oleh

ARTIKEL : WISATA RELIGI DONGKRAK ARUS KUNJUNGAN WISATAWAN KE SUMATERA SELATAN

AUFA SARKOMI SP.,M.Sc Pengamat Pariwisata (Mantan KADISPORABUDPAR OKU)
AUFA SARKOMI SP.,M.Sc
Pengamat Pariwisata (Mantan KADISPORABUDPAR OKU)

Bhineka Tunggal Ika merupakan sebuah manifestasi sekaligus kekuatan bagi Indonesia yang merupakan salah satu negara dengan keragaman budaya dan agama yang hidup saling berdampingan secara harmonis. Sehubungan dengan perintah agama maupun kesadaraan pribadi, banyak dari pemeluk suatu agama melakukan perjalanan religi atau wisata religi baik di dalam negeri atau ke luar negeri. Dengan keragaman agama ini tentunya Indonesia berpotensi untuk mengembangan Wisata Religi sebagai salah satu cara untuk mendongkrak wisatawan mancanegara datang ke Indonesia disamping potensi wisata lainnya.

Melalui wisata religi, selain kita dapat menyegarkan pikiran, kita juga dapat menambah wawasan dan mempertebal keyakinan kepada sang pencipta. Wisata religi dimaknai sebagai kegiatan wisata ke tempat yang memiliki makna khusus bagi umat beragama. Biasanya berupa tempat Ibadah, situs – situs kuno, makam ulama yang memiliki kelebihan. Kelebihan ini terlihat dari struktur arsitektur yang klasik dan unik serta adanya legenda mengenai tempat tersebut.

Siapa yang tidak kenal Masjid Istiqlal ? Masjid yang berlokasi di Jakarta Pusat ini adalah yang terbesar di Asia Tenggara. Kemegahannya menggaet wisatawan dari seluruh dunia. Tak hanya indah, Masjid ini juga bersejarah. Masdjid Istiqlal diprakarsai oleh Presiden RI waktu itu, Ir Soekarno. Pembangunannya dimulai pada 1951 dan rampung pada 1978. Arsiteknya adalah Frederich Silaban, seorang Kristiani kelahiran dari Sumatera Utara. Di masjid ini, wisatawan bisa mengagumi kemegahan arsitektur modern dengan oramen geometris. Struktur baja yang dominan memberikan kesan tegas dan megah. Di dalamnya, para turis bisa merasakan atmosfer Islami lewat kegiatan-kegiatan ibadah. Saat bulan Ramadan, Masjid Istiqlal wajib didatangi saat sahur maupun pada saat berbuka puasa.

Kemudian pada bagian lain salah satu destinasi paling terkenal di Bali, sebagai tempat beribadah bagi umat Hindu, yaitu Pura Tanah Lot yang berlokasi di Kabupaten Tabanan-Bali, Pura Tanah Lot ini tidak hanya bernuansa religi tapi juga punya panorama yang sangat indah. Ada 2 pura yang bertengger di atas batu besar, menjadi tempat pemujaan bagi dewa-dewa penjaga lautan. Pada hari biasa saja, Pura Tanah Lot selalu dibanjiri wisatawan. Dan banyak lagi objek wisata religi lainnya di Indonesia seperti : Candi Borobudur, Masdjid Agung Demak, Goa Maria, Makam Wali Songo, serta Pesantren Darul Tauhid di Bandung dan sebagainya.

Selain di pulau jawa,dan provinsi-provinsi lainnya di Indonesia,  Provinsi Sumatera Selatan memiliki potensi wisata religi yang cukup banyak. Diantaranya Masdjid agung, Pulau Kemaro dengan keindahan dan keunikan Pagodanya, Bukit Si Guntang, Masdjid Ki Merogan, Masdjid Lawang Kidul, Makam Kawah Tengkurep, Makam Ki Gede Ing Suro, Makam Candi Walang, Kampung Arab Al-Munawar,  Kelenteng “ Soei Goiat Kiong “, Monumen Silk Air dan Masdjid Chen Ho yang dibangun untuk mengenang perjalanan Pangeran Chen Ho yang pernah mengunjungi Palembang serta satu lagi aktivitas keagamaan yang sudah sangat terkenal di kalangan ulama di Sumsel yaitu kegiatan “Ziarah Qubro” dan lain-lain.

“Ziarah Qubro” adalah kegiatan ritual keagamaan yang selalu dilakukan oleh para ulama beserta para penganut agama Islam di Sumatera Selatan khususnya yang berdomisili di Palembang, bahkan juga sering beberapa peziarah dari provinsi tetangga dan negara-negara tetangga lainnya seperti halnya dari  Malaysia, Thailand, dan Brunai Darusalam bahkan dari Negeri Yaman ikut serta dalam acara kegiatan keagamaan ini. Kehadiran para peziarah dari provinsi tetangga dan negara tetangga ini disamping semakin mensemarakkan kegiatan ini juga sekaligus mendongkrak arus kunjungan wisatawan Religi ke Sumatera Selatan.

Pada bagian lain,  objek wisata religi Pulau Kemaro, yang terletak di aliran sungai musi tak jauh dari kota palembang juga menjadi salah satu objek wisata religi yang sangat terkenal. Walaupun tidak begitu luas pulau ini mempunyai sisi istimewa bagi warga kota palembang khususnya masyarakat tiong-hoa, kondisi alam yang masih asri dan rimbun serta  sebuah cagar budaya berupa  tempat peribadatan masyarakat Thiong-hoa, seperti vihara  Hok Tjing Rio serta pagoda bertingkat 8 yang bernama “ Pak Khua Thak “ yang artinya Pagoda yang memiliki 8 lantai dan 8 sisi, menjadikan pulau kemaro ini semakin ramai dikunjungi oleh wisatawan baik wisatawan domestik maupun wisatawan manca negara terutama pada saat hari-hari besar umat budha, dan perayaan besar bagi warga tiong-hoa seperti imlek serta cap go meh. Dan menariknya lagi di Pulau Kemaro ini terdapat  sebuah batu prasasti, yang bertuliskan cerita legenda masyarakat tentang asal muasal terbentuknya pulau kemaro, sepenggal cerita legenda tersebut mengatakan: “Dahulu kala ada seorang gadis bernama Siti Fatima yang mencintai pemuda dari dataran Tiongkok yang bernama Tan Bun Aan, pada saat itu sang gadis mengisyaratkan mahar dengan meminta 9 guci berisi emas, persyaratan pun diterima, dan pangeran Tan Bun Aan menyuruh utusannya untuk meminta kepada ayahnya mengirim guci yang berisi mahar yang diminta,

Dalam perjalan dari Tiongkok ke Palembang, utusan Tan Bun Aan menutup 9 guci berisi emas dengan tumpukan sayuran sawi asin sebagai penyamaran dari penglihatan para bajak laut yang sering melakukan perompakan bagi kapal-kapal yg melintas di perairan sungai musi. Ketika tiba pangeran Tan Bun Aanpun kecewa karena 9 guci emas yang diminta hanya berupa tumpukan sayuran sawi asin tanpa memeriksa terlebih dahulu isi dari guci-guci itu, karena kecewa ia melemparkan semuanya guci ke sungai musi,dan  salah satu guci dari sembilan guci yang dilemparkan pecah karena membentur dinding kapal,  kemudian berhamburanlah keping-keping emas yang ada dalam guci tersebut. Setelah ia tahu bahwa yang dilemparkan itu adalah guci yang berisikan emas perhiasan sesuai apa yang ia minta dari ayahnya, pangeran Tan Bun Aan pun malu dan ia menceburkan dirinya ke sungai untuk membawa kembali  guci – guci yang telah terlanjur ditenggelamkannya ke sungai musi, namun sayang ia tak kembali lagi. Ketika terdengar berita peristiwa tersebut oleh Siti Fatima,  iapun ikut menceburkan diri bersama kekasihnya pangeran Tan Bun An. namun mereka berdua tak kunjung kembali. Dan menurut legendanya sebelum Siti Fatimah terjun ke sungai, ia sempat berucap “ apabila kami tidak kembali dan kalian menemukan adanya sebuah daratan yang mengapung di sungai musi ini , maka itu adalah kuburan kami “  dan anehnya walaupun Sungai Musi dalam keadaan pasang atau meluap bahkan beberapa daratan di Kota Palembang terendam banjir, tapi Pulau Kemaro tetap kering dan bagaikan mengapung diatas sungai musi. Untuk mengingat peristiwa tersebut maka dibangunlah pagoda dan vihara di pulau kemaro sebagai tempat ibadah sekaligus ziarah bagi para pengunjung. Keunikan lain yang terdapat di pulau kemaro ini, pada saat perayaan imlek atau cap go meh di pulau ini tidak diperkenankan memotong hewan “ Babi ” dan akhirnya diganti dengan hewan “Kambing” untuk menghargai Siti Fatimah yang beragama Muslim.

Berwisata ke palembang tentunya tak lengkap jika tidak mengunjungi tempat ini, dan selama menyusuri sungai musi para wisatawan akan dapat menikmati pemandangan keunikan kehidupan masyarakat pinggiran sungai musi yang tinggal diatas rumah-rumah rakit serta panorama yang takkan terlupakan sambil mengabadikan Jembatan Ampera yang mempersona dari aliran sungai musi.

Untuk menelusuri pulau ini para peziarah atau wisatawan dapat menggunakan kapal perahu tradisional, yang bernama ketek, atau perahu Naga,  dan perjalanan biasanya dapat dimulai dari dermaga yang ada di benteng kuto besak dengan waktu tempuh hanya 30 menit saja melalui jalur sungai, dengan harga terjangkau sesuai dengan yang telah tercantum pada papan harga yang terletak di dermaga, sehingga pengunjung tidak perlu merasa khawatir terhadap harga penggunaan jasa angkutan ke pulau kemaro.

Melihat dari potensi objek wisata religi yang cukup banyak di Sumatera Selatan seperti yang penulis sebutkan di atas khususnya di kota  Palembang, tidak menutup kemungkinan apabila dikemas dan dikelola secara profesional dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat dan insan-insan pariwisata seperti travel agent dan stakeholders lainnya akan menjadikan kota Palembang semakin ramai dikunjungi oleh wisatawan manca negara melalui aktivitas wisata religi. Apalagi sebahagian objek wisata religi tersebut erat kaitannya dengan sejarah; seperi bukit siguntang yang erat kaitannya dengan Parameswara sebagai pendiri Negeri Melaka-Malaysia, Monumen Silk Air yang erat kaitannya dengan peristiwa jatuhnya pesawat Silk Air di perairan Banyuasin, ziarah tabur bunga di Jembatan AMPERA bagi keturunan bangsa Korea guna mengenang warga Korea yang gugur  dalam masa Romusa yang ikut terlibat ketika membangun jembatan AMPERA pada   zaman penjajahan Jepang  . Bahkan baru-baru ini ditemukannya sebuah sumur  tua milik masyarakat di desa Lubuk Rukam Kecamatan Peninjauan Kabupaten OKU yang memiliki sebuah fenomena  alam dimana dari dalam sumur tersebut sayub-sayub terdengar seperti sekelompok orang yang sedang berzikir. Fenomena ini berdampak meningkatnya arus kunjungan masyarakat dari berbagai daerah bahkan dari provinsi lain untuk mendengarkan langsung suara zikir yang terdengar dari dasar sumur tersebut. Tingginya minat masyarakat yang  datang ke desa tersebut secara tidak langsung memberikan keuntungan bagi sebagian masyarakat desa Lubuk Rukam baik dari sisi perekonomian bahkan membuat desa Lubuk Rukam menjadi lebih dikenal. Kemudian sebagaimana kita ketahui banyak negara-negara di dunia ini walaupun mereka tidak memiliki objek wisata alam dengan keindahan pantai dan hijaunya lembah dan pegunungan tetapi mereka mampu meningkatkan arus kunjungan wisatawan ke negara mereka melalui aktivitas wisata religi.

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *