oleh

TKA Malaysia Dituding Intervensi dan Intimidasi TK Lokal

LUBUKLINGGAU I Tenaga Kerja Asing (TKA) PT Dapo Agro Makmur (DAM) yang berkantor dan berdomisili di Kota Lubuklinggau, yakni Warga Negara (WN) Malaysia, Chin Chaw He dituding telah mengintervensi dan mengintimidasi pejabat di PT DAM yang merupakan Tenaga Kerja (TK) Lokal. Chin Chaw He juga dituding melanggar SK Kementrian Tenaga Kerja yang mengatur tugas dan tanggungjawab dirinya.

Didalam SK tersebut, Chin Chaw He bertugas untuk memberikan pendidikan dan pelatihan terhadap tenaga kerja Indonesia, sehingga bisa menduduki jabatan tertentu, kemudian tidak diperbolehkan memindahkan jabatan tanpa izin Manajer. Jika dikemudian hari tidak benar dan tidak memenuhi syarat, maka SK tersebut dibatalkan.

Intimidasi dan intervensi TKA WN Malaysia ini, menyebabkan Sayid Mulyasi yang merupakan Koordinator Lapangan (Kolap) PT DAM Musirawas terkena skorsing dari pekerjaannya dengan alasan dalang dibalik pemortalan jalan dan tidak loyal terhadap perusahaan.

“Surat skorsing saya ditandatangi kepala HRD, kemudian saya tanya ke pak Burlian (HRD), saya hanya membuatnya pak saya disuruh Chin Chaw He. Saya diintimidasi dan diintervensi,” ungkap Sayit ‎menirukan ucapan manajer HRD PT DAM.

Masih kata Sayid Mulyadi, ‎Chin Chaw He merupakan warga Malaysia dan bekerja di PT DAM sejak februari 2017 dengan membawa beberapa pekerja asal malaysia, guna menduduki beberapa jabatan manager.

“Seluruh manajer itu gerbong Cihin Chaw He yang dibawa dari Kalimantan. Hanya ada satu manajer lokal yang bekerja baru dua minggu,” jelasnya.

Diceritakan Sayid yang sudah bekerja sejak 2012 lalu di PT DAM ini, dirinya mendapat skorsing pada  6 Mei 2017 lalu dan menerima  surat pada 9 Mei 2017, kemudian menanyakan status skorsing tersebut yang menyebutkan menjadi dalang adanya portal dan tidak loyal kepada perusahaan.

“Kebetulan yang memortal itu, namanya Zulkarnain dan menginap di rumah saya. Saya panggil dan disaksikan pihak HRD, Zulkarnain menjelaskan dengan perusahaan bahwa bukan saya yang menyuruh memortal jalan,” kata dia.

Kemudian, soal loyalitas, Sayit juga pernah mempertanyakan kepada perusahaan, sebab dirinya merasa sudah sangat loyal dan berkorban untuk perusahaan, dimana pada Oktober 2016 lalu, dirinya sempat menjadi tersangka kasus 375 di Mapolda Sumsel demi membela perusahaan.

“Saya pernah jadi tersangka 375 karena membela perusahaan, apakah saya masih kurang loyal. Yang merusak tenaga kerja lokal ini adalah tenaga kerja asing,” tegasnya.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data yang dia peroleh, TKA Malaysia ini tinggal di Indonesia tidak memiliki dokumen lengkap, hanya memiliki Kitas dan Imta.

Senada juga dikatakan, Fauzi Ariyanto Penasehat Hukum Sayid Mulyadi, diakuinya  sangat jelas TKA tersebut melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan tentang tenaga kerja asing, bukan hanya soal tindakanya di perusahaan, namun secara adminitrasi imigrasi pun terindikasi tidak melengkapi dokumen.

“Kitas dan dokumen mereka itu menunjukan mereka di Musirawas, tepatnya di PT DAM, tapi kenyataannya mereka berdomisili dan berkantor di Lubuklinggau. Itu saja sudah menyalahi,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Lubuklinggau, Johan Imam Sitepu saat dikonfirmasi membenarkan, adanya sejumlah warga Malaysia yang berdomisili di Lubuklinggau, namun surat keterangan tinggal terbatasnya di Musirawas.

“Ada 7 orang WN Malaysia yang berdomisili disini, tapi Kitas mereka dikeluarkan Musirawas, dan memang seharusnya yang mengeluarkan Kitas mereka itu daerah tempat mereka berdomisili, tapi di Kitas mereka itu alamat mereka di perusahaan, bukan di Kota Lubuklinggau. Kalau di kita tidak ada mengeluarkan Kitas ke mereka, tidak ada,” jelasnya.

Terpisah, Kepala UPTD Dinas Ketenaga Kerjaan Provinsi Sumsel untuk Lubuklinggau, Musirawas dan Musirawas Utara (Muratara), Ani Wijayanti turut membenarkan, adanya laporan kasus tersebut dan saat ini sedang proses pemeriksaan keterangan dan penanganan oleh pihaknya.

“TKA, Chin Chaw He sudah kita periksa, dan sudah menyerahkan dokumen seperti Kitas dan Imta, tapi masih ada beberapa dokumen yang belum dia lengkapi. Untuk selanjutnya, kita tunggu proses berikutnya, karena sekarang masih dalam proses. Didalam aturan Kemenaker RI, memang ada sejumlah larangan bagi TKA, namun untuk kasus Chin Chaw He ini, belum bisa memutuskan aturan mana yang dilanggar,” ungkapnya.(Mulyadi)

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *