Sore itu (7/11/22019) cuaca di langit kota kecil tersebut sedang bersahabat. Panas tidak, mendungpun bukan. Beberapa becak motor tampak lalu lalang dengan suara deru mesin Vespa yang khas, berbaur dengan suara-suara khas berlogat Tapanuli dari warung kopi pinggir jalan. Kota kecil di jantung Tapanuli Bagian Selatan, Sumatera Utara, Kota Padang Sidimpuan terasa sangat bersahaja, menjalani rutinitas keseharian, tentram.
Usai sholat Ashar di hotel, kendaraan roda 4 yang kami tumpangi bergerak mengarah ke Barat. Papan penunjuk jalan bertuliskan Medan-Gunung Tua-Sipirok, adalah rute yang kami lewati. Dua minibus berpenumpang 8 orang mulai merasakan liukan jalan, naik dan turun, melintas meninggalkan pusat keramaian si Kota Salak ini.
Tak terasa sekitar lima kilometer sudah dilalui, sopir membelokkan mobil arah kekiri, belokan turunan dan terasa kemudian jalan pedesaan kami tempuh. Tak ada papan penunjuk arah atau tanda lainnya, kecuali lalu lalang kendaraan yang mulai lengang. Tidak jauh dari persimpangan itu, hamparan sawah yang sebagian sudah menguning menyapa kami. Petak-petak sawah seperti bersambungan, sejuk dan segar udara semakin nyaman dihidung. Khas desa mulai menyeruak. Sebuah sekolah dasar kami lewati dan dipagarnya terpampang tulisan Desa Rimba Soping, itulah desa pertama sejak kami meninggalkan Kota Padang Sidimpuan.
Pertigaan Desa Rimba Soping kiranya jadi penanda arah yang akan dituju. Bagi yang pertama kesini mungkin perlu bertanya-tanya arah yang akan dituju, untunglah sopir kami sangat kenal wilayah.
Jalanan beraspal lumayan bagus dilewati, beberapa sudut jalan memang ada lobang-lobang kecil, cukup untuk menyayunkan mobil. Tumpukan pasir dan koral di pinggir jalan menandakan renovasi sedang berlangsung, agaknya intensitas masyarakat yang masuk ke daerah ini sudah disadari pemerintah. Pelebaran jalan dengan mengecor sisi kiri-kanan sudah dilakukan. “Payah dulu kalau mau lewat sini, apalagi bertemu mobil lain, harus berhenti kita dulu,” ujar Dr. Darwis, sahabat dari FEBI IAIN Padang Sidimpuan yang begitu ramah menemani.
Papan nama desa sekarang sudah berganti, Desa Mompang, itulah wilayah yang sekarang dimasuki. Liukan jalan makin terasa, beberapa tikungan dengan ketinggian mencapai sekitar 600 dilewati dengan baik oleh minibus ini. Sangat sulit seandainya bus besar masuk ke daerah ini, sebuah tantangan jika ingin membangun pariwisata secara luas. Akses jalan yang mudah patut kiranya dipertimbangkan tanpa melupakan struktur dan keindahan alamnya.
Kuningnya padi di petak-petak sawah pinggir jalan cukup membuai mata, sesekali diselingi dengan lambaian daun salak yang saat itu, sayangnya sedang tidak musim. “Salak memang komoditas utama disini, tapi salak tidak bisa panen setiap saat, ada musim tertentu yang buahnya banyak dan manis,” ujar Dr. Darwis. Kami hanya bisa menikmati runcingnya duri salak sambil membayangkan buahnya yang manis. Nikmat sekali jika makan ditemani pula dengan dengan Kopi Sidimpuan, bah!
Menurut data, daerah ini memang sudah dikenal sebagai sentra salak di Indonesia. Dinas Pertanian Padang Sidimpuan mengatakan bahwa tahun 2018 target buah salak sebanyak 664 ton, tahun 2019 sebesar 781 ton dan tahun 2020 ditargetkan sebesar 825 ton. Ini diyakini menjadi sumber kekuatan ekonomi bagi masyarakat setempat. Dengan jumlah penduduk tahun 2017 mencapai 216.013 jiwa yang terbagi atas 6 kecamatan, salak kemudian memang jadi komoditi andalan, disamping padi, karet, dan berbagai perkebunan lainnya. Sumber ekonomi ini, menyatu dan berhubungan dengan kondisi alam di wilayah ini.
Suasana perbukitan terus membuai kami. Selepas Desa Mompang, tampak sebuah area dengan parkir luas di sebelah kanan jalan. Papan mereknya bertuliskan Kaiser Waterpark dan Waterboom. Ah, ini wahana permainan anak yang tentunya sangat nyaman untuk keluarga. “Jika hari minggu, macet kesini, ramai sekali,” ujar sang teman. Kami tak sempat mampir atau berphoto, ada tujuan lain yang sedang kami kejar. Jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul 16.00 sore.
Deru mesin minibus keluaran 2011 terdengar halus mengikuti kelok liku jalan, sementara beberapa lobang kecil dan kerikil menjadi iramanya. Anak-anak kecil tampak asyik bermain di halaman rumahnya yang hanya berjarak 2 meter dari bibir jalan. Rumah beratap seng (tanpa genteng) menjadi ciri khas daerah ini, seakan menyatu dengan dinginnya udara pegunungan. Wanita dewasa, beberapa gadis tampak bercengkrama di teras-teras rumah. Beberapa dari mereka tampak membawa keranjang, pertanda baru pulang dari kebun atau sawah. Memang di sekitar desa, tepatnya di belakang rumah-rumah penduduk banyak ditemukan kebun dan sawah warga. Uniknya yang banyak tampak beraktifitas di kebun adalah kaum wanita. Ah, kemanakah para lelaki disini? Sekilas saya teringat sebuah riset tentang pola dan pembagian kerja ala masyarakat Tapanuli. Tak usahlah membahas itu, perjalanan kami lanjutkan.
Desa Huraba sudah dilewati, masuklah kami ke Desa Sibio-Bio. Sudah lama terdengar bahwa di daerah ini terdapat objek wisata yang menarik. Namanya Sibio-Bio Adventure Park. Sekilas melihat nama, tentulah ini semacam wahana permainan dengan andalan keindahan alam. Posisinya berada di pinggir jalan dan begitu menggoda untuk dimampiri. Kami hanya melihat dari luar karena bukan itu destinasi sebenarnya.
Jalan aspal yang sebagian sudah terkelupas dan aktifitas pengecoran jalan yang masih berlanjut, kami lewati. Sesampai disebuah tanjakan ringan, mobil berbelok ke kanan. Tak ada penunjuk arah, hanya karena sang sopir sudah paham saja kami tak tersesat. Portal dari besi tampak berdiri, tak dipasang karena hari masih siang. Sebuah gardu kecil dan seorang penjaga menyetop kami. Petugas tiket. Ah, inilah dia tempatnya. Rp. 15.000/orang dibayarkan dan mobil melaju ke tempat parkiran. Sekali lagi tak ada papan mereka atau penanda, setidaknya di awal masuk.
Aek Sabaon atau Air Sawah, itulah nama tempatnya. Nama yang sebetulnya nama desa tempat kawasan wisata ini dibuat. Memasuki areal ini, kami langsung disuguhi dengan pemandangan menarik, rumah-rumah serupa pondok-pondok kecil, jalanan yang sudah diaspal dan dicor bagus. Posisinya berada di lereng perbukitan yang membentang dari barat ke timur. Sebelah barat tampak Bukit Lubuk Raya yang kerap disebut Bukit Pintu Langit, sementara ke atas atau ke timur tampak kaki bukit Sibual-Buali berdiri kokoh. “Sebetulnya itu bukan bukit, tapi kaki Gunung Sibual-Buali, salah satu gunung berapi di Tapsel, kita berada di lerengnya dan sengaja dibuat destinasi wisata keluarga seperti ini,” ujar Harahap, sang manajer lokasi wisata Aek Sabaon.
Objek Wisata Aek Sabaon, merek itu saya temukan di bagian depan bangunan utama yang dibangun didaerah ini. Suasananya khas pedesaan. “Luas lahan yang dijadikan objek ini sekitar 9 Ha. Kita membangunnya dan mulai mengoperasikan sejak 3 tahun lalu, alhamdulillah sekarang sudah banyak masyarakat yang datang, khususnya di hari libur,” ujar Harahap.
Melalui penjelasan Harahap juga kami tahu bahwa objek ini dikelola oleh perorangan, bukan pemerintah. “Pemiliknya adalah salah satu tokoh masyarakat di sini, namanya Pak Enggar, dulu ia anggota DPRD, ia berniat untuk membangun sebuah kawasan wisata keluarga yang nyaman dan bersahabat. Untungnya kita punya alam yang bagus, maka jadilah seperti ini,” jelas Harahap.
Tiga buah kolam, terdiri dari yang paling luas, sedang dan kecil berada di tengah-tengah kawasan. Bangunan utama serupa hall dibuat di bagian tengah. Disisi kolam dibangun pondok-pondok tempat istirahat dan bersantai untuk keluarga. Antara kolam dengan bangunan utama dibuatkan pelataran tempat duduk-duduk dengan hiasan kursi kayu yang nyaman. Ikan-ikan mas berukuran 2-5 kg tampak berlarian di kolam, berkecipak air saat pelet ditebarkan. Dua buah pondok berada agak ke tengah kolam, memberi nuansa lain bagi pengunjung yang ingin merasakan nikmatnya makan ditengah kolam. Bagi pengunjung yang ingin keliling kolam, bisa menyewa permainan bebek-bebekan yang sudah tersedia.
Untuk lebih memanjakan pengunjung, pengelola juga menyiapkan café kecil yang menyajikan kopi panas, capuccino, teh hangat-dingin, gorengan dan penganan tradisional lainnya. Ah, menyeruput segelas kopi panas dan sepiring pisang goreng panas, tentu nikmat sekali. Itulah yang saya lakukan. Nikmat kali, bah!!
Saya lihat ke sisi lain, iringan musik terdengar cukup mengasyikkan, beberapa bendera dan umbul-umbul bermerek salah satu BUMN tampak berkibar. Family Gathering sepertinya jadi lokasi yang cocok. Apalagi ditambah dengan lintasan kawat baja untuk fasilitas Flying Fox melintas di tengah kolam. Bagi yang ingin mencicipi kendaraan khusus roda 4 berkeliling perbukitan juga disediakan. Ya, suasana petualangan di pegunungan juga ditawarkan ke pengunjung. Sangat mengasyikkan dan memanjakan. “Bah, aku yang orang sini aja belum pernah kesini. Bagus kali rupanya tempat ini. Besok kuajak anak biniku kesinilah,” teriak Dr. Darwis kegirangan.
Berada di Aek Sabaon, destinasi wisata yang sengaja di buat penduduk setempat, dikelola dengan manajemen yang baik, mengikuti kontur dan struktur alam, memang mengasyikkan sekali. Untuk objek photo, seperti tak ada habisnya. “Ih serasa berada di Belanda,” ujar Dr. Maftuhkhatussolikhah, rekan seperjalanan. Seakan-akan ini adalah sorga yang tiba-tiba muncul di tengah hutan. Jarak ke rumah atau pemukiman warga cukup jauh, sehingga privasi dan kenyamanan berwisata sangat terjaga.
Ciri khas objek ini adalah kenyamanan berada di areal pegunungan. Udara yang sejuk, pemandangan pepohonan, bukit, gunung, kolam ikan, semua menyatu dalam keramahan penduduk setempat. Untuk konsep wisata keluarga, Aek Sabaon sangat menjanjikan sekali. Sayang sekali, penataan yang sudah sangat baik ini, belum ditunjang oleh promosi yang memadai. Setidaknya, jika sudah ada kerjasama dengan pihak hotel di Padang Sidimpuan atau Medan, dilengkapi pula dengan promosi melalui berbagai media luar ruang, destinasi ini akan menjadi andalan utama di Tapanuli Bagian Selatan. Pada sisi lain, jika ini dikembangkan terus, banyak destinasi lain yang akan mengikutinya. Sangat dimungkinkan jika di luar area Aek Sabaon ini dikembangkan pula destinasi perkebunan salak, budidaya buah naga atau jenis lain yang bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Keterangan yang kami peroleh, Aek Sabaon dan Sibio-Bio bukan satu-satunya objek wisata di sekitar Tapsel. Cukup banyak sasaran lain yang kabarnya tak kalah menarik. Salahsatunya adalah air terjun Aek Sijornih, yang katanya lebih dekat ke Kota Sidimpuan. Suatu saat nanti perlu disiapkan waktu menelusuri tempat lain.
Tanpa terasa hampir 2 jam sudah Aek Sabaon kami nikmati. Sinar matahari semakin redup, dan Bukit Pintu Langit sudah mulai diselimuti awan jingga. Azan magrib tentu akan menjelang, dan kami harus menyudahi kenyamanan ini. Pesan dari Manajer Aek Sabaon, kawasan wisata ini hanya buka sampai jam 19.00 WIB. “Supaya aman dan nyaman, kita belum buat fasilitas penginapan, mungkin nanti, “ujar Harahap.
Minibus kamipun meluncur pelan, menyusuri ulang jalan desa yang mulai berselimut kabut tipis. Beberapa warga yang kami temui tampak mulai bergelung sarung, bersantai di depan rumah, dan sebagian mulai menuju musholla. Suatu saat, Aek Sabaon tentu akan lebih menarik lagi, dan terniat untuk kembali mengulang jejak, sekaligus mencari destinasi lain yang belum terdatangi. Tapanuli Selatan selalu menyimpan misteri yang mengejutkan. *Oleh : Dr. Yenrizal, M.Si
