oleh

WBU Sosiliasikan Empat Pilar Kebangsaan di Bumi Banyuasin

BANYUASIN I Rasa hormat kepada para masyarakat tani, menurut Wasista Bambang Utoyo, sebagai bentuk rasa terima kasihnya teuntuk negeri ini. Menjaga keutuhan empat pilar kebangsaan dan warisan keutuhan bernegara wajib pula diselamatkan di Bumi Banyuasin.

Dahulu penduduk yang bermukim di pedesaan tak punya banyak pilihan selain merantau jika ingin hidup lebih baik lantaran kampung halaman mereka adalah tandus dan gersang.

“Pola pikir masyarakat perantau itu kan cari makan. Jika mau bertahan hidup, ada yang rela keluar dari daerahnya,” WBU coba membalik kisah.

Alhasil, faktanya. Banyak di antara masyarakat perantau yang sebagian besar orang-orang ‘ndeso’ bekerja sebagai pedagang, buruh, pekerja pabrik, jualan jamu gendong, serta menekuni profesi lainnya. Dan, sebaliknya bagi yang bernasib mujur, ada yang jadi pejabat, baik militer maupun sipil. Kendati tanah kelahiran mereka tergolong kering dan gersang, namun para perantau ini pun tak pernah lupa akan kampungnya.

Berangkat dari cara pandang masyarakat desa tersebut. Gagasan pun dilahirkan oleh seorang Wasista Bambang Utoyo. Si anak jenderal itu pun hingga kini tetap optimitis dan fokus mensosialisasikan bagaimana wujud nyata keempat pilar kebangsaan agar terus-menerus berkumandang di tengah masyarakat luas.

Tepat  Sabtu 17 Juni 2017 lalu, anggota Dewan Perwakilan Rayat/Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia yang berasal dari Daerah Pemililhan 1 Sumatera Selatan, WBU menggelar acara sosiliasisasi empat pilar kebangsaan bersama organisasi masyarakat, Kelompok Tani, Karang Taruna, serta tokoh masyarakat di Bumi Banyuasin.

“Rasa kebersamaan yang kita bangun ini cukup indah. Terlebih lagi kita hidup di Indonesia yang kaya dan makmur. Sebab itu, marilah kita manfaatkan, pelihara, menjaga dan melindungi bumi pertiwi ini dari gangguan pihak manapun,” kali itu WBU berkata bijak.

Lantas, seperti apakah implementasi empat pilar kebangsaan itu? WBU menegaskan, semuanya harus dimulai dari memperkukuh ke empat pilar kebangsaan yaitu  Pancasila sebagai dasar negara, Undang-undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bentuk negara dan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.

“Empat pilar kebangsaan itu menjadikan kita semakin kuat dan tangguh sehingga kita pun mampu bersaing dengan bangsa lainnya,” tuturnya.

Sosialisasi WBU tentang pentingnya empat pilar kebangsaan taklah sampai di sini. Dia kemudian mengajak seluruh elemen masyarakat agar saling bahu-membahu menjadikan nilai kebhinekaan selaku agenda utama untuk selalu dijaga. Bahkan, Wasista pun mengakui diusianya yang berkepala enam, ia bersahabat dengan siapapun  yang memiliki latar belakang berbeda, baik suku, agama, dan golongan.

“Jadikanlah kebhinekaan perekat keutuhan berbangsa khususnya di Bumi Banyuasin yang sama-sama kita cintai,” suara WBU disambut tepuk tangan meriah dari undangan. (Ril)   

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *