oleh

511 Kabupaten Kota di Indonesia Merupakan Daerah Endemik Demam Berdarah

JAKARTA I Data dari Kementerian Kesehatan menyebutkan sebanyak 511 kabupaten/kota di Indonesia berpotensi menjadi tempat berkembangnya demam berdarah. Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Mohamad Subuh mengatakan hal ini berarti tidak ada satu pun daerah Indonesia yang bebas terhadap endemisitas demam berdarah.

Dari lima ratus kabupaten/kota yang berpotensi, hampir 90 persen diantaranya merupakan daerah endemik. Jakarta sebagai ibukota negara pun ada di dalamnya.

“Yang endemik ada 424 kabupaten kota. Jabodetabek seluruhnya endemik demam berdarah,” kata Subuh dalam acara jumpa pers tentang situasi DBD di Indonesia yang diselenggarakan di kompleks Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Selasa (12/1/2016).

Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) menjadi salah satu daerah endemik dikarenakan kondisi lingkungan yang memang kurang kondusif. Subuh menyebutkan salah satu faktor yang menyebabkan berkembangnya penyakit tersebut adalah sistem drainase yang buruk.

Banyaknya saluran air yang mampet dan tidak bisa mengalir dengan baik akan menyebabkan air tergenang dan menyebabkan jentik-jentik nyamuk Aedes spp bisa berkembang biak dengan baik.

Perubahan dan manipulasi lingkungan yang terjadi karena urbanisasi dan pembangunan tempat pemukiman baru juga menjadi faktor risiko. Banyaknya galian bekas proyek pembangunan atau galian kabel yang tidak tertutup dengan sempurna juga bisa menjadi faktor penyebab nyamuk mudah berkembang biak.

Untuk tahun 2015, jumlah kasus DBD cenderung mengalami penurunan dari tahun 2014. Pada Oktober-Desember 2015, jumlah kasus DBD menurun menjadi 23.882 kasus. Padahal tahun sebelumnya mencapai 7.244 kasus.

Angka kematian pun juga cenderung mengalami penurunan. Pada 2014 jumlah kematian akibat DBD mencapai angka 197 jiwa sedangkan pada 2015 jumlah kematian dalam rentang waktu tiga bulan tersebut hanya mencapai angka 100 jiwa.

Subuh mengatakan, kasus penyakit DBD setiap tahunnya mengalami fluktuasi. Pada 2010 jumlah kasusnya sempat mencapai angka yang tinggi namun pada tahun berikutnya jumlahnya semakin menurun.

Begitu juga dengan angka kematian. Jumlah kematian akibat DBD pada tahun 1968 yang sempat menyentuh angka 75 persen, lama kelamaan turun hingga mencapai angka di bawah satu persen.

“Hal ini berhubungan dengan kamampuan SDM (Sumber Daya Manusia), sarana, prasarana, kualitas pelayanan dari sisi bagaimana bisa mengendalikan angka kematian,” ujar Subuh.

Masyarakat Berpartisipasi Aktif

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi angka DBD adalah dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Subuh menilai cara ini lebih efektif karena pemberantasan dimulai saat nyamuk belum berkembang.

“PSN bisa dilakukan dengan kerja bakti tiap minggu karena siklus hidup nyamuk itu delapan hari. Malam ke-delapan dia berubah menjadi dewasa, hari kesembilan dia terbang ke mana-mana,” kata Subuh. “Tidak ada cara lain, itu yang paling efektif dan murah.”

Mojokerto, merupakan daerah yang berhasil menerapkan PSN dengan baik. Pada 2015 lalu, dari 38 kabupaten/kota yang ada di Jawa Timur, 37 kabupaten/kota melaporkan daerahnya mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD kecuali Mojokerto.

“Padahal Mojokerto dikepung kota lain tapi tidak ada KLB. Hanya dilaporkan kasus demam berdarah tapi belum KLB,” ujarnya.

Sebuah daerah digolongkan KLB DBD jika sebuah daerah yang belum pernah terkena DBD timbul kasus DBD, jumlah kasus baru dalam periode tertentu meningkat dua kali lebih dibandingkan angka sebelumnya, atau angka kematian dalam kurun waktu tertentu meningkat 50 persen atau lebih dibandingkan periode sebelumnya.

Jika sebuah daerah telah ditetapkan sebagai KLB DBD, pemerintah akan memberikan dana penanggulangan sebelum kasus DBD mewabah di daerah tersebut.

Selain PSN, hal lain yang bisa dilakukan untuk mencegah demam berdarah adalah dengan melakukan fogging focus. Fogging dapat dilakukan ketika ada lebih dari satu kasus DBD di lokasi yang sama dalam radius 100 meter, ada penularan, dan angka bebas jentik kurang dari 95 persen.

Fogging focus dimaksudkan untuk membunuh nyamuk Aedes spp dewasa tetapi tidak efektif membunuh larva,” kata Subuh.

Jika kondisi tersebut sudah terjadi di lingkungan sekitar Anda namun belum dilakukan fogging, Anda dapat mendatangi puskesmas setempat untuk meminta fogging di lingkungan Anda.

Agar fogging lebih efektif, masyarakat diimbau untuk melakukan gerakan 3M yaitu menutup bak mandi, menguras bak mandi, dan mengubur barang bekas. Masyarakat juga diminta untuk selalu memantau wadah air yang menjadi tempat nyamuk berkembang biak.(cnnindonesia.com)

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *