oleh

Rusak Akibat HPH & Kebakaran, Hutan Mangrove di OKI Direhabilitasi

Kebakaran hutan dan lahan di Sumsel sejak 1997 dan terus berulang hingga saat ini, menyebabkan juga banyak hutan mangrove rusak. Perlu dilakukan upaya rehabilitasi. Foto BNPB Sumsel.

Ogan Komering Ilir I Aktifitas perusahaan HPH maupun illegal logging pada tahun 1980-an hingga 1990-an menyebabkan banyak hutan di Sumatera Selatan rusak, termasuk hutan mangrove di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumsel.

Salah satunya hutan mangrove di kawasan hutan lindung Sungai Lumpur. Kerusakan tersebut diperparah dengan peristiwa kebakaran pada 1997-1998 dan dan terulang pada 2015 lalu.

Prihatin dengan kondisi tersebut, PT OKI Pulp & Paper berencana melakukan rehabilitasi kawasan hutan mangrove yang rusak seluas 68 hektare yang berada di sub DAS Mengkudu, Desa Simpang Tiga Sakti, Kecamatan Tulungselapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumsel.

“Kami merasakan bagaimana aktifitas HPH dan kebakaran hutan merusak kawasan mangrove di sini. Kerugian ini bukan hanya untuk manusia juga makhluk hidup lainnya. Atas dasar itulah kami berencana merehabilitasi hutan mangrove yang rusak di sini,” kata Gadang H Hartawan, kepada wartawan di Palembang, Kamis (09/08/2018).

Rehabilitasi hutan mangrove yang rusak tersebut sudah mendapat dukungan pemerintah melalui SK IPPKH Nomor 24/1/IPPKH/PMA/2017 tertanggal 19 September 2017.

Dalam melaksanakan program ini dilibatkan sejumlah pakar atau ahli, termasuk Dr. Syafrul Yunardi dari Forum DAS Sumsel, yang beberapa waktu lalu melakukan kunjungan ke lokasi kawasan yang akan direhabilitasi tersebut.

Selain itu dilibatkan juga masyarakat sekitar lokasi rehabilitasi. Meskipun masuk Desa Simpang Tiga Sakti, tapi akses terdekat ke lokasi adalah Desa Sungai Batang, yang masuk Kecamatan Air Sugihan.

Warga dari Desa Sungai Batang ini yang akan melakukan pembibitan dan penanaman yang akan diarahkan para pakar atau ahli mangrove. “Kami sebagai warga Desa Sungai Batang sangat mendukung upaya rehabilitasi hutan mangrove yang rusak ini. Semua ini demi kepentingan kita bersama dan kelestarian lingkungan,” katanya.

Adapun program yang akan dijalankan mulai Oktober 2018, diawali dengan penataan lahan yang rusak, seperti memperbaiki anak sungai atau kali yang sudah tertimbun, dengan harapan pembasahan tetap terjaga. Bersamaan dengan itu dilakukan pembibitan yang dilakukan warga Desa Sungai Batang. Ada beragam bibit mangrove yang akan ditanam, salah satunya pedada. Selanjutnya dilakukan penanaman bersama masyarakat, serta pemeliharaan yang juga melibatkan masyarakat atau warga Desa Sungai Batang. (Romi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *