PALEMBANG – Upaya memperkenalkan sekaligus mendiseminasikan kekayaan tradisi adat Sumatera Selatan ke ruang akademis dilakukan oleh para pelaku budaya. Langkah tersebut diwujudkan melalui rangkaian kegiatan Bioskop Mini, pameran foto, serta diskusi kebudayaan yang digelar di Gedung Perpustakaan UIN Raden Fatah Palembang Kampus B, Jakabaring, Senin (28/9/2026).
Acara utama dalam pergelaran ini adalah pemutaran film dokumenter berjudul Jongot: An Ancestral Legacy for All Living Beings karya Nopri Ismi. Film berdurasi 52 menit tersebut dihadiri mahasiswa dan pegiat lingkungan yang memenuhi ruang teater perpustakaan kampus. Rangkaian acara ini didedikasikan untuk mengangkat jongot—lanskap hutan warisan bernilai ekologis tinggi yang dikelola secara turun-temurun oleh masyarakat Suku Musi di Penukal, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).
Wadah Pertemuan Pengetahuan Lokal dan Generasi Muda
Pembuat film, Nopri Ismi, mengungkapkan bahwa pemutaran film di lingkungan kampus diniatkan sebagai ruang dialog terbuka guna mempertemukan pengetahuan masyarakat adat dengan generasi muda. Melalui karya sinematik ini, ia merekam hubungan masyarakat Penukal dengan tanah warisan leluhur mereka.
“Jika kondisi tersebut terus dibiarkan atau tidak ada upaya nyata untuk melestarikannya, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan keberadaan jongot di lanskap Penukal akan berangsur hilang atau berubah fungsi,” ujar Nopri.
Nopri menilai hilangnya jongot berkaitan dengan potensi hilangnya tradisi yang berkembang di dalamnya. Oleh karena itu, melalui momentum acara kampus ini, ia menegaskan langkah yang akan diambil ke depan.
“Saya akan mendorong jongot sebagai cagar budaya karena memiliki nilai penting terkait sejarah, budaya, dan lingkungan,” ungkapnya.
Medium Pengenalan Kebudayaan Daerah
Tanggapan atas terselenggaranya acara ini disampaikan oleh perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VI Sumatera Selatan, Wanda Lesmana. Hadir untuk memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan Bioskop Mini secara simbolis, Wanda menyebut pemutaran film ini sebagai kesempatan untuk mengenalkan kebudayaan daerah.
“Ini satu medium kebudayaan dari kayanya budaya yang ada di Sumatera Selatan,” kata Wanda dalam sambutannya.
Ia menambahkan bahwa pengetahuan mengenai jongot memperlihatkan kemampuan leluhur beradaptasi dengan lingkungan serta memikirkan kehidupan generasi berikutnya.
“Leluhur kita itu beradaptasi dengan lingkungannya, berinovasi, dan memikirkan generasi yang akan datang. Jangan-jangan nanti jongot ini didiskusikan di dunia,” tutur Wanda.
Di hadapan para mahasiswa, ia juga menginformasikan keberadaan Dana Abadi Kebudayaan (Dana Indonesiana) dari Kementerian Kebudayaan yang dapat diakses oleh komunitas maupun pelaku budaya melalui sistem audisi proposal. BPK Sumsel pun mengajak civitas akademika UIN Raden Fatah untuk menghasilkan karya-karya serupa yang mendokumentasikan kekayaan budaya Sumatera Selatan lainnya.
Kupasan Multiperspektif: Fungsi Sosial, Gender, dan Ekologis
Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi panel yang membedah eksistensi jongot secara multidimensi bersama para ahli yang hadir sebagai narasumber:
• Teguh Eko Sutrisno (Kepala Bidang Pariwisata dan Promosi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten PALI)
Teguh mengupas jongot dari sisi sejarah peradaban sungai dan fungsi sosialnya. Ia menyampaikan perlunya pemahaman terhadap latar belakang kehidupan masyarakat agar kawasan ini tidak hanya dilihat sebagai kebun.
“Jongot ini saya lihat, kata kuncinya adalah resolusi konflik, yang dibuat ataupun resolusi masalah yang dibuat oleh leluhur-leluhur kita mengenai permasalahan yang ada pada saat itu. Jongot ini menjadi salah satu yang ingin kita usulkan di WBTB. Kita perjuangkan sampai WBTB untuk jongot ini,” tegas Teguh.
• Dian Maulina (Akademisi UIN Raden Fatah Palembang)
Hadir membedah dari perspektif gender, Dian menyoroti keterlibatan perempuan Penukal dalam pemenuhan kebutuhan keluarga dan pemanfaatan sumber daya alam di sekitar mereka.
“Perempuan terlibat dalam pemenuhan kebutuhan keluarga dan pemanfaatan sumber daya di lingkungan sekitar. Jongot ini tempat apotek hidup,” urai Dian.
• Ainur Ropik (Akademisi dan Peneliti UIN Raden Fatah Palembang)
Ropik melengkapi jalannya diskusi dengan memaparkan data mengenai karakteristik vegetasi jongot yang didominasi oleh pohon-pohon besar, sehingga memiliki kemampuan menyerap air yang berbeda dibandingkan lahan kelapa sawit. Karakter hidrologisnya bertindak sebagai lahan basah di daratan yang memiliki aliran atau mata air tersendiri.
Ropik turut menyampaikan temuan saat dirinya mengambil data lapangan untuk riset.
“Terbukti tidak ada jongot yang terbakar. Karakter ekologis alami lanskap ini sangat tangguh menjaga kelembapan tanah, sehingga model pengelolaan hutan warisan seperti ini bisa diadaptasi menjadi solusi jangka panjang dalam penanganan isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara preventif,” jelas Ropik.
Rangkaian acara Bioskop Mini dan diskusi ini ditutup dengan sesi tanya jawab antara mahasiswa dan para narasumber, yang kemudian diakhiri dengan foto bersama seluruh peserta dan panitia acara.













