oleh

Tanah Diserobot, Ambo Unga Minta Kepastian Hukum

BANYUASIN | Sejumlah oknum warga yang berada desa Daya Murni Kecamatan Air Sugihan Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan menyerobot tanah milik keluarga besar Makasau Mase dengan ukuran kurang lebih 1500 depa dan lebar 300 depa. Kini keluarga besar Makasau Mase tersebut meminta kepastian hukum dari pemerintah kabupaten Banyuasin dalam hal ini Pengadilan Negeri.

Ambo Unga, anak kandung dari Makasau Mase menjelaskan, tanah yang dimiliki keluarga besarnya itu berukuran kurang lebih 84 hektar yang kini diserobot oleh sejumlah warga di desa Daya Murni. Dahulu proses perkara sejak tahun 2010 semuanya diurus langsung oleh ayahnya Makasau Mase tersebut. Dimulai dari pengajuan gugatan perkara dari pihaknya di Pengadilan Sekayu. Yang pada hasil akhirnya dari keputusan Pengadilan Sekayu dimenangkan keluarga nya sesuai putusan Pengadilan Negeri Sekayu nomor 28/ Pdt.G/2009/PN Sekayu tanggal 5 Mei 2010.

Selanjutnya pihak tergugat mengajukan banding ke tingkat pengadilan tinggi Palembang pada saat itu, lagi-lagi dimenangkan keluarganya yang isinya menguatkan dari pengadilan Sekayu tadi, sesuai dengan putusan Pengadilan Tinggi Palembang nomor 73/Pdt/2010 PT Palembang tanggal 07 Oktober 2010.

Selanjutnya pihaknya menunggu akan adanya kasasi dari pihak lawannya hingga 14 hari kemudian, namun tidak ada pengajuan kasasi, juga tidak ada pengajuan kontra memori Peninjauan Kembali. “Dan ini juga ada aktanya yang kami terima dari pengadilan Sekayu,”tambahnya.

Maka, kata Ambo Unga, untuk menyempurnakan perkara tersebut, pihaknya yang mengajukan ke Mahkamah Agung untuk Peninjauan Kembali. Lagi-lagi sesuai keputusan Mahkamah Agung Republik Indonesia nomor : 556 PK/PDT/2011 tanggal 30 April 2012 dimenangkan pihaknya. Itu artinya sesuai petunjuk kuasa hukumnya, tinggal proses pelaksanaan eksekusi lahan yang mesti dilakukan. Namun sampai saat ini proses pelaksanaan eksekusi selalu mengalami kegagalan. “Dulu pernah dilakukan proses eksekusi lahan, namun tak berselang lama, plang tanda eksekusi lahan dirusak oleh oknum warga di lokasi lahan itu,”terang Ambo Unga.

Dan kini, sambung Ambo Unga, ayahnya Makasau Mase telah meninggal dunia, dan ia berharap adanya kepastian hukum dari Pengadilan Negeri Banyuasin untuk memfasilitasi dalam pelaksanaan eksekusi lahan tanah yang dimiliki keluarga besarnya itu sesuai dari keputusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung Republik Indonesia tersebut. Bahkan sesuai dengan ketetapan Pengadilan Negeri Sekayu untuk pelaksanaan eksekusi pengosongan lahan sebagaimana dalam penetapan nomor : 14/Pen.Pdt Eks/2014/PN Sekayu, ditandatangani langsung oleh Ketua Pengadilan Sekayu Imama Santoso SH tanggal 3 Agustus 2018.  

“Namun kini kami bingung, kok sekarang malah ada surat Relaas Panggilan kepada kami yang isinya kurang lebih keluarga kami terbantah, atas perkara perdata nomor 7.PDT.Bth/2019/PN Pkb tanggal 23 April 2019 yang bisa jadi diajukan oleh pihak ketiga yang mengaku adanya kepemilikan lahan di lokasi yang sama,”terang Unga.

Makanya, lanjut Unga, keluarga besarnya berharap betul adanya kepastian hukum dari Pengadilan Negeri Banyuasin, karena sepengetahuan pihaknya sejak beberapa bulan yang lalu, kasus ini telah dilimpahkan dari Pengadilan Negeri Sekayu ke Pengadilan Negeri Banyuasin. Dan tentu pihaknya siap untuk melaksanakan kerjasama yang baik sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan. “Kami hanya menuntut apa yang menjadi hak keluarga besar kami, dan kami telah ikuti proses perkara hingga ke Mahkamah Agung,”pungkasnya. (Rel)

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *