Berita Daerah

80 Persen Masyarakat Desa Lingkis Masih Menggunakan Air Sungai

307
×

80 Persen Masyarakat Desa Lingkis Masih Menggunakan Air Sungai

Sebarkan artikel ini
Screenshot_20220420-224232_Gallery
pemkab muba pemkab muba

Ogan Komering Ilir | Tak bisa disangkal akses air bersih bagi kehidupan masyarakat desa lingkis kecamatan jejawi kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan sangat dibutuhkan mengingat 80 persen masyarakat desa tersebut masih masih bertumpuh di sungai lingkis untuk mencuci baju, mandi sampai dengan memasak.

Buruknya kualitas air Sungai desa lingkis membuat masyarakat setempat menjerit hal ini sudah terjadi sejak dua tahun terakhir.

Sebagian warga menilai buruknya kualitas air sungai di desa tersebut karena air sungai yang tercemar limbah perusahaan perkebunan sawit yang berada di bagian hulu sungai.

Soal dugaan tersebut, Aris Panani, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten OKI, menjelaskan pihaknya belum dapat memastikan kualitas air Sungai desa lingkis. Karena, belum dilakukan penelitian. Namun, kata dia, pihaknya sudah mengambil beberapa sample air untuk dilakukan penelitian dan hasilnya baru akan diketahui lebih kurang 10 hari kedepan.

80 Persen Masyarakat Desa Lingkis Masih Menggunakan Air Sungai
Tim Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten OKI saat mengambil sample air di sungai lingkis, Rabu (20/4/2022).

“Hari ini sudah kita ambil beberapa sample air dan sudah dibawa ke balai penelitian di palembang untuk dilakukan riset, jadi saat ini belum bisa diberitahukan statusnya,” jelasnya.

Menurutnya, belum dapat dipastikan apakah air sungai tersebut tercemar oleh limbah perusahaan atau bisa jadi akibat peralihan musim, dari kemarau ke penghujan. 

Bisa jadi akibat curah hujan yang meningkat, menyebabkan air dari rawa meluap dan masuk ke sungai sehingga mencemari sungai.

Sementara, mengenai masyarakat yang menderita gatal-gatal akibat mandi dengan air sungai, pihaknya tidak dapat berspekulasi apakah itu memang disebabkan oleh air sungai atau memang disebabkan oleh hal lainnya.

“Yang bisa menyimpulkan itu dari kesehatan,”katanya.

Warga Mengalami Gatal-Gatal Usai Mandi di Sungai

Puluhan warga desa lingkis kecamatan jejawi Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan mengeluh menderita penyakit gatal-gatal usai mandi di sungai.

Setidaknya sekitar 50 warga yang melaporkan hal tersebut kepada pemerintah desa setempat.

“Sejak dua tahun terakhir kondisi sungai di desa ini sudah mulai tercemar hanya saja tahun ini lebih parah,”ujar Midin warga setempat yang juga mengalami gatal-gatal.

80 Persen Masyarakat Desa Lingkis Masih Menggunakan Air Sungai
Kondisi warga yang terserang gatal-gatal dengan bintik-bintik merah.

Menurutnya, bukan hanya dirinya bahkan hampir seluruh keluarganya mengalami gatal hingga koreng karena mandi dan mengkonsumsi air sungai yang diduga tercemar limbah sawit.

“Sempat diobati menggunakan  minyak  hilang sebentar kambuh lagi karena mandi dan mencuci  menggunakan air ini,”ungkapnya.

Hal senada diungkapkan Amran warga desa lingkis yang tinggal dipinggiran sungai dan mengalami gatal-gatal.

Menurutnya, dirinya sudah menderita gatal-gatal sejak dua pekan terakhir gejalanya keluar bintik-bintik merah dan gatal.

Terpisah Kepala Desa Lingkis,  Sopianto S.Kom mengungkapkan,  saat ini lebih dari 20 kepala keluarga  yang tinggal di desa ini mengalami gatal-gatal karena 80 persen warganya menggunakan  air sungai ini untuk  keperluan  mandi dan memasak. “Kalau yang melapor gatal sudah 50 orang ke kantor,”bebernya.

Gejalanya sama menimbulkan bintik,  berair seperti  biang keringat bahkan ada yang koreng sering di garuk.  

Untuk  saat ini, katanya kebanyakan  warga berobat sendiri  karena belum ada pengobatan  gratis baik dari Dinkes maupun puskesmas setempat. 

Pihaknya  beruntung dari DLHK langsung turun ke lapangan  mengambil sampel. Apapun nanti hasilnya semoga warga mendapatkan kejelasan  kalau memang  limbah dari PT SUN Sawit minta segera  ditindaklanjuti. 

PT SUN Sawit Yakini Bukan Limbah Perusahaan yang Mencemari Sungai

Sementara itu, PT Sun Sawit yang merupakan perusahaan sawit yang beroperasi di hulu sungai lingkis tepatnya di desa Cempedak menepis kalau limbah yang mengotori sungai tersebut adalah limbah perusahaan. 

Sebagaimana disampaikan Kepala Tata Usaha PT SUN Sawit, Feri menurutnya, limbah yang mencemari sungai itu bukan limbah perusahaan karena pihaknya  sudah memiliki  pengelolaan  limbah sendiri. Akan tetapi pihaknya tetap menunggu  hasil uji lab dari DLHK OKI.

Berdasarkan informasi dari masyarakat sejak perusahaan berdiri selama 10 tahun terakhir belum ada kontribusi perusahaan untuk masyarakat.

80 Persen Masyarakat Desa Lingkis Masih Menggunakan Air Sungai
Pabrik PT Sun Sawit yang berada di hulu sungai lingkis.

Bahkan, Perusahaan yang memiliki  256 hektar lahan sawit ini tidak ada plasma untuk  masyarakat,  perekrutan karyawan hanya segelintir  menerima putra daerah.

Perusahaan hanya membagikan beras 1 tahun sekali hanya untuk  60 kepala keluarga. Ia meminta  masalah ini dapat segera  diselesaikan  karena menyangkut  hajat hidup orang banyak. “Saya takut kalau dampaknya bisa hingga 20 tahun kedepan,”kata Kepala Desa Lingkis. (Romi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *