Oleh : Nico Oktario Adytyas,.M.A
(Peneliti Politik Mahija Institute/Dosen Politik Islam UIN Raden Fatah Palembang)
Hajat besar politik di Indonesia akan dilaksanakan berturut-turut mulai tahun 2018 dan puncaknya akan dilaksanakan pileg dan pilpres pada tahun 2019. Sebelum beranjak pada hajat utama pada 2019, semua kader partai politik mulai memanaskan “mesin” mereka di tahun 2018 ini, dengan mempersiapkan diri pada pilkada yang berlangsung di 171 daerah di seluruh Indonesia.
Ada beberapa daerah sentral yang dianggap menjadi daerah penting guna membaca alur suara yang akan mengalir pada pileg dan pilpres 2019. Salah satunya adalah penting kiranya kita menyoroti kontestasi pilkada di Sumsel, terutama kota Palembang. Dalam beberapa tahun belakangan Palembang menjadi salah satu kota yang menjadi sorotan publik nasional, bahkan hingga dunia, dengan berbagai capaian yang telah diraih dengan berbagai prestasi yang mengemuka dan banyak lagi alasan-alasan lain yang menyatakan bahwa Palembang menjadi daerah penting dalam pembahasan perebutan tahta pemimpin disini. Kemajuan kota Palembang yang terlihat dengan berbagai infrastruktur sebagai penunjangnya, namun bila dikaji lebih dalam masih banyak masalah-masalah besar yang menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan oleh para stakholders dalam kota yang juga akan menjadi tuan rumah Asian Games di tahun 2018 tersebut.
Permasalahan Kota palembang yang cukup dinamis dan kompleks harus segera diselesaikan tanpa harus menunggu lebih lama lagi. Dengan memilih pemimpin yang tepat menjadi salah satu kunci agar segera semua masalah di kota ini dapat teratasi. Rekam jejak para calon walikota bisa menjadi referensi para calon pemilih untuk menetapkan pilihannya. Butuh orang yang benar-benar tepat, guna memimpin Kota Palembang. Para calon pemimpin harus benar benar memiliki kriteria yang sangat mumpuni guna memimpin sebuah kota yang permasalahannya cukup kompleks, masyarakatnya yang begitu beragam, dan permasalahan yang cukup banyak terutama permasalahan yang biasanya dihadapi oleh kota urban.
Banyak indikator dapat menjelaskan bagaimana kriteria seorang pemimpin yang baik, namun kiranya di era ini, tuntutan pemimpin yang bersih menjadi syarat mutlak yang harus dimiliki. Rekam jejak para calon kepala daerah dapat merepresentasikan bagaimana kualitas seseorang dalam memimpin kelak. Kemudian, faktor lain yang bisa menjadi pertimbangan adalah bagaimana seseorang calon berada dalam lingkaran politik yang ada disekelilingnya, ketika ada seorang calon berada dalam lingkaran politik yang terindikasi membawa dosa masa lalu, para pemilih juga harus berani mempertanyakan dan menilai tentang integritas para calon yang ada dalam lingkup politik yang pernah memiliki masalah masa lalu terutama tentang masalah KKN. Karena integritas seorang calon juga tergantung bagaimana refleksi orang-orang yang ada disekitarnya, bukan tidak mungkin, masalah masalah KKN akan muncul kembali ketika terpilihnya seorang pemimpin yang berasal dari orang-orang yang berada dalam lingkaran suatu kelompok tersebut.
Ketika seorang pemimpin sudah tidak memiliki tanggungan “dosa” masalalu, maka hal tersebut menjadi langkah awal yang baik dari setiap pemimpin. Kemudian para calon pemimpin harus bertarung dalam ranah pertarungan program/ visi dan misi. Kota Palembang butuh suatu program yang transformatif yang peka terhadap bagaimana masalah perkotaan, bukan hanya program populis yang efeknya tidak begitu dirasa oleh masyarakat. Permasalahan perkotaan membutuhkan sorang pemimpin yang tegas dan berani guna menertibkan segala carut marutnya keadaan di kota Palembang, karena Sesempurna apapun suatu program kerja, tetap tergantung bagaiamana komando dari seorang pemimpin, dalam mengimplementasikan program-program yang telah dirancang. Sifat yang tegas dan berpengalaman menjadi kriteria mutlak yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, terutama apabila dihadapkan dalam mengambil suatu keputusan ataupun kebijakan yang terkadang sangat rentan akan menimbulkan pro kontra di tengah masyarakat perkotaan. Maka berhati hatilah memutuskan pilihan, karena setiap tokoh punya aib (Jorge Luis)
