Berita Daerah

Perusahaan Pelaksana Pembangunan Tol Kayuagung-Palembang Klaim Akan Bangun 11 Box Culvert

239
Kontraktor
Rapat Koordinasi antara Komisi III, Pemerintah dan Perusahaan Pembangunan Jalan Tol terkait banjir di Kelurahan Sukadana Kayuagung di ruang rapat badan anggaran DPRD OKI.

KAYUAGUNG I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), akhirnya memanggil Manajemen PT. Sriwijaya Makmur Persada dan PT. Waskita Karya selaku pelaksana pembangunan jalan Tol Kayuagung-Palembang untuk mencari solusi dalam penanggulangan banjir yang menimpa warga Desa Celikah dan Kelurahan Sukadana, Kabupaten OKI yang diduga kuat akibat timbunan jalan Tol.

Dalam Pertemuan yang difasilitasi Komisi III DPRD OKI itu, juga dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda), Dinas terkait dan perwakilan masyarakat yang menjadi korban Banjir. Pertemuan yang dipimpin oleh anggota DPRD OKI, Nawawi Anang ini menyepakati, perusahaan pelaksana Tol untuk membuat 11 box culvert atau pintu air agar debit air dapat turun.

Ketua Komisi III DPRD OKI, Efredi Jurianto mengatakan, pemanggilan manajemen perusahaan pelaksana jalan Tol Kayuagung-Palembang bukan untuk menghambat pembangunan jalan tol atau tidak mendukung proyek strategis Nasional tersebut.

“Kami beserta rombongan Komisi III sudah mengecek ke lokasi banjir yang diduga akibat penimbunan jalan told dan kami juga harus memikirkan nasib rakyat, terutama yang saat ini rumahnya terendam banjir,” jelasnya.

Menurutnya, dengan dipanggilnya manajemen perusahaan, Dinas terkait dan masyarakat korban banjir, dapat dicarikan solusi secara bersama-sama, terutama bagiamana caranya agar debit air cepat turun.

“Kami minta kepada PT. Waskita atau PT. SRIM agar segera membuat sodetan atau box culvert sebanyak mungkin, sehingga aliran air tidak tersumbat dan permukiman masyarakat tidak lagi kebajiran,” tegasnya.

Sholahuddin Djakfar menduga banjir yang terjadi saat ini diakibatkan dari pembangunan jalan tol yang tidak mengikuti detail engineering design (DED) ditambahlagi belum adanya Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL).

“Kita minta tinjau dulu DED nya baru bisa dilanjutkan penimbunan karena dasar kita membangun itu ya DED nya kalau tidak akan banjir terus. Kita juga mempertanyakan kok bisa antara DED dan lapangan bisa berbeda,”tegasnya.

Ditambahkan, anggota Komisi III lainnya, Febriansyah, box culvert itu harus cepat dibuat, jangan hanya perencanaan saja karena intensitas hujan masih tinggi.

“Secepatnya harus dibuat. Jika tidak segera direalisasikan, banjir bisa meluas. Kita juga harus memikirkan dampaknya bagi masyarakat korban banjir, terutama kerugian materialnya,” tambahnya.

Sementara manajemen PT. Sriwijaya Makmur Persada dan PT. Waskita Karya, bersedia membuat box culvert dititik anak sungai agar debit air bisa normal. Seperti diungkapkan Manajemen PT. SRIM, Tatang Sutisna, bahwa dalam DED perusahaan pihaknya sudah merencanakan pemasangan Sembilan box culvert ini merupakan salah satu upaya untuk menanggulangi banjir ditengah perjalanan kita menambah jumlah pemasangan menjadi 11 box culvert.

“Kita akan memasang sebanyak 11 box culvert dengan jarak 4,5Kilo. Sebelumnya sesuai perencanaan, sebenarnya hanya sembilan box culvert, itu sudah kita hitung sesuai dengan debit air yang ada,” ungkapnya.

Dilanjutkannya, selama ini pihaknya mengakui kurang koordinasi dengan Dinas PU dan Tata Ruang Kabupaten OKI. Alasannya, karena saat ini sedang tahap peralihan saham dari PT. SRIM ke PT. Waskita.

“Nanti, jika proses peralihan saham ini selesai, selanjutnya PT. Waskita yang akan melanjutkanya,” ungkapnya lagi.

Perwakilan PT. Waskita Karya, Nur Azis menambahkan, penanganan sementara untuk menanggulangi banjir dengan cara menambah box Kontainer yang berfungsi sebagai water balance.

“Untuk mempercepat pembuatan pintu air ini, kita pakai box kontainer di lokasi- lokasi yang memang diperlukan. Kemarin sudah kita buka satu sodetan, itu ternyata sudah mengurangi debit air,” jelasnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten OKI, H. M. Hapis menegaskan, secara knstruksi DED nya belum ada koordinasi antara perusahaan dengan Dinas PU PR dan belum ada hasil AMDAL yang lengkap.

“Pengamatan kami mereka ini menimbun langsung memadatkan sehingga aliran air tersendat, seharusnya pekerjaan penimbunan jalan tol tidak menutup anak sungai yang ada. Karena anak sungai ditutup, jadi aliran air tersumbat. Tapi kami menyambut baik pihak perusahaan sudah memasang box culvert untuk jalan air, kami juga minta perusahaan yang mengerjakan jalan tol Kayuagung-Palembang agar intens koordinasi dengan kami. Sementara ini yang intens koordinasi PT. Waskita yang mengerjakan Tol Kayuagung-Lampung,” ungkapnya.

Ketua RT 05, Kelurahan Sukadan, Akmal Kausar mengharapkan, hasil pertemuan itu ada solusi yang nyata dari pemerintah maupun dari perusahaan. “Kami hanya ingin air segera surut, kita tidak butuh yang lainnya. Kami yakin banjir ini karena timbunan tol yang menutup jalannya aliran air,” ujarnya. (Romi)

Exit mobile version