Ogan Komering Ilir | Tak bisa disangkal akses air bersih bagi kehidupan masyarakat desa lingkis kecamatan jejawi kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan sangat dibutuhkan mengingat 80 persen masyarakat desa tersebut masih masih bertumpuh di sungai lingkis untuk mencuci baju, mandi sampai dengan memasak.
Buruknya kualitas air Sungai desa lingkis membuat masyarakat setempat menjerit hal ini sudah terjadi sejak dua tahun terakhir.
Sebagian warga menilai buruknya kualitas air sungai di desa tersebut karena air sungai yang tercemar limbah perusahaan perkebunan sawit yang berada di bagian hulu sungai.
Soal dugaan tersebut, Aris Panani, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten OKI, menjelaskan pihaknya belum dapat memastikan kualitas air Sungai desa lingkis. Karena, belum dilakukan penelitian. Namun, kata dia, pihaknya sudah mengambil beberapa sample air untuk dilakukan penelitian dan hasilnya baru akan diketahui lebih kurang 10 hari kedepan.
“Hari ini sudah kita ambil beberapa sample air dan sudah dibawa ke balai penelitian di palembang untuk dilakukan riset, jadi saat ini belum bisa diberitahukan statusnya,” jelasnya.
Menurutnya, belum dapat dipastikan apakah air sungai tersebut tercemar oleh limbah perusahaan atau bisa jadi akibat peralihan musim, dari kemarau ke penghujan.
Bisa jadi akibat curah hujan yang meningkat, menyebabkan air dari rawa meluap dan masuk ke sungai sehingga mencemari sungai.
Sementara, mengenai masyarakat yang menderita gatal-gatal akibat mandi dengan air sungai, pihaknya tidak dapat berspekulasi apakah itu memang disebabkan oleh air sungai atau memang disebabkan oleh hal lainnya.
“Yang bisa menyimpulkan itu dari kesehatan,”katanya.
Warga Mengalami Gatal-Gatal Usai Mandi di Sungai
Puluhan warga desa lingkis kecamatan jejawi Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan mengeluh menderita penyakit gatal-gatal usai mandi di sungai.
Setidaknya sekitar 50 warga yang melaporkan hal tersebut kepada pemerintah desa setempat.
“Sejak dua tahun terakhir kondisi sungai di desa ini sudah mulai tercemar hanya saja tahun ini lebih parah,”ujar Midin warga setempat yang juga mengalami gatal-gatal.
Menurutnya, bukan hanya dirinya bahkan hampir seluruh keluarganya mengalami gatal hingga koreng karena mandi dan mengkonsumsi air sungai yang diduga tercemar limbah sawit.
“Sempat diobati menggunakan minyak hilang sebentar kambuh lagi karena mandi dan mencuci menggunakan air ini,”ungkapnya.
Hal senada diungkapkan Amran warga desa lingkis yang tinggal dipinggiran sungai dan mengalami gatal-gatal.
Menurutnya, dirinya sudah menderita gatal-gatal sejak dua pekan terakhir gejalanya keluar bintik-bintik merah dan gatal.
Terpisah Kepala Desa Lingkis, Sopianto S.Kom mengungkapkan, saat ini lebih dari 20 kepala keluarga yang tinggal di desa ini mengalami gatal-gatal karena 80 persen warganya menggunakan air sungai ini untuk keperluan mandi dan memasak. “Kalau yang melapor gatal sudah 50 orang ke kantor,”bebernya.
Gejalanya sama menimbulkan bintik, berair seperti biang keringat bahkan ada yang koreng sering di garuk.
Untuk saat ini, katanya kebanyakan warga berobat sendiri karena belum ada pengobatan gratis baik dari Dinkes maupun puskesmas setempat.
Pihaknya beruntung dari DLHK langsung turun ke lapangan mengambil sampel. Apapun nanti hasilnya semoga warga mendapatkan kejelasan kalau memang limbah dari PT SUN Sawit minta segera ditindaklanjuti.
PT SUN Sawit Yakini Bukan Limbah Perusahaan yang Mencemari Sungai
Sementara itu, PT Sun Sawit yang merupakan perusahaan sawit yang beroperasi di hulu sungai lingkis tepatnya di desa Cempedak menepis kalau limbah yang mengotori sungai tersebut adalah limbah perusahaan.
Sebagaimana disampaikan Kepala Tata Usaha PT SUN Sawit, Feri menurutnya, limbah yang mencemari sungai itu bukan limbah perusahaan karena pihaknya sudah memiliki pengelolaan limbah sendiri. Akan tetapi pihaknya tetap menunggu hasil uji lab dari DLHK OKI.
Berdasarkan informasi dari masyarakat sejak perusahaan berdiri selama 10 tahun terakhir belum ada kontribusi perusahaan untuk masyarakat.
Bahkan, Perusahaan yang memiliki 256 hektar lahan sawit ini tidak ada plasma untuk masyarakat, perekrutan karyawan hanya segelintir menerima putra daerah.
Perusahaan hanya membagikan beras 1 tahun sekali hanya untuk 60 kepala keluarga. Ia meminta masalah ini dapat segera diselesaikan karena menyangkut hajat hidup orang banyak. “Saya takut kalau dampaknya bisa hingga 20 tahun kedepan,”kata Kepala Desa Lingkis. (Romi)













