oleh

Kantor Perwakilan BI dan Polda Babel Musnahkan 1.116 Lembar Uang Palsu

PANGKALPINANG – kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bersama Polda Babel memusnahkan temuan 1.116 lembar uang rupiah palsu di gedung Kantor Perwakilan Bank Indonesia Babel, menggunakan Mesin Racik Uang Kertas (MRUK), dengan mayoritas pecahan uang palsu nominal Rp100.000,00 dan Rp50.000,00.

Pemusnahan temuan uang rupiah palsu dilaksanakan berdasarkan Surat No.1/Pen Pid/2020/PN Pgp tanggal 17 Februari 2020 tentang Penetapan Permohonan Izin Melakukan Pemusnahan. Barang Temuan Rupiah Palsu oleh Ketua Pengadilan Negeri Pangkalpinang dan Surat No.B/880/11/2020/Dit Reskrimsus Polda Babel tanggal 27 Maret 2020 perihal Pemusnahan Uang Rupiah Palsu.

“Temuan uang palsu di Bangka Belitung bersumber dari laporan masyarakat di loket penukaran Bank Indonesia, pengolahan uang dengan menggunakan mesin sortasi uang kertas (MSUK), Hitung Ulang Manual (HUM) dan laporan dari perbankan yang ada di wilayah Babel,” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Babel, Tantan Heroika kepada wartawan, Jumat (11/12/2020).

Dia menerangkan, berdasarkan data aplikasi Bank Indonesia Counterfest Analysis Center (BI-CAC), selama 5 (lima) tahun terakhir sejak 2015 temuan uang palsu menunjukkan tren yang terus menurun.

“Bank Indonesia bersama dengan Kepolisian, Kejaksaan dan Pengadilan terus berkolaborasi dan bersinergi dalam upaya penanganan uang palsu khususnya di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” ujarnya

Dijelaskan dia, salah satu upaya yang dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait uang rupiah melalui kegiatan publikasi dan edukasi ciri-ciri keaslian uang rupiah (CIKUR) kepada masyarakat. Kegiatan tersebut rutin dilakukan oleh Bank Indonesia melalui sosialisasi langsung dan menggunakan media sosial.

“Sementara dari aspek represif atau penegakan hukum, Badan Intelijen Negara, Kepolisian, Kejaksaan, Kementrian Keuangan dan Bank Indonesia membentuk organisasi BOTASUPAL (Badan Koordinasi Pemberatasan Rupiah Palsu) sebagai salah satu wadah untuk optimalisasi sanksi hukum terhadap pelaku tindak pidana uang palsu untuk menaptakan efek jera,” terangnya.

Berdasarkan Undang-Undang Mata Uang, sanksi bagi orang yang memalsukan Rupiah, menyimpan fisik Rupiah palsu, mengedarkan dan/atau membelanjakan Rupiah palsu, membawa/memasukkan Rupiah palsu ke dalam dan/atau ke luar wilayah Indonesia, serta mengimpor/mengekspor Rupiah palsu dikenakan sanksi berupa pidana penjara dan denda.

“Langkah pemusnahan uang palsu dilakukan untuk melindungi masyarakat dan tindak kejahatan pemalsuan uang rupiah sehingga uang palsu yang ditemukan tak beredar kembali di kalangan pubik. Bank Indonesia Babel mengimbau masyarakat untuk selalu menggunakan 3D (dilihat, diraba, diterawang) senantiasa menjaga dan merawat rupiah agar semakin mudah mengenali keasliannya,” pungkasnya. (EDI)

Komentar

Berita Lainnya