oleh

Bangun Camping Vertikal di Teluk Gelam Dinas Pariwisata Gelontorkan Rp 600juta

Ogan Komering Ilir | Upaya menghidupkan kembali potensi kawasan wisata Danau Teluk Gelam, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) wacanakan pembangunan Camping Vertikal yang diproyeksikan dibangun akhir Juli tahun ini.

Setidaknya, anggaran Rp600Juta digelontorkan untuk pembangunan area perkemahan yang direncanakan terdiri dari 2 lantai ini.

Selain wacana pembangunan Jalan setapak/Joging Track disepanjang pinggiran danau, pembangunan area Vertical Camping disebut sebagai destinasi wisata baru di kawasan danau Teluk Gelam.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Ifna Nurlela mengatakan Vertical Camping ini dibangun berada di pinggiran danau atau hanya berjarak beberapa ratus meter dari kolam renang.

“Bangunan ini sebagai daya tarik baru bagi masyarakat yang mendambakan rekreasi outdoor. Dengan ada area wisata baru ini, diharapkan masyarakat kembali mengunjungi danau Teluk Gelam,” terangnya Senin (5/8/2019).

Ifna mengatakan, meski pihaknya yang membangun, namun ia mengatakan fasilitas tidak termasuk tenda/kemah bagi pengunjung.

“Kita hanya siapkan fasilitas, sedangkan untuk perkemahannya, pengunjung dapat bawa sendiri,” jelasnya.

Pembangunan area perkemahan dua lantai ini sendiri, digadang-gadang dapat menggeliatkan kembali kawasan wisata di areal seluas 250 hektar ini. Terlebih lagi, saat ini, danau yang merupakan eks lokasi Venue Ski Air dan Dayung PON XVI Tahun 2014 silam, boleh dikatakan “mati suri”, lantaran sejumlah fasilitas pendukung wisata dalam kondisi terbelengkalai.

Kendati demikian, Ifna optimis, dengan upaya untuk memoles kembali sarana dan prasarana yang ada, diyakini dapat memajukan kembali kejayaan Danau Teluk Gelam.

“Pemkab OKI juga berkomitmen utk memajukan kembali Danau Teluk Gelam dengan memperbaiki kolam renang, pembersihan lokasi, serta¬† menambah fasilitas toilet,” bebernya.

Sementara itu, LSM Transparansi Akuntabilitas Publik (Trap) Pipin Juniar mengatakan rencana pembangunan sarana perkemahan bersusun ini justru membebani anggaran daerah lantaran dinilai tidak produktif.

“Kalau hanya untuk sekedar selfie, dengan anggaran ratusan juta rasanya terlalu mahal. Aspek manfaatnya mesti dikaji kembali, dikhawatirkan mubazir saja,”ungkapnya.

Menurut Pipin, meski tidak keseluruhan, akan tetapi pengelolaan wisata berorientasi dengan pendapatan. Ia mengatakan, dengan kajian dan perencanaan yang baik, pembangunan bukan hanya sekedar belanja modal, namun sebagai investasi sektor wisata memicu terdongkraknya Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Seharusnya difokuskan pada potensi yang dapat dicapai Pemda dalam menggenjot pendapatan dari sektor wisata,” jelasnya.

Meski menolak mengatakan proyek area kemping bersusun tidak memberikan keuntungan, namun ia mencontohkan potensi pengembangan wisata air Danau Teloko lebih menguntungkan ketimbang pembangunan area kemping.

“Pengembangan wisata air Danau Teloko seperti investasi Jet Ski/Banana Boat, atau spot area tengah laut lebih dilirik pengunjung, ketimbang berkemah di ketinggian tertentu,” bebernya.

Pipin menilai, selain pendapatan dari sektor wisata, potensi ini juga akan berimbas pada peningkatan Badan Usaha Milik Desa (BUM-Des) setempat melalui usaha souvenir atau jasa lainnya.

“Kajian dan perencanaan paling penting. Jangan sampai hanya dapat membangun proyek ratusan juta tanpa mampu merawatnya, sama seperti kawasan Teluk Gelam itu sendiri,” tuntasnya.(romi)

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *