Sekretaris Dinkes Musirawas, Muhammad Nizar mengungkapkan, untuk dua penderita gizi buruk tersebut pun, tengah ditangani Dinkes sejak tiga bulan lalu. Keduanya bahkan, sudah dibawa ke Rumah Sakit (RS) dan menjalani perawatan. Hanya saja, salah satu penderita bernama Sita yang akan dilakukan operasi telah terlebih dahulu dibawa pulang atas permintaan keluarga. Sedangkan, Wahyuni tetap dilakukan perawatan.
”Kita penanganannya gizi dulu, setelah sembuh, itu nantinya keterlibatan lintas sektoral. Karena, Dinkes tidak bisa menangani terus menerus,” ungkapnya, Selasa (24/1).
Diakuinya, kedua penderita gizi buruk tersebut termasuk dalam kategori keluarga miskin. Hal ini, tentunya sudah ditangani Dinkes terkait masalah gizi. Namun, seharusnya dia berharap dinas terkait juga melakukan penanganan juga.
“Maka kita membuat surat kepada Bupati, untuk meminta petunjuk guna rapat lintas sektoral. Seharusnya, setelah Dinkes, pihak camat, kades serta Dinsos juga ikut. Sebab, dalam artian kalau cuma gizinya saja yang ditangani tentu percuma,” jelasnya.
Ia menyampaikan, berdasarkan deteksi kegiatan Posyandu, terdeteksi balita dibawah garis merah (gizi buruk) mencapai 278 balita di Musirawas. Selebihnya, gizinya sudah meningkat dan tetap dalam monitoring puskesmas setempat.
“Untuk 2017, petugas turun ke desa seminggu dua hari. Jadi, dengan membagi daerah binaan. Penyebab balita menderita gizi buruk, itu ada beberapa faktor, diantaranya ekonomi, pola asuh dan orang tua yang malas datang ke Posyandu,” jelasnya.
Ia menjelaskan, cara penanggulangan gizi buruk kedepan, pihaknya akan mengembangkan sistem surveyland berbasis masyarakat. Metode ini, melibatkan seluruh komponen, seperti kades, camat dan tokoh masyarakat setempat.
“Artinya semua pihak bisa segera melapor ke Posyandu atau Puskesmas terdekat. Kita juga akan terus melakukan pemantauan,” ungkapnya.(Mulyadi)













