oleh

Yuliana, Warga Palembang yang Dipasung Bertahun-tahun Karena MIskin

Ilustrasi
Ilustrasi

PALEMBANG I Nurlela warga Jalan Faqih Usman, Lorong Sintren, RT 1, RW 1, Kelurahan 2 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1, Palembang, Provinsi Sumatera Selatan duduk termenung di depan rumahnya yang terbuat dari kayu yang nyaris roboh karena termakan usia. Hanya satu kamar di gubuk reot tersebut. Sementara, di ruang tengah terlihat disekat tripleks yang menjadi tempat putrinya Yuliana (26) dipasung dengan rantai. Yuliana dirantai karena mengalami gangguan jiwa.

Bersama suami dan kedua anaknya, wanita berusia 58 tahun ini, telah tinggal di sana sejak enam tahun terakhir. Itupun bukan tanah milik keluarga ini melainkan tanah dan rumah milik warga sekitar.

Untuk kebutuhan sehari-hari Nurlela makan dari pemberian warga yang iba melihat kehidupan keluarga ini. Betapa tidak. Kiagus Abdullah Sani (68) yang tak lain adalah suaminya menderita lumpuh sejak tahun 2004, karena mengalami pergeseran tulang punggung.

Karena harus merawat Yuliana yang sakit jiwa dan suaminya yang lumpuh, Nurlela harus seharian berada di rumah.”Silahkan masuk,” ujar Nurlela dikutip dari rmolsumsel.com, Sabtu (20/2/2016).

Ketika kaki melangkah memasuki rumah kayu reot itu, tamu langsung melihat  di kamar kecil berukuran 1×1 meter ada seorang pria tua. Ia terbaring tanpa baju dan terbalut selimut yang lusuh, Di sanalah suami yang dicintai Nurlela dirawat, dengan ala kadarnya.

Sesekali, Yuliana  berteriak dan melompat-lompat. Keseharian gadis ini pun dihabiskan di ruang sekat tripleks, karena kaki kirinya dirantai. Makan dan minumpun dihabiskan Yuliana di ruang tersebut. Bahkan, sesekali, Nurlela ibunya harus membersihkan kotoran Yuliana yang berserakan di lantai tempatnya dipasung.

” Itu suami saya, sudah 12 tahun terbaring di kamar, karena lumpuh. Anak saya memang suka begitu kalau melihat orang asing datang ke sini. Sejak kecil sudah gak bisa ngomong,” jelas Nurlela lagi.

Kata Nurlela, sebelum lumpuh, awalnya sang suami bekerja sebagai penarik becak. Namun, 2004 lalu musibah menerpa keluarganya. Kiagus terjatuh dari beca yang dia kendarai sehingga, mengalami pergeseran tulang belakang.

Diapun sempat dirawat di puskesmas setempat, karena tak memiliki biaya, akhirnya diputuskan Kiagus untuk dirawat di rumah dengan menggunakan obat-obat kampung.

“Untuk dukun patah tulangpun saya tak mampu. Apalagi mau dibawa ke rumah sakit. Jadi ya terpaksa dirawat di rumah,” ucapnya.

Belum sempat sang suami sembuh dari sakit, di tahun 2010 ujian kembali menimpa Nurlela. Anak ketiganya Yuliana, mengalami demam tinggi.

Tanpa memiliki biaya, lagi-lagi Nurlela harus merawat putrinya itu di rumah. Namun, selama dirawat Yuliana nampak murung. Sehingga kejiwaannya pun terganggu hingga ibu ini memilih memasung anaknya.

“Kalau tidak dirantai suka ganggu orang sini. Jadi terpaksa begini setelah disarankan warga sekitar. Karena sebelumnya sempat merusak motor tetangga karena dilempar pakai batu. Sejak kecil putri saya ini sudah sakit-sakitan dan demam tinggi”tambahnya.

Sempat empat tahun silam Dinas Sosial Kota Palembang mendatangi kediaman Nurlela. Tetapi, saat itu pihak Dinsos hanya memberikan bantuan ala kadarnya.

” Waktu itu cuma bantuan saja, bahan makanan. Tidak ngomong kalau mau bantu perawatan anak dan suami saya,” ucap ibu ini.

Nurlelapun berharap, agar pihak pemerintah melihat apa yang dialami keluarganya saat ini.

“Saya berharap suami dan anak saya bisa dirawat ke rumah sakit. Semoga pemerintah dapat lihat kondisi keluarga saya” harapnya.

Kurniawan (35) yang merupakan ketua RT 1 mengaku, setiap hari warga sekitar selalu melakukan sumbangsih terhadap keluarga Kiagus, baik itu beras dan lauk pauk.

“Rumahnya punya saya, memang saya kasih izin untuk tinggal di sini. Karena keluarga mereka tak ada tempat tinggal, sementara suami ibu Nurlela lumpuh dan anaknya mengalami gangguan jiwa,” jelas Kurniawan.

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *