oleh

Lingkaran Prostitusi, Judi dan Tawuran di Kalijodo

Perjudian, prostitusi dan tawuran terus mewarnai Kalijodo. (Detikcom/Hasan Alhabshy)
Perjudian, prostitusi dan tawuran terus mewarnai Kalijodo. (Detikcom/Hasan Alhabshy)

JAKARTA I “Anda memasuki wilayah Kali Jodo, siapkan uang jago!”

Sastrawan penerima Kusala Sastra Khatulistiwa, Zeffry Alkatiri, mengungkapkan  fenomena sosial di kawasan Kalijodo, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, dalam sajak singkatnya.

Sajak tersebut ia tulis dalam buku Dari Batavia sampai Jakarta, 1619-1999: Peristiwa Sejarah dalam Sajak.

Kekerasan kerap mewarnai sejarah Kalijodo. Melalui buku Geger Kalijodo, mantan Kepala Kepolisian Sektor Penjaringan, Komisaris Besar Krishna Murti, menyebut dua kelompok berbasis etnis yang saling berseteru di kawasan tersebut.

Krishna menulis, kelompok pertama adalah Kelompok Makassar. Mereka bertentangan dengan Kelompok Mandar. Kedua perkumpulan tersebut mengasai lahan dan tempat perjudian berdasarkan sistem kekerabatan.

Menurut Krishna yang kini berstatus Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, kedua kelompok itu menjalankan organisasi secara rapi.

Kelompok Mandar misalnya, mempunyai pasukan pemukul yang terdiri dari ribuan pemuda. Pasukan tersebut dinamai Anak Macan.

Para pemuda tersebut ditugasi menjaga lokasi perjudian, baik dari aparatus pemerintah maupun organisasi keagamaan yang rajin merazia lokasi-lokasi bisnis seks dan judi.

Pada awal dekade 2000-an, Kalijodo hiruk-pikuk dengan beragam tawuran antarkelompok preman. Panah berpaku baja dan botol-botol bekas minuman menjadi senjata untuk melukai bahkan menghabisi nyawa lawan.

Mencegah perkelahian massal, Polsek Penjaringan ketika itu mendapatkan bantuan dari Satuan Polisi Air dan Udara serta Korps Brigadir Mobil.

Krishna menulis, perjudian yang dijajakan di Kalijodo awalnya merupakan permainan tradsional yang digemari masyarakat kelas bawah.

Belakangan, judi Ta Shiao disebutnya juga menarik minat warga Tionghoa yang bermukim di kawasan Pluit, Muara Karang dan Benteng.

Cari Jodoh hingga Prostitusi

Sejarawan Betawi Ridwan Saidi menuturkan, sebelum era kemerdekaan, masyarakat Tionghoa di Batavia kerap merayakan Ceng Beng di sebuah kali di kawasan yang kini disebut Penjaringan.

Menurutnya, Ceng Beng atau tradisi ziarah kala itu dilakukan dengan bermain sampan sambil saling menimpukkan kue berisi kacang hijau. Jika ada perempuan yang tertimpuk oleh laki-laki, berarti mereka berjodoh.

“Tiap tahun perayaannya seperti itu makanya disebut kalijodo ya lantaran itu,” kata Ridwan Saidi saat dihubungi CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Alwi Shihab, sejarawan Betawi lainnya, menyebut Kalijodo berubah menjadi area pelacuran setelah Gubernur Ali Sadikin menggusur sejumlah tempat prostitusi di pusat Jakarta.

Menurut Alwi pada bukunya berjudul Betawi Queen of The East, para pemilik bisnis seks tersebut lantas memindahkan usaha mereka ke kawasan Kramat Tunggak.

Berdasarkan penelusuran CNNIndonesia.com, ketika itu Ali memang menjadikan Kramat Tunggak sebagai lokalisasi resmi di ibu kota. Namun, tidak seluruhnya mendapatkan tempat di kawasan itu.

Alwi menulis, terdapat sejumlah pebisnis seks yang membuka lapak di Kalijodo. Saat Gubernur Sutiyoso membubarkan Kramat Tunggak, tidak sedikit pemilik lokalisasi yang pindah ke Kalijodo.

Novel karya Remy Silado berjudul Ca-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa yang berlatar Batavia memunculkan perspektif sejarah lain atas Kalijodo.

Pada novelnya Remy mengisahkan seorang perempuan Betawi yang terpaksa bekerja sebagai wanita penghibur di sebuah kawasan bernama Kalijodo. Para konsumen bisnis seks tersebut, versi cerita Remy, adalah warga-warga Tionghoa.

Pertengahan Februari 2016, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali mewacanakan penertiban lokalisasi Kalijodo yang tidak berizin.

Untuk menghadapi potensi bentrok dengan para penghuni Kalijodo, Gubernur Basuki Tjahaja Purnama merangkul Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya.

“Saya tak tahu, tapi pasti ada oknum yang terlibat karena jika tak ada, tak mungkin praktik itu bisa bertahan lama,” ucap Basuki.

Konsekuensi sosial bagi para pekerja seksual pun kini menjadi poin-poin penting yang meliputi wacana penertiban Kalijodo.

“Belajar dari penertiban Kramat Tunggak. Orangnya ditarik, direhabilitasi, dibina, diberi keterampilan, kemudian lokasi-lokasi tersebut dijadikan tempat usaha yang berbeda. Jadi lebih bagus,” ujar Ketua Komisi D Bidang Pembangunan DPRD DKI Jakarta Mohamad Sanusi, Sabtu (13/2/2016). (CNN)

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *