oleh

Bantaeng Bersiap Perkuat Pendidikan Inklusi

BANTAENG I Sebuah study  kaum difabel atau anak-anak berkebutuhan khusus akan dilakukan oleh USAID PRIORITAS  di Bantaeng.  Study bertujuan  mendapatkan gambaran persepsi sekolah mengenai siswa difabel,  sekolah-sekolah yang menampung siswa difabel, jenis difabel dan aspek-aspek lain terkait difabel. Demikian disampaikan oleh Erni, koordinator program pendidikan  USAID PRIORITAS untuk Bantaeng. “Bersama Pemda Bantaeng, kita berusaha memperkuat  pendidikan inklusi di Bantaeng, namun harus diawali dengan assessment  terlebih dahulu,’ ujarnya (11/2/2016).

Kepala Bappeda Bantaeng Syamsu Alam  menyambut baik program ini. Dia berharap, studi  tersebut tidak  cuma berhenti di tingkat kajian, tapi bisa menjadi roadmap program dan kegiatan untuk mengatasi pendidikan kaum difabel lima sampai sepuluh tahun ke depan. “Kami sangat mengapresiasi program ini. Kita berharap dengan studi ini, kita bisa langsung ambil keputusan.  Apa aksi yang akan dilakukan, siapa dengan  tugas apa, dan kapan dilaksanakan. Kita harus sampai pada program yang benar-benar bisa  memecahkan masalah difabel yang terjadi di Bantaeng,” ujarnya.

Selama ini, menurut Kabid Dikdas Dikpora Bantaeng, Muh.  Haris,   orang tua malu kalau anaknya dianggap berkebutuhan khusus, “Sebenarnya kita sudah memiliki sekolah luar biasa. Namun tiap tahun siswanya makin berkurang. Orang tua siswa malu menyekolahkan ke sana, karena tidak mau dianggap memiliki anak berkebutuhan khusus. Bahkan sekolah yang sering mendatangi mereka untuk menyekolahkan kembali  anaknya ke tempat tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, jalan terbaik untuk membuat siswa tetap belajar  di sekolahkan dan tetap mendapatkan pelayanan pendidikan yang layak adalah dengan model pendidikan inklusi, “Dengan pendidikan inklusi,  orang tua tidak merasa terlalu malu. Anak-anak tetap  bisa bersekolah di sekolah umum seperti biasanya, walau mendapatkan perlakuan khusus,” ujarnya.

Menurut Fadiah Machmud, Spesialis Pengembangan Sekolah USAID PRIORITAS yang juga hadir pada pertemuan sosialisasi rencana study inklusi di kantor Bappeda Bantaeng Tersebut, implementasi sekolah inklusi membutuhkan guru-guru yang cakap  menangani anak-anak berkebutuhan khusus tersebut. “Setelah study dilakukan, salah satu yang mendesak dilakukan adalah melatih para guru agar bisa menangani para murid berkebutuhan khusus secara professional dan manusiawi,” ujarnya.  Study rencananya akan dilangsungkan pada bulan Maret 2016.  (Mustajib/USAID Prioritas)

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *