oleh

Demam Harta di Lahan Gambut Dicari, Diambil Hingga Dijual

Harta Karun yang ditemukan warga diduga peninggalan kerajaan Sriwijaya
Harta Karun yang ditemukan warga diduga peninggalan kerajaan Sriwijaya

KAYUAGUNG I Penemuan artefak zaman Sriwijaya yang ada di lahan gambut yang terbakar mulai terungkap sejak adanya kebakaran lahan pada pertengahan November 2015. Sejak saat itu, masyarakat mulai mengalami “demam artefak”, mereka lalu melakukan penggalian dan pengambilan benda-benda purbakala.

“Banyak benda yang ditemukan. Dari perhiasan, guci, patung, hingga benda-benda alat rumah tangga. Yang paling banyak penemuan di Kanal 12,” tutur Rasit warga Dusun Pasir, Desa Ulak Kedondong.

Menurutnya, Tempat-tempat lainnya ada di Bukit Tengkorak dan Sungai Serdang. Semua berada di lahan konsesi PT BMH yang terbakar.

Kabar penemuan benda purbakala tersebar di Cengal dan Tulungselapan. Karena banyak pula ditemukan benda dengan bahan emas, masyarakat pun menyebutnya sebagai “harta karun”. Ratusan warga dari berbagai desa di Kecamatan Cengal, Kayuagung, Tulungselapan, hingga Palembang yang turut berburu harta karun.

“Saat malam tahun baru 2016 sekitar 400 orang memburu harta karun di Kanal 12. Mereka mencari, menggali, mengayak tanah, hingga menggunakan ritual tertentu,” kata Sengguk Umang, warga Desa Cengal, Kecamatan Cengal, Kabupaten OKI.

Sisa-sisa tiang rumah panggung dari kayu nibung dari situs Sriwijaya di lahan gambut yang diteliti Balar Sumsel. Foto Balar Sumsel
Sisa-sisa tiang rumah panggung dari kayu nibung dari situs Sriwijaya di lahan gambut yang diteliti Balar Sumsel. Foto Balar Sumsel

Sengguk menjelaskan jika hampir semua benda sejarah yang ditemukan warga langsung dijual. “Terutama benda yang terbuat dari emas atau batu-batu mulia. Pembelinya dari warga di sini atau dari Palembang,” katanya.

Perburuan harta karun di lokasi terbakar PT BMH tersebut berakhir sekitar bulan Februari 2016, saat musim penghujan menggenangi sebagian besar lahan yang terbakar tersebut.

Sayangnya, aksi perburuan warga yang terlambat diinformasikan kepada Balai Arkeologi (Balar) Sumatera Selatan menyebabkan sejumlah artefak menjadi rusak atau tidak diketahui keberadaannya.

“Banyak tiang rumah yang sudah terbakar atau dicabut masyarakat. Bahkan ada yang menghancurkannya karena mengira ada benda berharga yang tersimpan di dalam tiang rumah yang sebagian besar dari pohon nibung. Untuk warga yang menemukan patung atau prasasti, kami berharap diberikan atau ditunjukkan kepada kami oleh warga yang menemukannya,” jelas Nurhadi, peneliti senior dari Balar.

Bambang Budi Utomo, arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, mengatakan penemuan berbagai artefak di Desa Ulak Kedondong merupakan penemuan yang sangat penting terkait dengan sejarah bangsa Indonesia, termasuk pula suku bangsa di Asia Tenggara.

“Banyak bukti situs pemukiman Sriwijaya di wilayah gambut di Sumatera Selatan yang sudah ditemukan. Itu bukti sejarah penting bagi bangsa Indonesia. Itu menjelaskan bahwa pada masa lalu ada masyarakat yang hidup di lahan gambut, yang menjadi bagian penting dalam membentuk bangsa ini, juga bangsa-bangsa di Asia Tenggara,” katanya.

Oleh karena itu, dia berharap lokasi penemuan situs pemukiman Sriwijaya itu harus dijadikan cagar budaya. “Saya setuju jika kawasan itu masuk dalam skema restorasi gambut sebagai upaya perlindungan cagar budaya.” Menurutnya, pemerintah pun harus mencegah kerusakan lebih lanjut situs, akibat penggalian liar oleh masyarakat di lokasi situs.

Ketika ditanya bagaimana pendapatnya jika lokasi tinggalan direstorasi pemerintah, Rasit pun menyebutkan dukungannya.

“Saya dan warga di desa ini pasti senang. Sebab kami kembali dapat memanfaatkan gambut, seperti mencari ikan. Yang lebih penting Sungai Lempipi kembali seperti dulu, tidak seperti sekarang ini yang airnya mulai susut,” kata Rasit.

“Juga jika restorasi itu untuk melindungi cagar budaya Sriwijaya, jelas bae kami tambah senang. Daerah kami pasti akan dikenal banyak orang,” tutupnya. (Taufik Wijaya/Mongabay.co.id)

 

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *