oleh

Pelaku Pungli di Jalintengsum Empat Lawang Diringkus Aparat

pungliEMPAT LAWANG I Dua tersangka yang kerap melakukan pungutan liar (pungli) di Jalan Lintas Tengah Sumatera (Jalintengsum), kawasan Talang 12, Kecamatan Saling akhirnya ditangkap Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Empat Lawang, Rabu (9/3) sekitar pukul 15.00 WIB.

Kedua tersangka yang ditangkap sedang berada di salah satu kafe kawasan Talang 12 ini adalah Aji (29) warga Desa Sawah Belau, Kecamatan Saling dan Dedirianto (30) warga Desa Tabah Dendang, Kecamatan Saling.

Kapolres Empat Lawang, AKBP Rantau Isnur Eka melalui Kasat Reskrim, AKP Nanang Supriatna menjelaskan, kedua tersangka telah melakukan pemerasan dan penganiayaan terhadap korban Yudi (40) yang merupakan sopir truk, warga Provinsi Lampung.

“Truk korban yang mengangkut makanan ayam dari Lampung tujuan Jambi melintas di TKP. Lalu dihadap tersangka, dimintai uang Rp300 ribu dengan cara diancam. Namun korban hanya ada uang Rp200 ribu,” jelas Nanang.

Karena tidak diberi dengan jumlah yang pas, tersangka memukul kepala korban dan sempat memecahkan kaca mobil. Korban akhirnya menunda perjalannya ke Jambi, berbalik arah melapor ke Polres Empat Lawang.

“Kejadiannya itu malam hari, besok sorenya kedua tersangka berhasil kami tangkap. Keduannya dijerat pasal 368 KUHP tentang pemerasan dengan ancaman 5 tahun penjara,” ujarnya.

Lanjut Nanang, sudah banyak pengendara truk maupun mobil pribadi mengeluh adanya pungli di Kecamatan Saling, terutama pengendara tujuan Lubuklinggau. Para tersangka tidak tanggung-tanggung melakukan pungli, minta kepeda pengendara bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp200 ribu.

“Tersangka diperkirakan sudah dua bulan beroperasi. Mereka ini ada palak pecongnya (bos,red) namun masih penyelidikan,” bebernya.

Setelah yang ini, kata Nanang, target berikutnya pos-pos yang berada di Kecamatan Ulu Musi. Karena di daerah tersebut sudah banyak keluhan pengendara. Pihaknya ingin Empat Lawang bebas dari pungli-pungli seperti ini.

Sementara tersangka Dedi mengaku, pemerasan yang dilakukannya hanya satu kali, sedangkan hari-hari sebelumnya tidak pernah melakukan pemerasan. “Sebenarnya satu mobil kami cap Rp20 ribu. Tapi mobil itu lari tidak mau disetop, jadi kami kejar, minta Rp200 ribu,” akunya.

Cap yang diberikannya yakni cap RS (reno saputra) yang merupakan anak pemilik warung yang dijadikan pos. “Kami hanya bertiga, bosnya ada. Kalu mobil sudah kami cap, mobil aman dijalanan kalau ban pecah atau kerusakan kami langsung service,” katanya (ridi)

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *