oleh

Ribuan KPM Bansos di OKI Mengundurkan Diri

Ogan Komering Ilir | Sebanyak 3.276 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) bantuan sosial (bansos) beras sejahtera (rastra) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mengundurkan diri. Ribuan KPM yang mengundurkan diri ini datang dari 13 Kecamatan diantara 18 kecamatan yang ada di Kabupaten OKI.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten OKI, H Amiruddin mengatakan, jumlah ini berdasarkan hasil verifikasi yang dilakukan oleh petugas di lapangan.

Dirinya berharap menjelang transformasi dari bansos langsung ke bantuan non tunai data hasil ferivikasi ini bisa selesai dan semakin valid. “Diperkirakan Oktober kita mulai dan akan dilakukan finalisasi data pada akhir Juli di Kementerian,” kata Amiruddin pada sosialisasi bansos non tunai di Kantor Bupati OKI, Senin (17/06).

Menurutnya, untuk verifikasi ini seharusnya tidak harus menunggu seluruh desa selesai melainkan bisa disampaikan bertahap. “Jadi tidak harus menunggu selesai semua. Misal satu desa selesai, silahkan dikoreksi oleh TKSK dan kalau bagus baru disampaikan ke Dinsos,” ujarnya.

Terkait bantuan non tunai ini, Amiruddin menjelaskan, KPM akan diberikan kartu yang didalamnya berisi uang Rp110 ribu per-KPM. Kartu ini nantinya tidak bisa dicairkan berupa uang, melainkan bisa dibelanjakan di warung (e-warung) yang telah disiapkan di desa-desa dan hanya bisa dicairkan menjadi beras dan telur.

“Kita kerjasama dengan Bank Mandiri untuk membuat e-warung. Jadi saat pencairan itu bisa dicairkan berupa telur dan beras atau telur semua atau beras semua, tergantung persediaan,” jelasnya.

Informasi yang dihimpun, hingga berita ini ditulis, jumlah e-warung yang sudah ada sebanyak 72 agen dengan target 1 desa/kelurahan 2 agen dengan total desa dan kelurahan di OKI berjumlah 314 desa / kelurahan.

Sementara itu, Wakil Bupati OKI, H M Dja’far Shodiq mengharapkan dengan adanya inovasi dalam penyaluran bantuan ini akan lebih tepat sasaran. Menurutnya, ini salah satu upaya dari pemerintah agar bantuan seperti ini bisa lebih tepat sasaran.

“Pemerintah terus mempelajari bagaimana agar ini lebih tepat (sasaran), karena saat pencairan ini bisa langsung berupa barang. Kalau duit bisa saja nanti dibelikan ke barang lain,” ujarnya.

Terkait e-warung yang notabene menggunakan sinyal, Endarwanto selaku bisnis service manager area Bank Mandiri Palembang menerangkan e-warung ini tetap bisa diakses karena akan betul-betul diupayakan. Diantaranya melalui pemberian alat penguat sinyal atau bisa offline.

“Untuk menentukan warung juga tidak sembarang, karena itu sudah ada (warungnya). Jadi bukan warung abal-abal,” jelasnya. (romi)

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *