oleh

Hendak Berobat Dada Pasien Malah Terbakar

EMPAT LAWANG I Ishar (64), Warga Desa Kota Gading, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang, yang datang ke RSUD Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan guna mengobati penyakit usus turun yang dideritanya. Namun, ironis bukannya mendapatkan penyembuhan Ishar malah mendapat penyakit baru. Bagian dadanya melepuh karena terbakar yang disebabkan oleh alat Elektrokardiografi (EKG).

Informasi dihimpun, pasien Ishar mendatangi RSUD Tebing Tinggi, Rabu (10/2/2016) siang. Ia ingin mengobati sakit usus turun yang dideritannya dengan cara di operasi, setelah di bawa ke ruang Sal Penyakit Dalam, jantungnya diperiksa terlebih dahulu.

Pihak RSUD memeriksanya menggunakan alat EKG atau alat kesehatan yang berfungsi mengetahui kinerja organ jantung seseorang. Ini dilakukan untuk memastikan apakah pasien menderita penyakit jantung atau tidak. Jika tidak ada, operasi usus turun bisa dilakukan.

Namun setelah alat EKG ditempel di bagian dada pasien, alat mengalami kerusakan lalu terbakar dan menyebabkan bagian dada kirinya terbakar. “Alat itu ditempel di dada kiri dan kanan. Namun alatnya macet-macet dan pasien meraskan panas di dadanya. Perawat sudah dikasih tahu, tapi masih sibuk memperbaiki alat itu,” ujar narasumber yang enggan disebut namanya.

Dikatakannya, ada lima titik luka bakar yang diderita pasien, semuanya di bagian dada kiri. Karena kejadian itu, proses operasi ditunda. “Sebelah kanan tidak apa-apa. Operasi sempat ditunda kemarin,” bebernya.

Plt Direktur RSUD Tebing Tinggi, Mardiana Sudeby didampingi Kabid Pelayanan, Seragi Saur membenarkan adanya kejadian tersebut. Alat EKG tersebut mengalami kerusakan dan saat ini sudah tidak digunakan, namun untuk penyebab pasti kerusakan alat tersebut dirinya tidak tahu.

“Kemungkinan konslet atau teganggan listrik yang tidak stabil karena sering byarpet,” ujarnya.

Ditambahkannya, dada pasien hanya melepuh, tidak mempengaruhi bagian lain dan sekarang sudah ditanggulangi.

Dijelaskan Saur, alat EKG tersebut sudah sekitar 3 atau 4 tahun dan selama itu belum pernah dilakukan kalibrasi atau disetel ulang. Dulu pernah dianggarkan untuk dikalibrasi namun anggaranya dipangkas, tapi sekarang sudah dianggarkan lagi. (38)

“Alat EKG saat ini ada tiga, satu rusak dan dua lagi masih bagus karena baru pengadaan akhir tahun lalu. Dengan adanya kejadian ini, kami akan lebih teliti menggunakan alat-alat dan kinerja SDM akan lebih ditingkatkan,” pungkasnya. (Ridi)

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *