KAYUAGUNG I Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, yang memiliki luas sekitar 19.023,47 kilometer persegi, merupakan wilayah di Indonesia yang menjadi langganan kebakaran hutan dan lahan gambut. Akibatnya, sekitar 80 persen luas hutan di OKI yang mencapai 735.477 hektar mengalami kerusakan.
Memasuki tahun 2017 Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi ada 10 Kecamatan di Kabupaten OKI yang rawan terjadi kebakaran diantaranya Kecamatan Tulung Selapan, Pampangan, Pangkalan Lampam, Cengal, Sungai menang, Pedamaran Timur, sebagian Kecamatan Kayuagung, Tanjung Lubuk, Mesuji dan Air Sugihan.
“Sepuluh Kecamatan tersebut merupajan daerah yang banyak terdapat rawah gambut, untuk itu pemerintah bakal bersiaga di wilayah tersebut,”kata Kepala BPBD Kabupaten OKI, Azhar melalui Kabid penanganan darurat dan logistik, Umar Hasan dan kasi penanganan darurat, Fahrul Husni, Sabtu (4/2/2017).
Menurutnya, untuk mengatasi terjadinya karhutla. Pihaknya bersama instansi terkait telah melakukan persiapan dan siaga. “Tim pencegahan dan penanggulangan kebakaran lahan sudah dibentuk sejak Tahun 2016, baik masyarakat peduli api, masyarakat makmur peduli api. Kemudian tim pemadam kebakaran yang dibentuk masing-masing perusahaan perkebunan maupun HTI, juga personel TNI. Ketika akan memasuki musim kemarau, posko-posko langsung kita dirikan di lokasi rawan,” ungkanya.
Katanya, kemarau di Tahun 2017 ini, diprediksi mulai terjadi pada bulan April atau Mei mendatang. “Untuk saat ini, dimulai dengan mengecek kesiapan peralatan dan kesiapan seluruh perusahaan. Sweeping setiap Kecamatan dan unsur tripika, mengecek kesiapan perusahaan dan peralatan pemadam yang dimilikinya. Kita juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak melakukan pembakaran saat membuka lahan,” katanya.
Ia merinci, Tahun 2016 Karhutla di OKI sangat minim dibandingkan tahun 2015. Karhutla Tahun 2015 mencapai 3.377.331 hektar lahan dan Tahun 2016 hanya 196.079 hektar.
“Di tahun 2017, diprediksi akan ada lagi kemarau panjang, sehingga pencegahan karhutla harus dilakukan sejak dini. Salah satunya, harus ada kerjasama dari seluruh perusahaan perkebunan dan HTI yang ada di OKI,” ujarnya.
Sementara Komandan Kodim (Dandim) OKI, Letkol Kav Dwi Irbaya menegaskan, karhutla Tahun 2016 berbeda dengan tahun sebelumnya karena sangat minim bahkan tak nampak terjadi karhutla.
“Semoga Tahun 2017 ini, juga bisa seperti tahun lalu. Asalkan, kita berbagi dan mencari solusi karena semua pihak harus bertanggung jawab dalam mencegah karhutla,” tegasnya.(Romi Maradona)
