OKI Maju Bersama

Midang, Tradisi Lebaran Kayuagung yang Bikin Rindu Pulang

6

OKI – Di Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, lebaran bukan sekadar tentang ketupat, opor ayam, atau berkumpul bersama keluarga. Ada satu tradisi yang selalu dinanti dan menjadi pelepas rindu kampung halaman, yakni arak-arakan budaya bernama midang.

Midang merupakan tradisi khas masyarakat Kayuagung yang digelar dengan berjalan kaki sambil mengenakan busana adat, diiringi alunan musik tradisional. Bagi pendatang, tradisi ini mungkin tampak seperti karnaval. Namun bagi masyarakat setempat, midang adalah sarana silaturahmi, mempererat hubungan sosial, sekaligus menjaga warisan budaya turun-temurun.

Tradisi ini rutin digelar setiap hari ketiga dan keempat Idul Fitri. Sebanyak sebelas kelurahan turut ambil bagian, menjadikan jalanan kota berubah menjadi panggung terbuka yang semarak, penuh warna, dan sarat kebersamaan.

Sepanjang arak-arakan, para peserta terutama muda-mudi, tampil mengenakan busana adat khas Kayuagung seperti maju setakatan, maju inti, bengian inti, hingga manjau kahwin. Kain songket yang berkilau, selendang yang menjuntai, serta hiasan kepala yang sarat makna menjadi simbol kuat identitas budaya masyarakat setempat.

Arak-arakan diawali dengan pembawa tanda kelurahan dan bendera merah putih, diikuti anak-anak, para bujang dan gadis, hingga iringan musik tanjidor yang menambah semarak suasana.

Secara umum, midang terbagi dalam dua jenis, yakni midang begorok yang digelar dalam hajatan seperti pernikahan atau khitanan, serta midang bebuke yang dilaksanakan saat lebaran dan lebih dikenal luas oleh masyarakat.

Dalam adat pernikahan Kayuagung, midang juga menjadi bagian penting, khususnya dalam prosesi mabang handak, tahap ketika kesepakatan menuju pernikahan telah dicapai. Pada momen ini, calon pengantin diarak bersama keluarga untuk diperkenalkan kepada masyarakat sebagai simbol pengakuan sosial dan adat.

Pada Senin (23/3/2026), kemeriahan midang terasa semakin istimewa melalui gelaran midang morge siwe (sembilan marga) yang dipusatkan di pelataran Pantai Love, tepian Sungai Komering. Kegiatan ini dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan, H. Edward Candra, serta Bupati OKI, H. Muchendi Mahzareki.

Ditengah arus mudik lebaran, masyarakat tumpah ruah memadati lokasi, mulai dari warga lokal hingga para perantau yang pulang kampung. Momen ini tak sekadar menjadi perayaan, tetapi juga ajang temu kangen dan nostalgia.

Dalam sambutannya, Edward Candra menegaskan bahwa midang morge siwe merupakan warisan budaya yang harus terus dijaga.

“Kita bersyukur kegiatan budaya kebanggaan midang morge siwe dapat terus dilaksanakan dan menjadi warisan budaya tak benda Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan, tradisi ini mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, serta penghormatan kepada leluhur.

“Kami mendorong agar kegiatan ini dikemas lebih menarik dan inovatif sehingga mampu menarik wisatawan, baik dari luar daerah maupun mancanegara. Ke depan, ini bisa menjadi agenda nasional bahkan internasional,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati OKI Muchendi Mahzareki menyebut midang sebagai kebanggaan masyarakat Kayuagung yang telah diakui sebagai warisan budaya tak benda.

“Diharapkan kegiatan ini dapat mendorong kemajuan sektor pariwisata, khususnya ekonomi kreatif,” katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga ketertiban dan keselamatan selama perayaan berlangsung.

“Selamat menggelar midang morge siwe. Tetap jaga ketertiban dan keselamatan agar perayaan Lebaran semakin berkesan,” pungkasnya.

Kini, midang tidak hanya menjadi milik masyarakat Kayuagung, tetapi juga telah berkembang menjadi ruang bersama bagi siapa saja untuk mengenal dan memahami kekayaan budaya lokal.

Lebih dari sekadar perayaan, midang adalah cara masyarakat Kayuagung merawat ingatan, dan bagi banyak perantau, alasan untuk selalu pulang.

Exit mobile version