Lahat, – Sosok Letnan Kolonel Infanteri (Letkol Inf) David Jihandika Henry Wijayanto SH MSos, kini jadi salah satu figur penting dalam jajaran TNI Angkatan Darat di Kabupaten Lahat. Ia dipercaya mengemban tugas sebagai Komandan Kodim (Dandim) 0405/Lahat, setelah sebelumnya memiliki pengalaman memimpin satuan tempur di lingkungan Kostrad.
David Jihandika bukanlah perwira yang baru mengenal dunia kepemimpinan militer. Sebelum dipercaya memimpin Kodim 0405/Lahat, ia pernah menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) 502/Ujwala Yudha Kostrad yang bermarkas di Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Satuan tersebut merupakan bagian dari Brigif 18/Trisula Kostrad dan dikenal sebagai satuan Para Raider. Pengalaman memimpin satuan tempur tersebut, jadi bagian penting perjalanan karier David, sebelum dipercaya mengemban tanggung jawab teritorial di Kabupaten Lahat.
Namun, perjalanan karier David di dunia militer, tidak hanya dibentuk dari pengalaman memimpin satuan. Perwira lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 2006 ini, juga miliki rekam jejak penugasan di dalam maupun luar negeri.
Di dalam negeri, David pernah jalani penugasan Satgas Poso pada tahun 2015. Sepuluh tahun kemudian, ia kembali mendapat pengalaman penugasan melalui Satgas Rajawali III tahun 2025.
Pengalamannya di medan penugasan juga membawanya ke lingkungan internasional. David tercatat pernah jalani penugasan UNIFIL/PBB pada 2012. Dua tahun kemudian, pada 2014, ia ikuti program Exchange. Pengalaman kerja sama militer internasional kembali dilanjutkan melalui Latihan Bersama JOCIT pada 2018. Setahun berikutnya, David kembali mendapat kepercayaan jalankan penugasan UNIFIL/PBB pada 2019.
Rangkaian pendidikan dan penugasan tersebut jadi bagian dari perjalanan panjang suami Rina Anindiati Tanjung SIP, sebagai perwira TNI AD. Pengalaman tersebut kini dibawanya memimpin Kodim 0405/Lahat.
David mengatakan, peralihan dari satuan tempur ke komando kewilayahan, punya tanggung jawab yang berbeda. Sebagai Dandim 0405/Lahat, ia tidak hanya berhadapan dengan persoalan pertahanan dan keamanan, tapi juga dituntut membangun komunikasi dengan pemerintah daerah, kepolisian, tokoh masyarakat serta berbagai elemen masyarakat.
“Ini sebuah tantangan. Jika di satuan tempur tuntutan utama berkaitan dengan kesiapan dan kemampuan operasional prajurit, maka di wilayah teritorial kedekatan dengan masyarakat jadi salah satu bagian penting dalam menjalankan tugas,” ujarnya. Sfr













