Hardi, salah satu keluarga pasien menuturkan bahwa salah satu keluarganya masuk berobat ke RSUD Kayuagung sejak beberapa hari terakhir dan sangat membutuhkan tiga kantong darah golongan A.
“Kami berobat ke rumah sakit ini bukan menggunakan BPJS, tapi umum. Menginggat pasien kekurangan darah, jadi salah satu keluarga sendiri yang mendonorkan darah. Tapi masih dipinta uang Rp501.000,” ujarnya, Jum’at (6/1).
Dia menilai biaya Rp501.000 untuk penggantian kantong darah sangat mahal. Apalagi menurut orang-orang yang sudah mengalami hal ini hanya mengeluarkan Rp360.000 per kantong.
“Tapi mau bagaimana lagi, ini demi kesembuhan keluarga. Bagaimana bagi orang yang tidak mampu tanpa adanya kartu BPJS ataupun Jamsoskes Semesta, apakah biaya itu masih tetap berlaku. Pastinya sangat memberatkan,” jelasnya.
Sayangnya, Direktur RSUD Kayuagung dr Dedi Sumantri saat dikonfirmasi via telpon selulernya beberapa kali tak kunjung diangkat.
Terpisah, Sekretaris PMI OKI Sirni Lestari membantah keras adanya jual beli darah di RSUD Kayuagung. Hanya saja selama ini, bagi yang mendonorkan darah dikenakan biaya untuk penggantian kantong, jasa, laboratorium dan lainnya sebesar Rp501.000 per kantong. Sementara kalau membeli darah di rumah sakit Rp1.002.000 per kantong.
“Dalam aturannya memang seperti itu. Ada penggantian plastik. Darah itu juga diuji ke laboratoriun untuk memastikan layak atau tidak darah yang didonorkan sebelum ditransfusikan ke pasien membutuhkan,” jelasnya. (Romi)













