gotong royong antar pemerintah kabupaten. “Bahwa hingga tahun 2030, LTKL berupaya untuk menjaga setidaknya 10 juta hektar hutan dan 7 juta hektar gambut terlindungi di wilayah administrasi kabupaten anggota LTKL,”ungkapnya.

Selain itu, lanjut Beni yang tidak kalah penting adalah peningkatan kesejahteraan untuk sekitar 1 juta kepala keluarga yang tinggal di luar maupun di dalam kawasan ekologi terdampak di kabupaten anggota LTKL. 

“Hal ini tidak akan mungkin diwujudkan tanpa ada rasa kebersamaan melalui semangat gotong royong antara seluruh pemangku kepentingan terkait,” ungkapnya. 

Hal senada juga disampaikan Octavia Rungkat, yang menyebutkan bahwa hutan adalah bagian dari kita sebagai 

manusia. “Tanpa hutan, kita pun tidak mungkin ada. Octavia atau Yessi juga menyebutkan bahwa dampak dari perubahan iklim dirasakan betul oleh masyarakat di sekitar kawasan sungai utik, terlebih karena keseluruhan aktivitas masyarakat di sana sangat mengandalkan kondisi hutan yang terawat,” ulasnya. 

Andre Christian selaku masyarakat urban pun setuju dengan hal ini. “Untuk masyarakat yang tinggal di perkotaan, banyak yang tidak tahu bentuk hutan itu seperti apa, tidak tahu hubungan konservasi hutan dengan kondisi masyarakat di daerah perkotaan. Padahal oksigen yang kita hirup dan nikmati bersama, kopi yang kita minum setiap pagi, ataupun komoditas-komoditas lain yang banyak kita temukan dan jadi konsumsi bersama masyarakat urban, merupakan hasil hutan dan kualitasnya tergantung dari apakah hutan tersebut terjaga dengan baik atau tidak,” kata Andre. (Endang S)

 

Komentar

Berita Lainnya