Ekonomi & Bisnis

Direktur SDM Pelindo: Industri dan Pendidikan Harus Terbuka

336
×

Direktur SDM Pelindo: Industri dan Pendidikan Harus Terbuka

Sebarkan artikel ini
l28r5sha
pemkab muba pemkab muba

JAKARTA I Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) Pelindo I Hamid Wijaya menilai, dibutuhkan keterbukaan antara industri atau dunia usaha dengan pemerintah untuk memperbaiki kualitas SDM Indonesia. Khususnya di tengah digitalisasi yang berpotensi mengancam penggunaan tenaga kerja di industri padat karya.

Hamid mengatakan, permasalahan dalam sektor ketenagakerjaan saat ini adalah kesenjangan antara dunia usaha dengan dunia pendidikan yang belum juga menyempit. Masih terjadi mismatch atau ketidaksesuaian antara ketersediaan SDM dari institusi pendidikan dengan kebutuhan industri.

“Ini yang menuntut keterbukaan dua pihak,” tuturnya, Senin (11/11/2019).

Kesenjangan itu dirasakan sendiri oleh Hamid. Di Pelindo I, kegiatan surat menyurat sudah menggunakan sistem elektronik atau digital, dimana penomoran dan filing secara otomatis dilakukan oleh sistem.

Sedangkan, lembaga pendidikan yang mengajarkan karyawan Pelindo I mengenai kesekretariatan justru mengajari secara manual mengenai penomoran surat, penulisan surat dinas dan sebagainya. “Kemudian, kami dikomplain karena tidak lagi mengirimkan pegawai mengikuti pelatihan,” kata Hamid.

Hamid menjelaskan, dunia industri secara terbuka berbagi ke dunia pendidikan mengenai sistem apa saja yang telah dijalankan secara digital. Dengan begitu, kurikulum pendidikan dapat menyesuaikan. Pun dengan sebaliknya, dimana dunia pendidikan dapat share informasi mengenai hambatan dalam mengajarkan kompetensi yang dibutuhkan.

Keterbukaan ini harus difasilitasi oleh pemerintah. Hamid menyebutkan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim memiliki tugas untuk membuat industri dan pendidikan saling terbuka.

Keterbukaan itu semakin dituntut mengingat Indonesia sudah menghadapi revolusi industri 4.0. Hamid menuturkan, penggunaan SDM untuk industri padat karya sedang terancam digantikan oleh mesin atau robot. Apabila mismatch terus berlangsung, ia cemas semakin banyak masyarkat yang tidak terserap lapangan kerja.

Hamdi menyebutkan, penggunaan robot atau mesin di industri bukan tanpa sebab. Otomatisasi dilakukan mengingat kualitas produk yang dihasilkan dapat sesuai dengan keinginan dari desain awal. “Sedangkan SDM di industri padat karya sangat tergantung pada produktivitas yang tinggi,” katanya. (*)

Sumber: republika.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *