Berita Daerah

Memburu Pesona Lain di Pulau Buru

878
Gerbang masuk Kabupaten Buru

Di Tanah Itulah Kemudian Kaki ini Menjejak

Bekas Kamp Pengasingan Pulau Buru beritamusi.co.id/Yenrizal


Tujuan pertama adalah hotel. Semalaman di kapal cukup membuat penat. Hotel Awista, satu-satunya hotel yang dianggap paling representatif di pulau ini, menjadi persinggahan sementara. Tak ada air panas untuk mandi, tapi cukuplah untuk ukuran pemula di Buru. AC, TV, kasur yang lumayan empuk, shower mandi khusus air dingin, sudah sangat memadai.

Sasaran pertama hari ini adalah pantai. Ya, Pulau Buru memang dikelilingi laut, karena itu destinasi wisata ke pantai pastilah jadi andalan utama. Jikumerasa, itulah pantai terdekat dari ibukota Namlea. Menjejakkan kaki di pasir laut ini, terasa kehangatan bulir putih nan berkilau. Suasana pantai lengang, hanya ada dua rumah dan beberapa pondok istirahat. Di sebelah kiri tampak hamparan pohon pinus, menyejukkan mata terkena hembusan angin laut. Nun di tengah, birunya laut terasa luas dan mempesona. Disisi lain tampak perbukitan khas Pulau Buru, berlekuk-lekuk bagaikan melihat film anak-anak, teletubbies.

“Kalau hari libur, sabtu minggu, pantai ini biasanya ramai sama penduduk sini,” ujar seorang ibu sembari menyodorkan sepiring rujak. Logat bicara yang khas Indonesia timur terdengar kental dari mulutnya. Mamaeeee…

Menuju Jikumerasa hanya butuh 15 menit dari Namlea. Aspal mulus, jalan yang lengang, diselingi dengan hamparan pepohonan minyak kayu putih (cajuput), menjadi pemandangan khas selama perjalanan. Ya minyak kayu putih, sudah lama menjadi andalan dan ikon Pulau Buru. Saya betul-betul tidak habis pikir, tanaman ampuh untuk obat masuk angin ini, tumbuh seperti hutan pohon gelam jika di Sumsel, bebas dan liar begitu saja. Betul-betul potensi yang luar biasa. Belakangan diketahui, banyak usaha penyulingan minyak kayu putih telah dilakukan masyarakat, kendati masih secara tradisional. Ah, destinasi oleh-oleh sudah jelas, minyak kayu putih yang asli tulen.

Di ujung pantai ini, berjarak sekitar 3 km, sebuah megaproyek sedang dibangun. Tampak hamparan luas terbentang. Itulah proyek pembangunan Bandara Internasional Namlea. Dengan target menjadi sentra pariwisata Indonesia Timur, Pulau Buru terus mempersiapkan segala infrastruktur. Sarana transportasi adalah target utama.

Puas menikmati pesona Jikumerasa, sasaran selanjutnya adalah Pantai Merah Putih. Lagi-lagi, suasana laut mempesona. Lokasinya sangat mudah dijangkau karena berada di pusat kota Namlea. Kampung Lama, begitulah orang menyebutnya. Beberapa kapal nelayan dan kapal penumpang tampak bersandar, kesibukan daerah pelabuhan juga terasa. Inilah salah satu wilayah andalan di Pulau Buru.

Tak jauh dari pantai ini, tampak sebuah tugu berwarna hitam menggambarkan kepalan tangan seperti mengarahkan tinju ke langit. Itulah tugu Bung Karno. Konon, Bung Karno pernah berpidato ke daerah ini, dan salah satu ucapannya diabadikan di tiang tugu “Indonesia Tanpa Buru Bukanlah Indonesia”.

Puas dari kota Namlea, maka wilayah pedesaan Buru harus pula terjelajahi. Pertanyaan besar saat masuk ke pulau ini, haruslah pula terjawab, termasuk titipan dari teman, “jangan lupa berphotolah di rumah bekas Pram (Pramoedya Ananta Toer) dulu pernah ditahan.” Ah, ini dia yang harus dilacak. Maka, Desa Savana Jaya, Desa Mako (Markas Komando) Waenetat, Desa Sanleko, Desa Grandeng adalah tujuan utama. Cerita dan penelusuran sebelumnya menunjukkan bahwa wilayah inilah pusat penahanan eks tapol jaman dulu.

Menggunakan transportasi darat, perjalanan terasa lancar. Lagi-lagi, aspal yang mulus dan halus menyamankan suasana. Sayang sarana transportasi umum masih sulit di daerah ini, karena itu mencarter mobil pribadi adalah pilihan utama. Jalan menuju desa-desa tersebut juga perjalanan mengasyikkan, terutama saat memasuki daerah Sanliong. Indahnya perbukitan yang berlekuk-lekuk, persis adegan dalam film teletubbies, menjadi destinasi yang luar biasa. Objek photo yang sayang untuk dilupakan.

Pantai Jikumerasa salah satu pesona alam pulau buru.beritamusi.co.id/Yenrizal


Saat mulai memasuki daerah-daerah yang selama ini terdengar seram, justru diberikan pemandangan sebaliknya. Kuningnya padi, hamparan sawah yang luas bagai permadani emas, adalah tatapan pertama. Rumah-rumah permanen dengan arsitektur modern banyak berderet di pinggir jalan. Sesekali tampak bangunan ruko dan warung-warung milik penduduk. Tak lupa, sapi dan kerbau yang berkeliaran di sekitar sawah, tampak asyik dengan rumputnya. Nun jauh di sana, di sekeliling daerah tersebut, barisan perbukitan tampak menghijau dari kejauhan. Suasana yang begitu khas pedesaan. Melihat pemukiman penduduk, saya langsung teringat desa-desa di Jawa.

Ternyata benar, hampir semua penduduk di daerah ini adalah keturunan Jawa. Usut punya usut, penduduk di sini terbagi atas dua kelompok besar jika dilihat sejarah masuknya.

Kelompok pertama adalah, eks tapol yang tidak mau pindah setelah diberi kebebasan oleh pemerintah pusat. Mereka tetap bertahan karena memang hasil pertanian dan usaha yang dilakukan selama ini, sudah menunjukkan hasil luar biasa. Bisa dikatakan, mereka inilah yang membuka awal daerah tersebut, sekaligus penentu kemajuan ekonomi masyarakat. Kelompok kedua adalah para transmigran dan keluarganya yang didatangkan oleh pemerintah pusat, dan sekarang sudah berhasil pula dengan segala kegiatan pertaniannya. Alhasil, niat melihat sisi seram eks tapol, justru yang tersaji adalah keberhasilan dan kemajuan masyarakat setempat. Itulah Buru, bahwa dulu pernah ada ketidakadilan di daerah ini, itu memang fakta sejarah. Tetapi jika sekarang kita menyaksikan keberhasilan dan kesuksesan usaha pertanian masyarakat, itu juga fakta yang tak terpungkiri.

Apapun itu, rasa penasaran tetap ada, tidakkah ada penanda bahwa disini dulu pernah bermukim Pramoedya Ananta Toer dan ribuan manusia lainnya yang dicap komunis? Akhirnya, saat memasuki daerah Sanleko, tampak sebuah bangunan tua yang atap sengnya sudah banyak terlepas. Dindingnya masih kokoh, kendati beberapa bagian sudah mengelupas. Bangunan ini mirip bentuk gudang, memanjang ke belakang dengan satu pintu besar utama di bagian depan. Inilah bekas barak sementara para tahanan politik masa lalu. Dulu bangunan ini pernah dimanfaatkan warga untuk sekolah, tapi hanya sebentar, selanjutnya dibiarkan begitu saja. Walau hanya gedung kosong, tapi rasa merinding tetap saja muncul saat berada didalamnya. Disinilah dulunya ….

Selepas Sanleko, tampaklah Savana Jaya, diteruskan menuju Mako dan terakhir ke Desa Grandeng. Pemandangan yang dilihat hampir sama, suasana khas pedesaan. Di Grandenglah sesuatu yang baru ditemukan, Buah Naga. Buah manis berwarna merah dan kulit panjang-panjang, serta pohon menjalar yang mirip kaktus, begitu mudah ditemukan. Inilah sentra agrowisata buah naga. Hampir setiap rumah di daerah ini menanam buah naga di pekarangannya. Rasa manis itupun masuk ke tenggorokan, mencicipi langsung buah naga yang baru dipetik. Ihwal tanaman ini juga cerita keberhasilan yang luar biasa. Saat panen untuk kebun satu hektar saja, petani bisa dapat sekitar 5 ton, dan sekilonya dihargai paling rendah 20.000 rupiah. Gila, Rp. 100.000.000,- setiap kali panen!

Ah, Pulau Buru, daerah yang selama ini menjadi tandatanya dan larut dalam kisah-kisah kelam, ternyata sudah menjadi mutiara berkilau. Mungkin 5 atau 10 tahun lagi, Buru akan jadi Bali kedua untuk Indonesia Timur. Pesona wisatanya memang luar biasa, hanya pemolesan yang belum maksimal.

Memandang perbukitan Bumi Bupolo ini, sembari kapal bergerak meninggalkan pelabuhan Namlea, terasa waktu begitu singkat. Satu atau dua hari tak akan cukup menjelajahinya. Satu destinasi besar yang belum sempat terdatangi ada di atas bukit sana, kira-kira 4 jam perjalanan dari Namlea. Itulah Danau Rana dengan komunitas Suku Rana sebagai penduduk asli yang masih memegang tradisi lokal. Destinasi ini belum sempat terdatangi, walau kisah-kisah mengenai danau ini sudah cukup sering terdengar.

Suatu waktu nanti, pelabuhan Namlea ini pasti terjejak kembali dan pedas-asamnya ikan bakar Colo-Colo, tentu akan ternikmati lagi. Untuk saat ini, Namlea ditinggalkan, Feri sudah bergerak menuju Ambon. Selamat tinggal Bumi Bupolo.   

Exit mobile version