oleh

Dua Warga OKU Hilang Diduga Jadi Korban Gafatar

BATURAJA I Tak hanya pernah membentuk suatu kelompok di OKU, pimpinan cabang  Ormas Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) untuk OKU Arifin  juga telah membawa salah satu korban untuk dijadikan pengikut Ormas yang telah ditentang oleh MUI itu.

Kepala Desa Air Paoh Thomson, saat dijumpai sejumlah wartawan menyatakan, Gafatar untuk Kabupaten OKU Arifin sempat tinggal di desa yang ia pimpin. Bahkan, dari kontarakannya tersebut, Arifin sempat membuka praktik pengobatang gratis bagi warga desa air paoh Kecamatan Baturaja timur.

“Yang jelas saat itu, Aripin ini pulang dari Kalimantan atau Pekanbaru dan pernah ngentrak di lorong Sepupu belakang Indomart simpang empat Air Paoh,” kata Tomson

Tomson menceritakan, dari hasil praktik pengobataaan   gratis tersebt, setiap penyakit warga yang data serta isi dompet pasien tersebut diketahui Arifin.”

“Kalau selesai mengobati, dan ditanya oleh sang pasien berapa uang untuk membayar jasa pengobatan, orang tersebut selalu menolak. Namun menunjukan nomor rekening dan meminta pasien untuk mentransfer uang sebesar 25 juta,’lanjut Thomson.

Pendiri dan Anggota Gafatar Kabupaten OKU. Fhoto : ist
Pendiri dan Anggota Gafatar Kabupaten OKU. Fhoto : ist


Ternyata, selain membuka praktik pengobatan Gratis, Arifin pernah menikahi salah satu warga Desa Air Paoh bernama Wasrih (50) yang juga kini telah dibawa oleh arifin untuk menjadi salah satu anggota gafatar. Namun sayangnya, dirinya tidak mengetahui persis kapan Warsih menikah dengan Arifin, tapi Thomson membenarkan jika Arifin adalah pimpinan Gafatar untuk OKU

“Kita pernah menyelidiki dan bahkan mengutus orang untuk menggali informasi dengan saudara Arifin. Karena Arifin ini kesehariannya hanya membuka upahan asahan batu akik, dan juga jika ditanya masalah keagamaan, Arifin ini tidak pernah menjawab pertanyaan tersebut,”terangnya

Ditambahkan Thomson, kemudian sekitar bulan Juni-oktober, sejuumlah orang yang dipimpin Arifin, maupun Arifin sendiri menghilang begitu saja, termasuk Wasrih warga air paoh yang turut hilang hingga sekarang tidak diketahui keberadaannya

Kapolres OKU AKBP Dover Christian SIk mH melalui Kabag ops Kompol Nasution saat dikonfirmasi melalui jaringan salularnya mengatakan pihaknya melum mengetahui tentang Wasrih. Namun Pihaknya akan segera melakukan penyelidikan terkait hal tersebut.

“Termasuk yang katanya salah satu korbannya mahasiswa Unbara yang ikut menghilang. Kita masih mengumpulkan datanya, kita akan berikan informasi kembali jika sudah ada hasinya,”pungkas Nasution

Baca Juga : Ternyata-Ormas-Gafatar-Pernah-Terbentuk-di-Kabupaten-OKU

Sementara itu, Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) pada tahun lalu sudah membentuk pengurus ditingkat kabupaten yang berada di 8 Kabupaten di Sumsel, diantaranya Palembang, Banyuasin, Ogan Ilir, Musi Banyuasin, OKI, Prabumulih, OKU dan Lubuk Linggau, bahkan di kabupaten OKU sendiri sudah pernah terbentuk kepengurusan yang dipimpin oleh Arifin dan sempat menemui Bupati OKU saat itu H Kuryana Azis untuk Audiensi pada 24 desember 2014.

Namun ada beberapa kegiatan yang akan dilakukan oleh gerakan pimpinan Ahmad Mushadeq ini yang berhasil dibubarkan oleh petugas kepolisian dan TNI, seperti yang diungkapkan oleh Dandim 0403/OKU Feksy Dimunry Angie SE melalui Komandan Koramil Kota Baturaja Kapten Inf Surasa kepada wartawan Kamis (14/1/2016).

Dikatakan surasa, ada beberapa kegiatan yang pernah dibubarkan olehnya diantaranya Bhakti sosial yang digelar di kampung cemara kelurahan kemalaraja, dan didesa Pusar kecamatan baturaja Barat.

“Kita sudah mendapat informasi tentang Organisasi Gafatar ini, pada saat itu memang kita diminta untuk memantau seluruh kegiatannya karena Organisasi tersebut ilegal,” ujar Surasa.

Surasa juga menambahkan, Penolakan atas keberadaan GAFATAR didasarkan pada fakta bahwa ormas tersebut ditengarai merupakan penjelmaan dari Komunitas Millah Abraham (KOMAR) dimana keberadaan ajaran tersebut oleh MUI dinilai sebagai ajaran sesat yang menganut aliran Al Qiyadah Al Islamiyah yang telah difatwakan sesat dan haram oleh MUI.

“Ciri-ciri  aliran tersebut memperpadukan ajaran Islam, Yahudi dan Kristen, orang lain yang belum dibaiat menjadi anggota adalah kafir, melakukan sholat malam dan tidak sholat 5 waktu, tidak puasa Ramadhan, saat menjadi anggota berganti nama sesuai nama perjanjian,” Jelas Surasa

Sementara ciri lain yang mencolok pada organisasi gafatar ini lanjut Surasa terletak pada Salam pembuka dan penutup internal yang mengguanakan kata Damai Sejahtera Nusantara, bukan seperti Salam pembuka dan penutup eksternal seperti umumnya seperti Assalamualaikum wr wb pada agama islam, atau Damai Sejahtera pada agama kristen,  Om Santi Santi, Om, Shalom pada agama Budha.

Untuk itu, Surasa mengatakan saat ini pihaknya tengah meburu keberadaan gafatar yang pernah ada di OKU, termasuk adanya isu beberapa orang warga OKU yang sudah bergabung dengan gerakan tersebut, selain itu, Ia juga menambahkan agar masyarakat khusunya kepala desa agar memantau kegiatan setiap oragnisasi yang dilakukan dilingkungan masing-masing, segera laporkan jika terdapat kegiatan yang menyimpang serta membubarkannya jika tidak memiliki izin dari pemerintah setempat.

“Kalau memang ada kegiatan yang menyimpang, segera bubarkan, jangan sampai gerangan organisasi ilegal yang dapat mengancam negeri ini tumbuh di OKU, kita akan selidiki isu tentang adanya masyarakat yang telah bergabung,” Pungkas Surasa.(deni A. Saputra)

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *