Bertahun-tahun, dua anaknya Marlina dan Senen yang lumpuh layu hanya terbaring. Bahkan untuk meminta makan dan buang airpun hanya dengan memberikan isyarat dengan menangis.
“Kalau lapar biasanya menangis. Kalau mau buang air juga nangis atau agak menjerit,” ungkap sang ibu, Kasri saat dibincangi wartawan di kediamannya di Desa Awal Terusan Kecamatan Sirah Pulau Padang, kemarin (19/7).
Masri melanjutkan, untuk memenuhi kebutuhan MCK sang anak dirinya ataupun suaminya biasa menggendong sang anak ke sumur. “Wc blm ada jadi buang airnya di ‘lebak’ di belakang rumah. Mau tidak mau harus digendong ke sumur pompa karena rumah panggung,” jelasnya.
Kondisi rumah panggung ini lantas agak menyulitkan dua orangtua ini. “Pengennya bangun rumah ‘depok’ (tanpa tiang) jadi tidak sulit lagi. Tapi belum bisa,” sambugnya.
Secara bergantian, Masri dan suaminya Hamdi menjelaskan kepada wartawan terkait bagaimana kehidupan mereka.
Diceritakannya, mereka memiliki tiga anak, dan anak pertama sudah meninggal tahun 2006 lalu. “Sakit juga, seperti ini. Yang terakhir, juga sebenarnya hampir tapi alhamdulillah segera teratasi dan saat ini sudah 12 tahun dan masuk SMP,” katanya.
Tanggungan pasangan suami istri ini pun bertambah karena harus memenuhi kebutuhan sekolah. “Kemarin, Tantri minta belikan sepatu untuk sekolah tapi karena belum punya uang jadi harus ditunda dulu,” paparnya.
Untungnya, keluarga ini adalah penerima KIS dan KIP jadi bisa sedikit terpenuhi. Selain itu, bantuan serta pendampingan dari pemerintah terus diberikan kepada keluarga ini.
“Alhamdulillah sejak 2006 lalu dapat bantuan. Dan dari sana bisa sedikit ditabung hingga akhirnya bisa membeli tanah ini dan bangun rumah, awalnya tinggal di sawah, agak jauh dari desa,” paparnya.
Camat SP Padang Herliansyah Halaluddin mengatakan, di Kecamatan SP Padang terdapat beberapa warga yang menyandang kebutuhan khusus berat yang salah satunya dua saudara yang baru-baru ini beritanya viral di media sosial.
“Kami dari pemerintah, mulai dari dinas sosial, camat, kades, dinkes dan puskesmas terus melakukan pendampingan. Selalu kami perhatikan, bukan tidak ada perhatian,” jelas Herliansyah.
Dirinya juga menjelaskan bahwa dana untuk penyandang disabilitas berat seperti ini terua diberikan oleh pemerintah.
“Namun bantuan dari pemerintah tidak bisa mengcover seluruh kebutuhan mereka. Oleh karena itu, mungkin saja ada dermawan dari luar yang bersedia menymbangkan kepada keluarga ini,” ungkapnya.
Sementara itu, Kades Awal Terusan Didampingi salah satu anggota Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM), Meri menjelaskan bahwa pendampingan akan terus dilakukan kepada penyandang disabilitas ini. “Sebenarnya di Desa Awal Terusan ini ada juga penyandang disabilitas berat lainnya, waktu itu ada enam orang tapi dua diantaranya sudah meinggal,” jelasnya.
“Kita sudah mengajukan bantuan dan saat ini masih menunggu. Intinya kami akan terus melakukan pendampingan kepada warga yang membutuhkan ini,” pungkasnya.(Romi)













