PALEMBANG – Di masa Kesultanan Palembang, masyarakat Palembang pernah melakukan peperangan dengan kolonial Belanda. Sala satu peperangan dimenangkan oleh masyarakat Palembang, pada 12 Juni 1819. Kemenangan tersebut kemudian dicatat dalam sebuah karya sastra, yang kemudian disebut “Syair Perang Menteng” atau “Syair Perang Palembang”. Kata “Menteng” diambil dari nama Herman Warner Muntinghe, panglima armada Belanda.
Salwa Pratiwi atau biasa disapa Ewa, seorang koreografer di Palembang, mencoba memaknai perang tersebut dalam sebuah karya, yang beranjak dari syair tersebut. Karya yang didukung oleh Danaindonesiana (Danaindonesiaraya) Tahun 2025, melibatkan 10 penari, dan penata musik.
Dalam melahirkan karya ini, Ewa melakukan beberapa tahapan riset. Dimulai dari membaca syair tersebut, menggali pengetahuan atau informasi dari berbagai narasumber, menyusun bagan karya, serta proses pengkaryaan.
“Saya akhirnya mendapatkan ruh dari perjuangan masyarakat Palembang tersebut. Ruhnya adalah jihad melawan kolonial Belanda,” kata Ewa, seusai FGD (Focus Group Discussion) Konsep Perang Menteng yang digelar atas kerjasama dengan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Negeri Islam (UIN) Raden Patah Palembang, Rabu (22/4/2026) lalu.
“Diperkirakan perang ini didukung banyak santri, dan mereka menggunakan ratib Samman untuk membangkitkan semangat juang, serta bela diri yang dipakai para pejuang tersebut silat keraton dan kuntau,” jelas Ea.
Sebelumnya, FGD yang dihadiri Prof. Dr. Endang Rochmiatun, M.Hum (Dekan Fakultas Adab dan Humaniora), Dr. Amilda, M.Hum (Antropolog), Kemas Andi Syarifuddin, MA (peniliti naskah melayu), Dian Maulina (peneliti lingkungan dan perempuan), Maryuzi (peneliti sejarah), perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan, serta sejumlah pekerja seni dan budaya, disampaikan berbagai informasi atau pendapat mengenai perang Palembang tersebut.
“Berdasarkan laporan kolonial (Belanda dan Inggris), perlawanan yang ada di Palembang dan sekitarnya dipimpin para ulama, seperti dalam syair Perang Menteng atau Perang Palembang yang menyebutkan para haji yang menggerakan atau memimpin perang,” kata Endang Rochmiatun.
Kemas Andi Syarifuddin mempertegas bahwa berdasarkan perang tersebut mayoritas dilakukan para ulama bersama santrinya. Disebutkan pula penyemangat perang adalah Ratib Samman, sementara ilmu bela diri adalah silat keraton.
Pakaian yang digunakan, para ulama menggunakan surban sementara laskar atau santri menggunakan ikar kepala. Warnanya kemungkinan hitam dan putih. Sementara senjatanya berupa keris, pedang, dan tombak.
Amilda menambahkan kemungkinan besar bela diri yang digunakan para pejuang bukan hanya silat keraton, juga kuntau. Sebab peperangan tersebut bukan hanya dilakukan para bangsawan dan keluarganya yang belajar silat keraton, juga rakyat yang berada di luar keraton. Kuntau ini masih bertahan hingga saat ini, terutama pada masyarakat di sekitar Palembang.
“Dari FGD ini saya juga mendapatkan masukan dalam proses pengkaryaan. Para penari yang terlibat dalam karya saya ini akan mengikuti ratib Samman yang setiap pekan di Masjid Agung (Masjid Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo).
Direncanakan, pertunjukan Tari Perang Menteng akan digelar pada akhir Mei 2026. ***
