Sebelum melakukan aksi, puluhan mahasiswa yang terdiri dari beberapa universitas di Palembang, Bengkulu dan Lampung ini berkumpul di lapangan Hotel Kito, Tanjung Kupang dan berjalan kaki menuju Kantor Bupati Empat Lawang.
Tiba di depan pintu gerbang, puluhan mahasiswa belum diperbolehkan masuk halaman Kantor Bupati. Puluhan anggota polisi dari Polres Empat Lawang dan anggota Satpol-PP berjaga di sekitaran pintu gerbang.
Sekda Empat Lawang, H Edison Jaya yang mendatangi para mahasiswa tidak bisa menyudahi aksi dan menghentikan aksi tersebut. Selanjutnya sekda mempersilakan massa masuk ke lapangan kantor bupati karena cuaca hujan. Para mahasiswa melanjutkan orasi mereka di lapangan, depan pintu utama kantor bupati meskipun diguyur hujan.
Para mahasiswa meminta Bupati Empat Lawang, H Syahril Hanafiah turun mendatangi mereka, namun hingga siang hari sekitar pukul 12.00 WIB, bupati tak kunjung mendatangi para mahasiswa asal Kabupaten Empat Lawang tersebut.
“Kami meminta pemerintah memberantas kriminalitas dan mewujudkan keamanan di Bumi Empat Lawang. Sekarang kondisi Empat Lawang mencekam sedangkan pemerintah bungkam,” ujar Andi Bojez, koordinator lapangan saat berorasi.
Lanjut Andi, segala bentuk tindak keriminal yang terjadi di Empat Lawang merupakan teror besar bagi masyarakat yang ingin melakukan aktivitas di dalam ataupun di luar desa. Karena ruang lingkup yang memang banyak terdapat hutan perkebunan antar desa membutuhkan waktu yang tidak sedikit sehingga memudahkan kawanan begal beraksi.
“Pelaku begal sering kali melukai, menganiaya bahkan membunuh korbannya demi melancarkan ambisi kejahatan. Ini merupakan ancaman yang terus dihadapi dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat,” cetusnya.(Ridi)
