OKI Maju Bersama

Waspada Diare dan DBD di OKI, Puskesmas Diminta Siaga dan Warga Dihimbau Jaga Kebersihan

2
×

Waspada Diare dan DBD di OKI, Puskesmas Diminta Siaga dan Warga Dihimbau Jaga Kebersihan

Sebarkan artikel ini
pemkab muba

OKI — Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi peningkatan kasus diare dan demam berdarah dengue (DBD). Langkah tersebut dilakukan melalui penguatan pemantauan kasus, upaya pencegahan, serta imbauan kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten OKI dr. H. Henry Yanridho AP melalui Fahmi menyampaikan, bahwa pihaknya telah meminta seluruh Pimpinan Puskesmas untuk meningkatkan pemantauan, pencegahan, penemuan, dan penanganan kasus diare di wilayah kerja masing-masing.

Berdasarkan data yang disampaikan, pada bulan ini tercatat 16 pasien diare dan dua pasien muntaber menjalani rawat jalan. Sementara itu, pasien yang menjalani rawat inap tercatat sebanyak 129 orang dengan diare dan 14 orang dengan muntaber.

Selain itu, laporan pasien DBD yang menjalani perawatan di RSUD Kayuagung pada bulan ini tercatat sebanyak enam orang.

“Data tersebut menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat langkah pencegahan. Namun, angka-angka tersebut perlu ditinjau berdasarkan periode pendataan dan cakupan wilayah masing-masing agar tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru terkait tren peningkatan kasus,” kata dia, Kamis (29/10/2026).

Untuk mengantisipasi kemungkinan lonjakan kasus diare, Dinas Kesehatan OKI meminta seluruh Puskesmas meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya diare dan pentingnya segera mendapatkan pertolongan medis apabila mengalami gejala penyakit tersebut.

“Pasien diare yang menjalani rawat jalan juga perlu terus dipantau untuk mencegah kondisi memburuk serta mengurangi risiko kematian akibat diare. Upaya pencegahan turut difokuskan pada kebersihan lingkungan, kebiasaan mencuci tangan, pengelolaan sampah, serta perlindungan sumber air bersih dari pencemaran,” jelasnya.

Masyarakat diimbau memastikan sumur memiliki penutup dan pelindung yang memadai, terutama sumur yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan air minum dan memasak. Bagi desa yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih, warga diminta tidak menggunakan air kotor atau tercemar untuk kebutuhan konsumsi.

Dinas Kesehatan juga mendorong pelaksanaan kaporisasi sumur apabila diperlukan, peningkatan penerapan PHBS, serta kebiasaan merebus air sebelum diminum. Peralatan makan dan minum yang telah dicuci hendaknya disimpan di tempat tertutup agar terhindar dari debu dan kotoran.

Di tingkat pelayanan kesehatan, Puskesmas diminta menyiapkan pojok oralit dan klinik sanitasi. Penyuluhan mengenai PHBS, diare, serta cara membuat oralit di rumah juga perlu ditingkatkan melalui kegiatan posyandu dengan melibatkan kader kesehatan.

“Apabila ditemukan peningkatan kasus yang tidak biasa atau dugaan kejadian luar biasa (KLB), Puskesmas diminta segera melaporkannya kepada Dinas Kesehatan Kabupaten OKI melalui bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P),” terang dia.

Disisi lain, Dinas Kesehatan OKI juga telah menyampaikan surat imbauan kepada seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), camat, kepala desa, dan lurah agar meningkatkan upaya pencegahan dan pengendalian DBD.

Salah satu langkah yang ditekankan adalah pelaksanaan kegiatan Jumat Bersih secara rutin setiap pekan di lingkungan rumah dan perkantoran. Kegiatan tersebut dipadukan dengan pemantauan jentik nyamuk serta pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus.

Gerakan tersebut meliputi menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penyimpanan air, serta mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

Adapun langkah Plus mencakup berbagai tindakan tambahan untuk mencegah gigitan dan perkembangbiakan nyamuk, seperti menggunakan obat antinyamuk, memasang kawat kasa, serta menghilangkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Pencegahan DBD membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu, kegiatan kebersihan lingkungan diharapkan tidak hanya dilakukan saat muncul kasus, tetapi juga menjadi kebiasaan rutin di rumah, sekolah, perkantoran, dan lingkungan permukiman.

“Kami mengimbau masyarakat segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami diare berulang, muntah, atau tanda-tanda dehidrasi. Sementara itu, masyarakat yang mengalami demam disertai gejala yang mengarah pada DBD juga diharapkan segera menjalani pemeriksaan medis,” terang dia.

“Penguatan kewaspadaan di tingkat Puskesmas, rumah sakit, pemerintah kecamatan, desa, dan kelurahan diharapkan dapat membantu mendeteksi kasus lebih dini serta mencegah penyebaran penyakit di Kabupaten OKI,” tambahnya. (Jang Mat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *