oleh

Siswa SD di Makassar ini Buat Perpustakaan dan Mengelolanya Sendiri

1d2839a9-9f79-4f9c-9d2d-91312b2f36db

JAKARTA | SDN Kompleks IKIP I Makassar ini punya cara sendiri untuk membuat siswa-siswinya makin cinta buku. Muridnya diajari untuk membuat perpustakaan mini dan mengelolanya sendiri.

Adalah Alphian Sahruddin, guru kelas IV B di SD tersebut yang mendorong anak-anak didiknya secara berkelompok membuat perpustakaan mini sendiri. Perpustakaan mini tersebut berupa rak-rak buku yang dibuat dari berbagai bahan bekas seperti kayu, kertas karton, gabus dan lain-lain.

Setelah jadi, kelompok siswa yang membuatnya itu sendiri yang juga  mengelolanya, mulai dari pengadaan, peminjaman dan pengembalian buku oleh siswa yang lain.

“Dengan membuat perpustakaan mini sendiri dan mengelola buku-bukunya sendiri, bukan saja mereka menjadi lebih senang membaca buku. Mereka juga menjadi  penuh tanggung jawab  menyediakan buku  yang bisa menarik siswa lain  membaca buku dari koleksi perpustakaan yang mereka bangun sendiri,” ujar Alphian dalam siaran pers USAID Prioritas, Jumat (4/12/2015).

Rak-rak buku mini tersebut memiliki tinggi 1 meter dan lebar 60 cm. Buku koleksi siswa yang dibawa dari rumah dan diletakkan di rak tersebut  juga menarik-menarik seperti buku cerita, majalah anak-anak, buku pelajaran bergambar dan sebagainya.

Karena terkait dengan pembelajaran, anak-anak juga ditugaskan membuat prosedur teks terkait bahan dan cara membuat masing-masing rak buku perpustakaan mininya. Salah satu kelompok dari empat kelompok siswa yang dibentuk di kelas IV B menuliskan bahannya seperti: tripleks bekas, paku, kertas koran, isolasi hitam, lem, roda 4 buah, bahan untuk tempat pensil, bambu, kertas warna warni, balok kecil, lidi, gabus putih bekas, dan dus TV.

Sedangkan cara pembuatannya ditulisnya sebagai berikut, tripleks dipotong sesuai ukuran rak yang diinginkan; disusun tiga bagian, kemudian dipaku sisi dan ujungnya agar kuat, setelah terbentuk raknya lalu dibungkus dengan kertas koran bekas, sisinya di beri isolasi hitam, agar tidak kelihatan; setelah rak buku selesai, bawahnya di beri roda 4 buah, agar mudah dipindah-pindahkan; untuk mempercantik rak bukunya, dibuatkan tempat pensil dari bambu.

Bambu tersebut dipotong jadi 3 bagian, panjangnya berbeda-beda, setelah itu direkatkan pada sebuah balok kecil. Agar menarik, bambu kemudian ditempeli dengan kertas warna warni, ditambahkan sedikit hiasan bunga dari lidi diberi lem, kemudian ditempel dengan cabikan gabus bekas putih.

“Bahan-bahan yang dipakai adalah bahan bekas murah yang biasa jadi sampah. Aktivitas ini telah menumbuhkan ide kreatif anak-anak mendaur ulang bahan bekas menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujar Alphian.

Karena diberi roda, perpustakaan mini tersebut bisa didorong dipindah-dipindahkan oleh siswa. Saat istirahat perpustakaan mini tersebut ditaruh di luar kelas dan anak-anak memilih buku dan membaca mengitarinya. Karena satu kelas dibagi empat kelompok, terdapat empat perpustakaan mini yang masing-masing juga memiliki sekretaris yang mencatat buku-buku yang dipinjam dan dikembalikan. Kelompok juga bertanggung jawab mengganti buku-buku yang sudah sering dibaca. Alhasil, kehadiran perpustakaan mini ini menambah minat siswa  untuk membaca.

“Saya semakin senang membaca buku, karena buku-bukunya dan rak bukunya juga menarik,” kata Syafila Firda Nafisa, salah satu siswa kelas IV B yang satu minggu rutin menghabiskan tiga buku untuk dibaca.

Siswa dan orang tua siswa menjadi lebih sering menyumbangkan atau meminjamkan buku untuk dipajang di perpustakaan mini tersebut. Buku yang dibawa oleh siswa dari rumah rupanya lebih pas dan lebih mengena dengan minat baca mereka.

“Yang terjadi adalah biasanya para siswa saling menginformasikan antar sesama teman tentang buku yang mereka pajang di perpustakaan mini atau sudut baca mereka, sehingga siswa yang lain tertarik mencari buku tersebut. Terjadi saling meminjam buku dan perlombaaan alami untuk memperbanyak buku dan membuat koleksinya lebih menarik,” ujar Alphian.

Pembuatan dan pengelolaan perpustakaan mini oleh siswa ini merupakan ide kreatif Alphian dalam pembelajaran IPS tentang pengelolaan sampah. Tidak hanya berhenti mengajarkan tentang pengelolaan sampah, dia juga secara kontekstual  mengaitkan langsung dengan ide praktis peningkatan minat baca.

“Banyak guru yang kekurangan ide pembelajaran. Ide Pak Alphian ini luar biasa, menghubungkan langsung pembelajaran IPS pengelolaan sampah dengan peningkatan minat baca di kelas. Ini sesuatu yang sangat inovatif,” ujar Jamaruddin, Koordinator Provinsi USAID Prioritas Sulawesi Selatan. (andy/detik)

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *