oleh

Masuk Kategori Daerah Endemis, Pemkab Musirawas Gelar POPM Filariasis

MUSIRAWAS I Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Musirawas, kembali akan menggelar Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis Tahun Ke-3. Pemberian obat secara massal, sebagai pelaksanaan program eliminasi filariasis di Kabupaten Musirawas.

Bupati Musirawas, H Hendra Gunawan melalui Asisten Administrasi dan Keuangan Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Musirawas, Edi Iswanto saat membuka Rapat Koordinasi (Rakor) POPM Filariasis Tahun Ke-3 yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Musirawas di Op Room Pemkab Musirawas mengungkapkan, saat ini ada 11.903 kasus filariasis yang tersebar di 33 Provinsi dan lebih dari 110,9 juta penduduk Indonesia yang tersebar di 302 Kab/Kota endemis filariasis beresiko tertular.

“Manfaat dalam pemberian obat secara massal, guna melakukan interfensi untuk menekan timbulnya penyakit filariasis di masyarakat yang dikenal dengan penyakit kaki gajah. Tujuannya, menurunkan insiden dan revalensi penyakit firaliasis (kaki gajah) sampai titik tingkat nol,” ungkapnya, Jumat (28/7).

Ia menjelaskan, Kabupaten Musirawas merupakan salah satu daerah yang endemis filariasis dengan ditemukannya 5 kasus penderita filariasis pada tahun 2010 dan sebanyak 20 kasus pada tahun 2014, dengan angka mikro filaria (MF Rate 19%).

“Untuk itu, Pemkab Musirawas sangat mendukung Program Eliminasi Filariasis melalui kegiatan pemberian obat secara massal, guna memberantas penyakit filariasis secara tuntas dalam upaya mencapai eliminasi filariasis tahun 2020,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Dinkes Musirawas, drg. Hj. Mifta Hulumni menjelaskan, pembangunan kesehatan merupakan bagian yang terintegrasi dalam pembangunan nasional dan pencapaiannya melalui program Indonesia Sehat.

“Dimana, ada pemberantasan salah satu penyakit menular yaitu filariasis yang penyebarannya melalui berbagai jenis nyamuk. Penyakit ini bisa menyerang melalui cacing filarial dan menyasar kelenjar limpa dan saluran limpa, sehingga merusak sistem limpa dan akibatnya klinis pembekakan pada tangan, kaki dan bagian tubuh lainnya. Ini bisa mengakibatkan cacat permanen dan stigma sosial penderita dan keluarganya yang menderita filariasis,” ungkapnya.

Akibat dari filariasis ini, diakuinya bisa menjadikan cacat bawaan atau menahun yang menyebabkan produktivitas penderita menurun dan menghabiskan 33,3 % biaya makan seluruh keluarga.

“Perpres Nomor 5 Tahun 2017, juga telah menyatakan, salah satu program prioritas nasional, yaitu mengeliminasi penyakit menular, salah satunya filariasis. Kementrian Kesehatan secara global bahkan telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh Gubernur, Bupati dan Walikota untuk melaksanakan pemetaan penyakit filariasis di daerah masing-masing, terutama melakukan pencegahan penyebaran penyakit tersebut,” ungkapnya.(Mulyadi)

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *