oleh

Ternyata Ormas Gafatar Pernah Terbentuk di Kabupaten OKU

BATURAJA I Pergerakan Ormas Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang saat ini menjadi isu hangat diseluruh Indonesia, termasuk di OKU. Ternyata pernah ada di Kabupaten OKU sekitar setahun yang lalu tepatnya Januari 2015, Ormas yang katanya bergerak dibidang sosial ini pernah terbentuk di OKU, namun baru dalam bentuk kelompok kecil.

Dengan markas yang berpindah-pindah, anggota Gafatar mencoba untuk melegalkan organisasi tersebut. Namun karena mendapat intruksi dari pusat, baik Kesbangpol, Kodim 0403 dalam hal ini Koramil kota, serta pihak kepolisian langsung melakukan penindakan dengan melakukan penjegalan terhadap ormas yang dahulunya diketuai oleh AF.

Gafatar ormas yang dibentuk oleh Moshadeq yang mengaku nabi tersebut, biasanya merekrut kaum intelektual. Dalam perekrutannya setiap calon anggota harus mengucapkan janji dan harus ditepati.

Dandim 0403 OKU Let Inf Feksy Dimunry Angi melalui Komandan Koramil kota Kapten Inf Surasa saat dikonfirmasi (13/01/2016) membenarkan tahun lalu pernah melakukan penyetopan seluruh kegiatan dan melaksanakan perekrutan anggota di OKU.

“Tahun 2015 lalu, memang ada ormas yang menamakan Gafatar, mau meminta izin untuk melakukan kerjabakti, pengobatan gratis serta melakukan perekrutan anggota di Desa Pusar. Saat itu 4 orang empat  dipimpin oleh saudara AF dan anggota Gafatar dari luar daerah,” terang Kapten Surasa

Dikatakan Surasa, Gafatar ini termasuk ajaran yang menggabungkan aliran antara Yahudi, Kristen dan Islam. Jika ada warga yang ingin bergabung harus ada proses pembaia’tan. Dan jika warga tersebut dinyatakan sah bergabung dengan Gafatar, maka warga tersebut akan berganti nama yang telah ditentukan oleh ketuanya.

Hal serupa dikatakan kapolres OKU AKBP Dover Christian SIk MH melalui Kabag Ops Kompol MP Nasution , kata Nasution memang benar tahun lalu pihaknya sempat melakukan penyelidikan terhadap organisasi tersebut. Namun setelah diketahui dan adanya perintah dari pusat jika organisasi tersebut dalam pengawasan maka kita langsung melakukan penjegalan.

“Setelah itu, mungkin mereka merasa tidak diizinkan untuk melaksanakan seluruh kegiatan kelompok mereka tidak pernah muncul lagi,”terang Nasution

Lebih lanjut Nasution mengatakan, karena isu Gafatar kiembali mencuat, pihaknya akan menurunkan tim untuk melakukan penyelidikan siapa tahu kelompok tersebut melakukan pergerakan secara diam-diam.

“Kita menghimbau kepada setiap masyarakat OKU agar selalu berhati-hati jika ingin masuk kedalam sebuah kelompok atau organisasi. Telitilah, jika organisasi yang diikuti menganut kepercayaan yang melenceng dari agama, segera alporkan,”pungkas Nasution

Sementara itu Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), Baharudin mengatakan jika Organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), ternyata pernah mencoba mendaftarkan diri agar dapat memperluas gerakannya di OKU. Namun mereka tak pernah mendapatkan izin tersebut.

“Usaha mereka untuk mendaftar memang ada. Namun tidak diizinkan,” ujar Baharudin.

Ia menjelaskan, usaha mendapatkan izin tersebut dilakukan sekitar tahun 2014 lalu. Dimana kala itu ada satu orang bernama Arifin, berasal dari Muba datang ke kantornya untuk mendaftarkan organisasinya (Gafatar). Oleh karena sebelumnya pihaknya sudah mendapat informasi dan bahkan sudah pernah ditayangkan di media bahwa organisasi tersebut bermasalah, maka pihaknya menolaknya. “Jadi waktu itu kita menolak keinginan dia,” imbuh dia.

Usahanya tak berhenti sampai disitu, agar mulus beber Bahar lagi, orang itu sampai-sampai mendatangkan pengurus wilayah untuk mengurus izin tersebut. “Oleh karena tidak terdaftar di Provinsi, SKT (surat keterangan terdaftar) tidak kita keluarkan. Kita juga sudah mengadakan koordinasi dengan pihak-pihak terkait, bahkan sepakat dengan Kominda untuk menolak kehadiran orang itu. Ya, walaupun dia berupaya mendesak kami dengan pengurus wilayah, kami tolak. Apalagi dia tidak ber-KTP sini,”jels Bahar.

Lebih lanjut dijelaskan Bahar, bahwa modus mereka untuk mendekati masyarakat awalnya dengan cara pengobatan herbal. Itu dilakukan untuk menutupi ajaran menyimpangnya. Juga membangun opini dengan aktif menggelar kegiatan sosial. “Ormas ini sifatnya kucing-kucingan. Awalnya masalah keyakinan tapi dapat pertentangan, sehingga mereka berupaya merekrut anggota menggunakan pengobatan herbal,” bebernya.

Dan itu kata Baharudin, hampir terjadi di Desa Pusar Kecamatan Baturaja Barat. Bahkan disana, mereka juga pernah mau meminta tenaga narasumber dari Dinkes.

“Karena kita juga pernah rapat, maka Dinkes melapor ke kita. Kita pun menghimbau agar jangan menghadiri. Kita juga meminta pengobatan disitu ditutup. Jadi begitulah awal mereka untuk merekrut anggota,” jelasnya.

Jadi sambung Bahar, walaupun berganti baju, ya ajaran itu yang dibawa.

“Januari 2015 ini kan dibekukan di pusat. Tapi mereka mengangkat ke MK. Nah, kita khawatir mereka buat masalah di OKU,” tandasnya. (Deni A. Saputra)

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *