oleh

Kisah Bahrun Naim Otak Pelaku Teror Ketika Hendak Berangkat ke Suriah

JAKARTA I Bahrun Naim, yang namanya disebut polisi sebagai perancang serangan teror di kawasan Thamrin, Jakarta, lewat blognya tertanggal 12 Juli 2015 menceritakan tentang bagaimana ia mengatur perjalanan dari Indonesia menuju Suriah.

Berangkat menuju Suriah bukan perkara mudah bagi Bahrun Naim, sebab dia eks narapidana Densus 88. Untuk memperoleh paspor, ia harus mengelabui pihak imigrasi dengan mencari oknum yang bisa disuap.

Problem selanjutnya adalah visa. Mendapat visa tak gampang pula sebab, kata Bahrun, permohonan visanya untuk umrah saja sering ditolak karena statusnya sebagai eks napi.

Untuk mendapat visa ke Turki, Bahrun mendapat bantuan dari tim peretasnya untuk mengacak sistem imigrasi Indonesia dan Turki sehingga namanya tak masuk dalam daftar hitam pada sistem.

Untuk mengacak sistem imigrasi itu, Bahrun Naim membagi kelompoknya menjadi tiga tim. “Tim pertama adalah pembuka, tim kedua adalah inti, dan tim ketiga adalah penyelamat. Saya berada di tim penyelamat untuk mengontrol jalannya semua rencana hijrah,” tulis Bahrun.

Semua orang yang berangkat, menurut dia, harus pula mempersiapkan fisik dengan berlari dua kilometer menjelang dan setelah bangun tidur.

Langkah lain adalah menjaga bahwa tak ada satu orang pun yang berangkat dengan mengetahui kapan tanggal pasti keberangkatannya. Orangtua mereka bahkan hanya tahu sehari sebelum mereka berangkat.

Aktivitas sehari-hari mereka yang hendak berangkat ke Suriah tetap dijalankan, misal soal aset yang belum terjual, nomor telepon yang masih aktif, dan bisnis yang masih diurusi.

Dalam tulisannya, Bahrun bercerita dia mendapat informasi bahwa sumber intelijen mengetahui perihal keberangkatan mereka.

Ini membuat Bahrun dan kelompoknya menggunakan jalur lain menuju Turki dan mengorbankan tiket senilai Rp35 juta yang sudah dibeli sebelumnya.

Pihak keamanan, kata Bahrun, sebenarnya sudah menunggu dengan dua tim awal di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Namun ia berhasil mengelabui otoritas sehingga aparat mengira mereka masih di Solo, Jawa Tengah.

Ketika Bahrun bersama tim terakhir akhirnya berangkat ke Suriah, lagi-lagi tim peretas membantu mereka mengacak sistem online petugas bandara. Bahrun juga membawa alat pengacak sinyal terbatas dalam radius tiga meter.

Di Istanbul, Turki, anak Bahrun Naim membuat petugas kewalahan saat mencoba menghadangnya yang berlarian ketika melewati pemeriksaan imigrasi.

ISIS, menurut tulisan Bahrun, menjemput timnya karena dua tim sebelumnya telah lebih dulu berangkat ke Suriah. Mereka melewati perbatasan dengan kawat berduri.

“Sambil menggendong anak terkecil, saya sempat tersungkur persis di depan pagar kawat berduri. Sedangkan abangnya telah dibawa pergi ikhwan lainnya… Petugas Turki yang menyoroti kami dengan lampu hanya terdiam saat kami menyeberang dengan berjalan pelan,” tulis Bahrun.

Video ancaman TNI

Sidney Jones, dalam tulisannya di The Interpreter pada November tahun lalu, mengatakan bahwa Bahrun Naim berada dalam satu jaringan dengan Abu Jandal. Abu Jandal merupakan warga Indonesia yang bergabung dengan ISIS dan pernah mengancam TNI, Polri, Densus 88, serta Banser lewat video yang tersebar di dunia maya.

Menurut Jones, berbeda dengan teroris lokal, Bahrun dan rekan-rekannya berpikir lebih luas, meski belum ada struktur jelas ISIS di Indonesia.

Sejak Juni 2014, kata Jones, terdapat sekitar 1.000 warga Indonesia yang sudah berbaiat kepada ISIS.

Jones juga mengatakan, meski ketika itu tak ada insiden dan sinyal yang menunjukkan eksistensi ISIS di Indonesia, kelompok jihadis masih aktif di Indonesia. Mereka menggunakan media komunikasi lewat WhatsApp atau Telegram yang sulit dideteksi oleh kepolisian. (cnnindonesia.com)

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *