oleh

Indonesia dan 16 Negara Lain Teken Komitmen Energi ‘Bersih’

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said bersama Direktur Eksekutif Internasional Energy Agency Fatih Birol saat menghadiri Bali Clean Energy Forum (BCEF) 2016 di Bali, Kamis (11/2). (CNN Indonesia/Safyra Primadhyta)
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said bersama Direktur Eksekutif Internasional Energy Agency Fatih Birol saat menghadiri Bali Clean Energy Forum (BCEF) 2016 di Bali, Kamis (11/2). (CNN Indonesia/Safyra Primadhyta)

JAKARTA I Sebanyak 17 dari 26 perwakilan negara yang menghadiri pertemuan setingkat menteri di gelaran Bali Clean Energy Forum (BCEF) 2016 meneken deklarasi komitmen pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT).

Adapun 17 negara yang menandatangani Deklarasi Setingkat Menteri di BCEF antara lain Indonesia, Italy, Swiss, India, Hungaria, Denmark, Australia, Perancis, Selandia Baru, Timor Leste, Amerika Serikat, Papua Nugini, Swedia, Finlandia, Spanyol, Malaysia dan Srilanka.

“Inti dari deklarasi ini adalah bagaimana kita bersama-sama bekerja untuk memperkuat usaha-usaha membangun energi baru, energi bersih, dan energi terbarukan,” tutur Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said saat ditemui di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Bali, Kamis (11/2) petang.

Sudirman mengungkapkan meskipun deklarasi tersebut tidak mengikat namun hal itu menunjukan komitmen suatu negara untuk mengembangkan dan mempercepat transisi EBT Global.

“Deklarasi ini lebih kepada pernyataan sikap bersama. Kita tidak melihat ada sesuatu yang serius kenapa sembilan negara tidak bisa (ikut tandatangan) barangkali karena secara pertimbangan mungkin belum nyaman dengan teks atau hal lain,” ujarnya.

Partisipasi negara yang menandatangani deklarasi itu akan difasilitasi oleh Clean Energy Center of Excellence (CoE) Indonesia atau Pusat Keunggulan Energi Bersih Indonesia yang diluncurkan pada hari yang sama. CoE merupakan pusat terpadu bagi penelitian, pengembangan hasil penelitian, pendidikan, peningkatan kapasitas pelaksanaan, hingga fasilitasi investasi dalam pengembangan energi bersih dengan tiga menu utama: informasi, teknologi, dan pendanaan.

Sudirman mengapresiasi keberagaman perwakilan negara yang hadir dari mulai negara berkembang hingga negara maju. Hal ini memperkaya diskusi pertukaran informasi dan teknologi antar negara dalam petemuan itu yang merupakan faktor esensial dalam pengembangan EBT.

“Misalnya negara-negara maju seperti Amerika Serikat ada di sana (pertemuan menteri BCEF), Australia ada di sana, EU (Uni Eropa) ada di sana tapi juga negara-negara yang ukurannya kecil dan masih sangat struggling seperti Sri Lanka, Papua Nugini, pacific countries termasuk tetangga kita Timor Leste, dan juga negara Saudi Arabia yang kaya minyak,” ujarnya.

Berdasarkan pertemuan itu, lanjut Sudirman, terlihat bahwa negara peserta memiliki satu pandangan yaitu pengembangan EBT tidak bisa lagi dielakkan. Pasalnya, mereka menyadari bahwa terlalu bergantung pada energi fosil merupakan hal yang berisiko.

“Berisiko karena fosil akan hasil sementara kalau kita tidak membangun maka kapasitas mengelola atau mencukupi energi dengan renewable akan tidak kuat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Sudirman menegaskan keinginan untuk mengambil posisi terdepan sebagai pendorong transisi dari energi fosil ke EBT di dunia. Bagi Sudirman, rendahnya harga minyak saat ini merupakan hal temporer, sehingga Indonesia akan tetap konsisten dalam mengembangkan energi terbarukan.

“Saya ingin menyampaikan sekali lagi, Indonesia ingin memproklamirkan diri, mengambil posisi memimpin, posisi terdepan untuk menjadi pendorong untuk transisi atau revolusi dari (energi) fosil menuju ke renewable energy,” ujarnya. (CNN)

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *