PALI –Masyarakat Tempirai, Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten PALI, melakukan upaya pelestarian sastra tutur melalui kegiatan bedah buku “Sastra Tutur dan Lainnya di Tempirai” dan pemutaran film dokumenter tentang sastra tutur dan berbagai tradisi di Tempirai.
Kegiatan ini dilaksanakan di Balai Desa Tempirai Timur, yang diselenggarakan Kampung Inggris Tempirai dengan dukungan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VI Sumatera Selatan, Sabtu (25/1/2026).
Acara bedah buku ini dihadiri beberapa pelestari sastra tutur dan tradisi lainnya di Tempirai yang masih bertahan. Antara lain Cik Ona (83), Cik Yu (72), Murmina (82), Sari Wangi (67), Kunci Madehun (63), serta Nurjanah (75) sebagai pelestari tari lading, dan Suhardi (48) dan Sukardi (41) sebagai pelestari seni kuntau. Dua penutur muda juga hadir, yakni James (16) dan Deca (17).
“Sepanjang hidup saya, baru yang ini saya merasa mendapat penghargaan luar biasa. Senang nian,” kata Murmina, salah satu pelestari sastra tutur.
“Sastra tutur ini adalah cara leluhur kita mengungkapkan kecerdasan, kearifan, spiritualitasnya. Dari sana mereka mengajarkan bagaimana manusia bersikap dengan alam, kepada sesama, dan kepada yang maha kuasa,” kata Amrullah Marsup sebagai penulis buku “Sastra Tutur dan Lainnya di Tempirai”.
Dijelaskan Amrullah, sastra tutur yang bertahan di Tempirai seperti senjang, dundai, petuoh, hingga legenda merupakan media pendidikan budaya yang diwariskan secara lisan. Namun seiring berkurangnya penutur, banyak sastra tutur tersebut terancam hilang.
“Selama ini sastra tutur hanya hidup dalam ingatan orang-orang tua. Kalau tidak kita tuliskan sekarang, bisa jadi anak cucu kita nanti tidak lagi mengenalnya,” katanya.
Dalam buku tersebut Amrullah mendokumentasikan berbagai sastra utur yang masih dikenal masyarakat Tempirai, termasuk legenda “Danau Burung” dan “Putri Darah Putih”, serta berbagai tuturan ritual dan ungkapan syukur masyarakat. Seluruh materi digali langsung dari para pelestari sastra tutur dan pelaku budaya setempat yang masih hidup.
Sementara Dian Maulina, akademisi UIN Raden Fatah Palembang, menjelaskan sastra tutur merupakan bagian dari memori kolektif masyarakat yang lahir dari relasi panjang antara manusia dan lingkungan.
“Kebudayaan itu adalah memori. Memori tentang alam, tentang pengalaman hidup, dan tentang bagaimana manusia bertahan. Sastra tutur adalah ingatan-ingatan itu,” kata Dian.
Menurutnya, proses penyusunan buku ini bukan hanya kerja akademik, melainkan upaya menghidupkan kembali ingatan kolektif yang selama ini tersebar dalam cerita-cerita lisan.
“Kami tidak menciptakan cerita baru. Kami hanya mengumpulkan, mendengarkan, dan menuliskan kembali apa yang hidup di tengah masyarakat Tempirai,” katanya.
Dian berharap buku ‘Sastra Tutur dan Lainnya di Tempirai’ dapat menjadi jembatan antargenerasi sekaligus sumber pembelajaran budaya bagi generasi muda.
“Apa yang ditulis Amrullah ini mungkin haya setitik dari proses kebudayaan yang panjang. Tapi setitik ini penting agar generasi berikutnya punya pijakan untuk melanjutkan cerita mereka sendiri,” kata Dian Maulina sebagai editor buku tersebut.
Tati Yusita, dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VI Sumatera Selatan, yang hadir dalam kegiatan tersebut, menyatakan apresiasi terhadap masyarakat Tempirai yang sudah mengangkat tradisi kearifan lokalnya. Dan menyatakan terima kasih kepada para maestro sastra tutur yang masih aktif melestarikan sastra tutur tanpa memandang usia mereka yang telah lanjut.
“Kepada Kajut dan Pugok terima kasih, kalian bagi saya merupakan pejuang untuk menyampaikan pesan luhur kepada generasi sekarang tanpa memandang usia yang telah lanjut,” kata Tati.
Selain itu, Tati juga mengajak semua pihak, untuk terus melestarikan dan mengembangkan kebudayaan secara bersama-sama, dan tidak hanya untuk masyarakat Desa Tempirai, juga wilayah lain yang memiliki kebudayaannya.
“Ayo kita bersama-sama melestarikan dan mengembangkan kebudayaan yang ada di daerah kita masing-masing,” ujarnya.
Tati juga berharap dilakukan penggalian potensi budaya yang ada di Tempirai, sehingga lahir maestro baru sebagai penerus sastra tutur.
“Harapan saya cukup besar, untuk terus menggali potensi-potensi kebudayaan yang ada agar terlahir maestro-maestro baru dari generasi sekarang,” katanya.
Fahrudin, Camat Penukal Utara, mengatakan kegiatan budaya di Tempirai yang kali pertama didukung Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VI Sumsel, membuktikan jika Tempirai adalah daerah yang memiliki jejak budaya yang luhur. Bukan sebatas wilayah administratif. “Jejak budaya ini tumbuh dan berkembang selama ratusan tahun, sehingga kita wajib menggali dan menjaganya, sebagai modal kita untuk membangun karakter manusia di Penukal Utara, khususnya di Tempirai.” * Mohamad Shabir Al Fikri
