oleh

MULIH Tanam Pohon Pinang di Tepian Sungai Kelekar

Prabumulih I Kondisi ekologi Sungai Kelekar telah memanggil kepedulian warga Prabumulih untuk melakukan aksi hijau. Sore kemarin, 15 Juli 2018, sebuah komunitas kecil bernama Musik untuk Lingkungan Hijau (MULIH) menghijaukan tepian Kelekar dengan penanaman pinang. Sebuah komunitas yang digerakkan oleh Oni Selamat, Nata Medianto, dan Doni Sefriansyah.

“Ada banyak aksi yang dapat dilakukan untuk memulihkan ekosistem Kelekar,” menurut Oni atau akrab disapa Ondet. “Yang paling penting adalah memulihkan cara pandang masyarakat terhadap sungai lebih dulu. Misalnya, dengan mengubah pandangan bahwa sungai bukan tempat pembuangan sampah, atau memandang bahwa tepian sungai adalah ruang terbuka hijau yang memiliki banyak fungsi dan perlu dijaga alamnya, dan lain sebagainya.”

Bagi Oni dan kawan-kawan di Komunitas MULIH, penanaman pinang ini merupakan salah satu tindakan awal yang dapat dilakukan untuk memulihkan pandangan warga Prabumulih terhadap sungai yang membelah kota kecil di Sumatera Selatan ini. Pilihan lokasi penanaman juga didasari kesejarahan. Tepian sungai Kelekar yang ditanami berada di lokasi yang dulu menjadi pangkalan atau pemandian warga Prabumulih ketika sungai Kelekar masih sangat bersih. Ada di kawasan Dusun Prabumulih, tepatnya di belakang bekas komplek SMP Yayasan Pendidikan Kerja.

Pinang (Areca catechu) dipilih sebagai tanaman penghijauan karena berbagai pertimbangan. Selain manfaat buah dan batangnya, estetika, akarnya yang kuat sehingga tak mudah tumbang, bibit pinang mudah dicari, gampang tumbuh, serta mudah dirawat. Cocok untuk penghijauan.

“Tanaman ini akan menguatkan pinggiran sungai Kelekar agar tak mudah terbis atau longsor,” beber Nata, salah satu penggerak komunitas MULIH. “Penanaman pinang atau tanaman lokal lainnya di tepian sungai Kelekar perlu dilakukan terus-menerus. Anggap saja sedekah oksigen. Nanti kita semua yang menerima manfaatnya. Semakin hijau semakin banyak racun (polutan) di udara yang bisa dibersihkan.”

Syamsul Asinar Radjam, praktisi agroekologi dari Institut Agroekologi Indonesia (INAgri) memandang aksi-aksi nyata yang dilakukan di tingkat lokal semacam ini merupakan gerakan agroekologi perkotaan yang perlu terus digalakkan.

Dua pekan sebelumnya, sekelompok anak muda dari Komunitas Pecinta Kelekar menghijaukan tepian sungai Kelekar dengan karamunting (Melastoma affine), tumbuhan lokal yang banyak dijumpai di Prabumulih.

Ke depan, aksi nyata di tingkat lokal bukan tidak mungkin akan membesar dan melibatkan lebih banyak komunitas atau komponen masyarakat kota Prabumulih lainnya. Sebuah prakarsa bisa saja kecil, tapi Tuhan punya cara untuk memperbesar dampaknya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *