Berita Daerah

Orkestra Batanghari Sembilan Digelar Kali Pertama di Indonesia

7

Pekan Kebudayaan Daerah Sumatera Selatan yang bertepatan dengan peringatan Hari Kebudayaan Nasional akan menyajikan orkestra batanghari sembilan. Pertunjukan orkestra yang beranjak dari musik tradisional masyarakat Sumatera Selatan ini, merupakan kali pertama ditampilkan di Indonesia.

“Pertunjukan orkestra batanghari sembilan akan disajikan pada pembukaan Pekan Kebudayaan Daerah Sumatera Selatan dan Peringatan Hari Kebudayaan Nasional besok,” kata Agung Saputro, Plh Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumetera Selatan, seusai menghadiri kuliah umum “Merawat Cagar Budaya. Menjaga Identitas Bangsa: Pendidikan, Pemberdayaan Ekonomi, dan Kemitraan unuk Pembangunan Berkelanjutan” di Aula Gedun I Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya, Palembang, Kamis (15/10/2026).

Puncak Pekan Kebudaayaan Daerah Sumatera Selatan dan Peringatan Hari Kebudayaan Nasional akan digelar di Atrium PTC Mall Palembang, Sabtu dan Minggu (17-18/10/2026).

Pertunjukan orkestra batanghari akan melibatkan 25 pemain musik dan penyanyi. Mereka adalah maestro, seniman, dosen, serta pelajar dan mahasiswa.

Selain pertunjukan orkestra batanghari, puncak Pekan Kebudayaan Daerah Sumatera Selatan dan peringatan Hari Kebudayaan Nasional, juga akan menggelar sejumlah kegiatan. Mulai dari pameran lomba foto peristiwa budaya, lomba tari kreasi, lomba menyanyi lagu daerah, layar budaya, lomba fshion show pakaian daerah, lomba musik irama batanhari sembilang, hingga loba musikalisasi puisi.

“Tercatat sekitar 200 peserta yang ummnya generasi muda dari kabupaten dan kota di Sumatera Selatan,” kata Agung.

Dijelaskan Agung, rangkaian kegiatan Pekan Kebudayaan Daerah Sumatera Selatan berlangsung dari 10-18 Oktober 2026. Kegiatannya berupa lokakarya, lomba, pameran foto, layar budaya, dan pergelaran oskestra batanghari sembilan.

Lokakarya pertama berupa seminar “Kalindang: Konstruksi Anti Gempa Lamban Tuha” di kampus Universitas Indo Global Mandiri (UIGM) Palembang pada 10 Oktober 2026, kemudian kuliah umum “Merawat Cagar Budaya. Menjaga Identitas Bangsa: Pendidikan, Pemberdayaan Ekonomi, dan Kemitraan unuk Pembangunan Berkelanjutan” di Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya, 15 Oktober 2026.

Lomba yang digelar antara lain musikalisasi puisi, musik irama batanghari sembilan, fashion show wastra Sumsel, fotografi “Peristiwa Budaya”, tari kreasi, dan  menyanyi lagu daerah.

Selanjutnya pameran foto peristiwa budaya, layar budaya berupa pemutaran film budaya, serta pergelaran rrkestra batanghari sembilan.

“Rangkaian kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Selatan,” jelas Agung.

Identitas budaya

“Orkestra batanghari sembilan bukan sekedar nama kelompok, tapi upaya memperkenalkan kepada khalayak bahwa materi musikal yang diolah bersumber dari keragaman budaya masyarakat Sumatera Selatan, bahkan dalam cakupan yang lebih luas, yaitu wilayah Sumatera bagian Selatan,” kata Silo Siswanto, konduktor Orkestra Batanghari Sembilan, Kamis (15/10/2026).

Landasan konseptual orkestra ini berangkat dari kebudayaan masyarakat yang hidup dalam kawasan sembilan sungai dengan tiga wilayah budaya besar, yaitu masyarakat Besemah, Seminung, Kaba. Ketiga wilayah budaya tersebut memiliki keterhubungan dengan kawasan pegunungan sebagai wilayah ulu, tempat bermulanya aliran sungai yang kemudian bergerak menuju wilayah ilir.

Dari kawasan ulu tersebut mengalir sungai-sungai yang membentuk jaringan kehidupan masyarakat Batanghari Sembilan dan pada akhirnya bermuara serta bertemu dalam satu aliran besar, yaitu Sungai Musi sebagai wilayah ilir.

Dalam perspektif ini, alam tidak hanya dipahami sebagai latar geografis kehidupan masyarakat, tetapi sebagai bagian penting dari pembentukan kebudayaan. Gunung, sungai, perbukitan, dataran rendah, rawa, dan berbagai karakter bentang alam membentuk suatu ekologi kehidupan yang memengaruhi cara masyarakat beradaptasi, bekerja, berkomunikasi, membangun relasi sosial, serta mengembangkan ekspresi kebudayaannya. Sungai dapat dipahami sebagai salah satu pusat kosmik kehidupan masyarakat Sumatera Selatan, seperti seorang ibu yang menghidupi sekaligus melahirkan berbagai bentuk peradaban di sepanjang alirannya.

Perbedaan bentang alam tersebut melahirkan kebiasaan hidup yang berbeda-beda. Masyarakat yang hidup di wilayah pegunungan dan perbukitan, misalnya, memiliki pola mata pencaharian, mobilitas, interaksi sosial, serta pengalaman keseharian yang berbeda dengan masyarakat yang hidup di wilayah dataran rendah, tepian sungai, maupun rawa-rawa. Perbedaan pengalaman hidup ini kemudian turut membentuk karakter kebudayaan, termasuk cara masyarakat menghasilkan, merasakan, dan memaknai bunyi atau musik.

“Atas dasar pemikiran tersebut, Orkestra Batanghari Sembilan hadir sebagai ruang penciptaan yang berusaha membaca kembali keragaman bunyi masyarakat Sumatera Selatan melalui perspektif hubungan antara ulu dan ilir, manusia dan alam, tubuh dan lingkungan, serta tradisi dan penciptaan baru. Berbagai sumber bunyi dari masyarakat Batanghari Sembilan tidak semata-mata direproduksi sebagai bentuk tradisi, melainkan dieksplorasi, ditafsirkan, dan diolah kembali menjadi bahasa musikal baru tanpa melepaskan jejak ekologis dan kultural yang melahirkannya,” jelas Silo, seniman dan akademisi dari Universitas PGRI Palembang.***

Exit mobile version