Berita Daerah

Solusi Membuka Lahan Tanpa Bakar dari Dinas Pertanian OKI. Seperti Apakah?

742
membakar
Ilustrasi membuka lahan pertanian dengan cara membakar (Google Images)

KAYUAGUNG I Kebakaran Hutan dan Lahan yang kerap terjadi di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, membuat kabupaten ini menjadi sorotan dunia international, Pada 2015 lalu, Hutan dan lahan yang terbakar di Kabupaten OKI seluas 377.333 hektare. Saat ini luas kerawanan kebakarannya sekitar 475.281 hektare.

Guna mengantisipasi terjadinya kebakaran yang sama pemerintah Kabupaten OKI melalui Dinas Pertanian Kabupaten OKI memberikan solusi bagi para petani khusus yang akan membuka lahan pertanian. Seperti apakah solusinya?

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten OKI, Syarifuddin mengatakan, meskipun Perda No.8 Tahun 2016 disebutkan, membakar diperbolehkan setelah mendapatkan izin dari pejabat yang berwenang, sesuai dengan Pasal 3 ayat (2). Namun, pemerintah OKI tetap tidak akan mengeluarkan izin apapun alasannya.

Untuk itu, kata Syarifuddin pihaknya telah memberikan solusi bagi para petani dengan memanfaatkan gulma yang tumbuh berupa semak belukar untuk dijadikan sebagai kompos atau langsung dikendalikan secara kimiawi (herbisida).

“Beberapa waktu lalu kita melakukan pertemuan dengan petani yang ada di Desa Srigading Kecamatan Sungai Menang mereka menanyakan bagaimana membuka lahan tanpa membakar bahkan mereka minta dispensasi karena lahan mereka ini belukar dan tidak mungkin tidak dibakar dan solusi yang kita berikan adalah dengan metode tebang, tebas, kompos,”jelasnya.

Menurutnya, untuk membuat kompos itu harus menggunakan the komposer dan pihaknya juga sudah memberikan bantuan alat pengelola pupuk organik dibeberapa daerah. “ Kedepan alat ini akan diperbanyak, dan kalau ini sudah dilaksanakan besar manfaatnya bahkan petani tidak perlu lagi menggunakan pupuk pestisida dan memang memerlukan waktu dan kesabaran,”jelasnya.

Disamping itu, kata dia pihaknya juga terus gencar melakukan sosialisasi kepada para petani, untuk pembakaran jerami kemungkinan sudah hilang dan bisa ditekan tapi kemungkinan terjadi pembakaran gulma atau belukar itu masih ada. “ Guna menekan terjadinya pembukaan lahan dengan membakar kita telah memprogramkan IP 300 atau 3x tanam setahun dengan demikian kemungkinan semak belukar untuk tumbuh itu sangat kecil karena setelah panen langsung tanam dan saat ini baru daerah lempuing yang sudah menerapkan IP 300,”katanya.

Edi Saputra, Ketua Serikat Petani Perigi Bersatu, Desa Perigi, Kecamatan Pangkalan Lampan, Kabupaten OKI, menilai sulit mencegah para petani tidak melakukan pembakaran selama musim kemarau ini. Baik untuk meremajakan kebunnya atau untuk bercocok tanam. Sebab membakar sudah mereka lakukan selama puluhan tahun. Mereka tidak punya dana atau pengetahuan bagaimana mengelola lahan tanpa membakar.

Oleh karena itu, kata Edi, dirinya meminta ada langkah kongkrit dari pemerintah untuk membantu petani dalam mengelola lahan tanpa membakar. “Misalnya bantuan alat berat atau bantaun obat-obatan atau teknik untuk mempercepat pembusukan rumput atau kayu, sehingga waktu bertanam mereka tetap terjaga,” kata Edi. (Romi Maradona)

 

Exit mobile version